EKONOMIInforial

Ekonomi Papua Barat Tanpa Migas Terkontraksi

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Perekonomian Provinsi Papua Barat masih sangat bergantung pada sektor minyak dan gas (Migas). Hal ini tercermin dari laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat tanpa migas pada triwulan I tahun 2021, terkontraksi sebesar -4,37% (Year on Year/YoY) dan -2,74% (Q-to-Q).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju PDRB non migas Papua Barat triwulan I tahun 2021 atas dasar harga berlaku sebesar Rp12.696,88 miliar dan atas dasar harga konstan sebanyak Rp8.245,60 miliar.

“Kalau pertumbuhan totalnya masih positif, tapi kalau migasnya kita keluarkan itu minus,”  ucap Koordinator Fungsional Nerwilis BPS Provinsi Papua Barat Achmad Ali, saat dikonfirmasi awak media belum lama ini.

Dari sisi lapangan usaha, sambung dia, kinerja industri selain migas belum sepenuhnya pulih setelah dihantam pandemi Covid-19. Seperti, UMKM yang notabene tenaga kerjanya bersifat industri rumah tangga, industri tekstil, meubel, dan industri olahan kayu.

“Karena dari Januari sampai Maret tahun 2020 itu Covid belum ada. Jadi industri di luar migas itu sangat tertekan,” ucap dia.

Sedangkan dari sisi konsumsi, perekonomian Papua Barat sangat ditopang oleh kinerja ekspor luar negeri, disusul konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Dengan demikian, konsumsi domestik pada triwulan I-2021 ini cukup menopang pertumbuhan ekonomi meskipun belum optimal bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Boleh saya katakan sebagai ‘hembusan angin segar’ untuk stimulus dari fiskal terkait pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun Papua Barat,” tutur Ali.

Menurut dia, potensi lapangan usaha perdagangan dan UMKM di Provinsi Papua Barat perlu dioptimalkan melalui berbagai program stimulus. Pemerintah daerah setempat baik provinsi maupun kabupaten/kota sebagai pemangku kebijakan, harus memformulasikan regulasi yang dapat mendongkrak kinerja sektor-sektor di luar industri migas. “Seperti yang sudah dilakukan oleh Bank Indonesia itu luar biasa,” tutur Ali.

Dia menerangkan, ada tiga pendekatan untuk menghitung PDRB yakni dari sisi produksi atau lapangan usaha, konsumsi atau pengeluaran dan pendapatan. Namun, perhitungan PDRB provinsi baru menggunakan dua metode yaitu produksi dan pengeluaran.

“Pendapatan atau income hanya pusat (BPS, red) yang melakukan. Sebab, datanya untuk provinsi masih sangat lemah,” jelas dia.

Ali menuturkan, laju pertumbuhan ekonomi Papua Barat secara keseluruhan ditopang oleh tiga potensi lapangan usaha. Pertama, industri pengolahan kategori C atau industri migas LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni. Kedua, industri pertambangan dan penggalian di Teluk Bintuni yang bersifat multiyears project. Ketiga, industri manufaktur dan  konstruksi. Apabila kinerja ketiga potensi lapangan usaha tersebut berjalan maksimal, maka pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat masa mendatang terus meningkat.

“Di luar kondisi pandemi ya. Kalau kita amankan ketiga lapangan usaha itu, bisa mengerek perekonomian menjadi lebih baik lagi,” tutur Ali.

Diberitakan sebelumnya, pada triwulan I tahun 2021 perekonomian Provinsi Papua Barat yang ditopang oleh sektor migas tumbuh positif sebesar 1,47% (yoy) dan 0,06% (Q-to-q). Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp21.534 miliar meningkat dibandingkan triwulan I-2020 yang hanya mencapai Rp20.941 miliar.

Dan, PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp15.698 miliar, meningkat dari triwulan I-2020 yakni Rp15.472 miliar.

Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia menjelaskan, meskipun positif, namun laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2021 ini lebih rendah dari triwulan I-2020 yang mencapai 5,29 persen (yoy). Sebagaimana diketahui, situasi pandemi Covid-19 menghantam kondisi perekonomian Papua Barat mulai dari triwulan II-2020 turun menjadi 0,72 persen (yoy), triwulan III-2020 terkontraksi -3,16 persen (yoy) dan triwulan IV-2020 terkontraksi sangat dalam menjadi -5,21 persen (yoy).

“Triwulan I tahun ini ekonomi kita kembali bangkit,” jelas Maritje.

Dari 17 lapangan usaha, kata Maritje, hanya 8 lapangan usaha yang tumbuh positif dan sisanya negatif.

Lapangan usaha yang tumbuh positif adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh signifikan 15,54 persen (yoy), pengadaan listrik dan gas tumbuh 13,67 persen (yoy), industri pengolahan tumbuh 10,12 persen (yoy), jasa lainnya 7,7 persen (yoy), jasa keuangan dan asuransi 5,95 persen (yoy), informasi dan komunikasi 5,77 persen (yoy), pertambangan dan penggalian 4,58 persen (yoy), serta lapangan usaha perdagangan 3,56 persen (yoy).

Sedangkan 9 lapangan usaha lainnya mengalami kontraksi. Seperti transportasi dan pergudangan -12,39 persen (yoy), konstruksi -8,41 persen (yoy), administrasi pemerintahan -8,03 persen (yoy), pertanian -5,08 persen (yoy) dan lainnya.

Dia melanjutkan, pertumbuhan ekonomi Papua Barat juga ditopang dari sisi pengeluaran. Antara lain, konsumsi pemerintah tumbuh 9,55 persen (yoy), dan ekspor luar negeri tumbuh 2,10 persen (yoy). Sedangkan konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), dan impor luar negeri mengalami kontraksi.

“Impor luar negeri yang terkontraksi dimaknai positif dalam pembentukan PDRB,” pungkas Maritje. (PB15)

 

**Berita ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 18 Mei 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.