Inforial

Berkarya di Tengah Pandemi (3)

Oleh : Tintus Nanu Belang

 

NIKO bersama 16 orang teman lainnya sedang duduk santai di posko ketika kutemui mereka sore itu. Di sekitar mereka berparkiran 9 unit sepeda motor tiga roda yang siap dipacu bergerak menelusuri lorong-lorong dan gang-gang sempit pemukiman warga di wilayah Kelurahan Sanggeng.

Walau aura mereka terlihat letih, tapi semangat dan kesetiaan mengabdi tetap terpancar dari tingkah dan gerak mereka.

Ambisi seorang makhluk tanpa wujud bernama Corona yang mengancam keselamatan setiap jiwa yang hidup di bumi Manokwari, tak sedikitpun mengurung tanggung jawab mereka untuk terus membersihkan “tubuh” kota.

“Kami trada libur, Adik. Satu hari sa kitorang libur, sampah sudah bisa sampe di kampung-kampung,” katanya dengan sedikit melucu.

Lelucon yang terkesan sederhana tapi sarat makna. Memang demikian. Sehari saja Niko dan kawan-kawannya libur, wajah kota tentu akan sudah “bopeng” dengan sampah yang mencemari kecantikannya.

“Kaka e, kalau Kaka dorang kerja dengan alat pelindung yang terus terbatas seperti ini, nanti Kaka dorang bisa sakit,” kataku mengingatkan layaknya seorang dokter ahli yang menasehati pasiennya.

Dia memandang berkeliling seolah sedang mengawasi orang yang kemungkinan bakal menguping apa yang hendak dibicarakannya.

“Adik, kita mau bagaimana lagi? Mungkin karena ini kami pung tugas dan juga digaji jadi kami siapkan sendiri pelindung diri. Selama ini yang bisa perhatikan nasib dan kerja kami hanya Bapak Lurah saja,” ungkap Niko.

Sejenak, saya tertegun dengan apa yang baru saja saya dengar. Jawaban yang tidak pernah terlintas dalam pikiran saya tentang sesuatu yang seharusnya mereka dapatkan dari pengabdian yang besar bagi “cantik”nya sebuah kampung bernama Manokwari.

Tapi apa mau dikata? Itulah realita yang terjadi.

Di tengah pandemi ini, Niko dan kawan-kawan sebenarnya tak butuh mobil mewah. Tak butuh belanja d supermarket. Tak butuh jalan-jalan ke kota Metropolitan atau ke luar negeri. Mereka tak butuh apartemen bertingkat untuk tempat tinggal mereka.

Mereka hanya butuh minyak tanah di dapur yang selalu ada, mereka hanya butuh kesehatan bagi diri, istri dan anak-anak mereka yang sewaktu-waktu terganggu, mereka hanya butuh melunasi utang di kios tetangga yang kian menumpuk dari hari ke hari, mereka hanya butuh menyelesaikan rumah yang belum kelar dikerjakan, mereka hanya butuh alat pelindung diri yang memadai, mereka butuh vitamin dan suplemen lainnya yang mendukung kerja mereka.

Dalam degupan bercampur harapan itu, Niko kembali meraih sarung tangan bekas yang tadi dilepaskannya karena basah oleh keringat. Sarung tangan itu kembali disarungkan ke tangannya dan bergerak menuju gerobak sampah yang setia menemani karyanya.

“Adik, nanti main-main ke sini lagi ka. Kita cerita-cerita. Saya dan teman-teman senang sekali Adik mau datang dan bergaul dengan kerja kami,” ajak Niko kepadaku.

“Iya Kaka. Saya pasti akan datang ke sini kalau ada kesempatan,” jawabku datar.

Aku bergerak menuju jalan raya. Tukang ojek pertama yang lewat segera kutahan, dan langsung kembali ke rumah.

Dalam perjalanan, pikiranku terus dihantui sejuta bayangan yang tak tentu wujudnya. Saya dikejutkan oleh teguran tukang ojek “Kaka, turun sudah. Kita sudah tiba di rumah ini.”

Ahhhhhh…..PAHLAWAN SAMPAH. Mungkin saat ini kalian menganggap diri kalian tidak disukai oleh orang-orang yang seharusnya mencintai kalian karena pekerjaan yang kalian geluti. Tapi saya yakin, suatu saat nanti, semua orang pasti akan melihatmu dengan mata terbelalak dan memujamu sebagai Pahlawan. Termasuk mereka yang saat ini tidak memberimu masker, sarung tangan, dan suplemen lainnya.

Niko, kepada engkau dan kawan-kawanmu…Jika boleh, kami titipkan letih raga kami ini pada pedulimu bagi kecantikan kota kami..!!!! SELESAI

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.