Inforial

Bupati Hermus: Musdat Pemilihan Calon Anggota MRPB Harus Berazaskan Kekeluargaan

MANOKWARI – Sebanyak 15 orang dari suku Arfak yaitu Suku Meyah, Hatam, subsuku Moile dan subsuku Doreri menjalani seleksi melalui musyawarah adat pemilihan calon anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) periode 2023-2028, Senin (15/5/2023) di Manokwari.

Musyawarah adat (Musdat) pemilihan calon anggota MRPB perwakilan Kabupaten Manokwari dari unsur Adat dan unsur Perempuan ini, dihadiri Bupati Manokwari Hermus Indou, Kepala Suku Besar Arfak Dominggus Mandacan dan sejumlah suku di Manokwari.

Ketua Panitia Yotam Senis, menerangkan pendaftaran dibuka sejak 1-5 Mei 2023. Sebanyak 15 orang yang sudah mendaftarkan dirinya, masing-masing 4 orang dari suku Doreri dan 11 orang dari suku Arfak.

Pada 12 Mei 2023 sudah diumumkan bahwa 15 orang calon itu mengikuti seleksi administrasi. Hasilnya akan diputuskan dalam musyawarah adat, Senin (15/5/2023).

Musyawarah adat ini melibatkan keterwakilan suku Meyah, Hatam, subsuku Moile, subsuku Doreri masing-masing 15 orang. Mekanisme pemilihan dalam musyawarah ini akan dipimpin oleh masing-masing suku.

“Seleksi keterwakilan perempuan dilakukan di kabupaten, sedangkan seleksi unsur agama dilakukan oleh tim dari Provinsi,” ucapnya.

Kepala suku besar Arfak Dominggus Mandacan mengatakan, sebagai anak adat harus tahu adat dan budaya yang saling menghargai, salin menghormati dan mendukung proses tahapan pemilihan anggota MRPB agar dapat berjalan dengan baik.

“Kita ini sebagai anak-anak adat, jadi kita tahu adat dan budaya masing-masing, mari kita saling menghargai dan mendukung panitia agar dapat berjalan tepat waktu,” ucapnya.

Bupati Manokwari Hermus Indou mengatakan, musyawarah adat ini harus berasaskan kekeluargaan serta mengedepankan asas keadilan, pemerataan dan asas kesetaraan.

“Kita semua ini keluarga, secara sosial dan kultur kita ini saling bergantungan antara satu dan yang lain,” kata Bupati Hermus.

Hermus lalu mengajak semua pihak untuk menghormati legacy para leluhur dan tokoh-tokoh adat serta masyarakat.

“Mari kita melanjutkannya. Tentu tidak lain untuk melestarikan kedua suku ini dan melesterikan hubungan kekerabatan, kekeluargaan untuk hidup dan mengemban peran masing-masing dalam proses membangun mensejahterakan masyarakat masing-masing,” kata Hermus Indou. (SEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.