EKONOMIInforial

Inflasi Papua Barat 2021 Diprediksi Naik Tipis

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Pergerakan inflasi yang terjaga pada level rendah dan stabil menjadi prasyarat pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan. Kondisi ini berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi Provinsi Papua Barat selama tahun 2021 mengalami peningkatan tetapi masih berada pada level yang stabil, dibandingkan inflasi tahun 2020 sebesar 0,71% (year on year/yoy).

“Mudah-mudahan di tahun 2021 ada pergerakan sedikit ya. Ini (inflasi 2020, red) level terendah dalam sejarah Papua Barat,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Barat Rut Eka Trisilowati pada acara bincang-bincang media yang digelar secara virtual, Selasa (26/1/2021).

Perlu diketahui bahwa ketidakstabilan inflasi (terlalu rendah dan tinggi, red) memberikan dampak negatif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Untuk itu pengendalian terhadap inflasi inti (komponen menetap), inflasi administered price (komponen harga yang diatur oleh pemerintah) dan inflasi volatile food (komponen bergejolak) perlu dilakukan agar berjalan sesuai ekspektasi.

Bank Indonesia, kata dia, memperkirakan inflasi inti meningkat seiring membaiknya daya beli masyarakat setelah adanya upaya pemulihan ekonomi yang gencar dilakukan pemerintah. Pemulihan ekonomi ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, menekan angka pengangguran, serta mendorong tingkat konsumsi masyarakat.

“Berbagai stimulus tetap diberikan pemerintah melalui dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) yang diharapkan mendorong dan menjaga daya beli,” jelas Eka.

Kemudian, inflasi administered price juga meningkat karena adanya peningkatan harga cukai rokok sebesar 12,5% yang mulai diberlakukan pada Februari 2021. Kenaikan cukai rokok ini secara bertahap meningkatkan tekanan inflasi pada kelompok administered price. Selain itu, peningkatan mobilitas masyarakat turut andil dalam peningkatan tarif angkutan udara.

“Di tahun 2020, tarif angkutan udara berada pada level terendah sebab permintaan menurun,” tutur mantan Kepala BI Provinsi NTT ini.

Selanjutnya, inflasi volatile food diperkirakan meningkat namun tetap dalam level yang rendah dan stabil. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya tingkat permintaan serta pasokan yang mempengaruhi kelompok inflasi ini. Fenomena La Nina serta kondisi cuaca 2021 dapat memberikan dampak.

Eka menerangkan, proyeksi inflasi tahun 2021 lebih tinggi dari 2020 yaitu dalam range 3% sampai 4% (yoy) dan tetap berada dalam sasaran inflasi nasional yakni 3±1% (yoy).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat merilis tingkat inflasi tahun kalender (Januari sampai Desember 2020) dan tingkat inflasi tahunan (Desember 2019 terhadap Desember 2020) sebesar 0,71%.

Sedangkan inflasi Desember 2020 sebesar 0,99% (month-to-month/mtm) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,64, lebih tinggi dari inflasi November yang tercatat 0,79%. (PB15)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 28 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.