Inforial

Hindari Middle Income Trap, Kepala BKKBN: Indonesia Harus Bisa Manfaatkan Bonus Demografi

JAKARTA – Indonesia harus bisa memanfaatkan bonus demografi dengan baik agar tidak masuk dalam jebakan pendapatan menengah (middle income trap) menjelang Indonesia Emas 2045.

Bonus demografi adalah keuntungan ekonomi yang didapat suatu negara karena jumlah penduduk usia produktifnya tinggi.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo saat menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda Universitas Respati Indonesia (Urindo) Tahun Akademik 2022-2023 di Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (26/10/2023).

Hasto juga meminta semua pihak untuk waspada dan hati-hati, sebelum masuk Indonesia Emas, karena pra syaratnya, pada tahun 2035 itu republik ini harus sukses. Karena kalau tidak sukses, tentu akan berat.

“Jadi kita harus memanfaatkan windows opportunity ini. Generasi muda menjadi penentu kita akan memetik Bonus Demografi atau tidak? Generasi muda harus tidak kawin pada usia dini, harus tidak putus sekolah, harus tidak nganggur, harus tidak sebentar-sebentar hamil,” kata Hasto.

Dalam orasi itu, Hasto juga menyampaikan apresiasi kepada Urindo yang telah ikut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas SDM dan keluarga. Salah satunya dengan dibentuknya Sekolah Lansia.

“Bonus penduduk menjadi bonus kesejahteraan. Tentu butuh upaya diantaranya adalah peningkatan layanan pendidikan dan juga pelayanan kesehatan itu menjadi prioritas penting menurunkan angka stunting, mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kualitas hidup perempuan, anak dan keluarga menjadi angka utama,” terangnya.

Menurut Hasto, kualitas sumber daya manusia itu ditentukan oleh 3 hal seperti bagaimana pendapatan per kapitanya, bagaimana angka harapan hidupnya, dan kemudian juga bagaimana pendidikannya. Rata-rata Pendidikan untuk lama sekolah masih 8,48 tahun meskipun harapan lama sekolahnya harusnya sudah 12 tahun. Hal ini menjadi satu hal serius dan ia berharap bisa sama-sama diperjuangkanagar indeks pembangunan manusia meningkat.

Kesenjangan daerah masih terlalu tinggi antara satu daerah dengan daerah yang lain, sebagai contoh IPM Yogyakarta 79, Bali 75, namun ternyata IPM Papua 60,44 dan seterusnya. Pengaruh dari stunting itu sangat serius karena human capital index Indonesia yang sangat erat dengan intellectual skill manusia dan ini menjadi indikator penting dalam menentukan kualitas SDM satu bangsa, dengan stunting di atasi maka kualitas SDM juga bisa diatasi dengan baik.

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi.

Sementara itu Rektor Universitas Respati Indonesia Prof. Tri Budi Wahyuni Rahardjo,  dalam sambutannya menyebutkan bahwa para wisudawan dan wisudawati sebagai kelompok usia produktif harus bisa menjadi wirausahawan untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan memaksimalkan bonus demografi meraih Indonesia Emas 2045.

“Visi Urindo adalah universitas entrepreneur yang ramah lansia yang diakui secara internasional. Ini berarti bahwa sebelum teman-teman ini wisuda sekitar 30 persen sudah menjadi praktisi wirausahawan. Jadi sekarang paradigma bukan hanya mencari kerja tapi sudah menciptakan lapangan pekerjaan, dan ini menjadi tantangan untuk wisuda yang lain,” kata dia.

Sejalan dengan itu, Kepala LLDikti Wilayah III Prof. Toni Toharudin, yang juga hadir memberikan sambutannya mengatakan semangat berwirausaha adalah bagian penting membangun Indonesia sejahtera. Karena didalam rangka menyambut bonus demografi 2030 mendorong spirit entrepreneurship untuk para lulusan sarjana tentu menjadi bagian penting untuk membangun indonesia sejahtera.

“Indonesia merupakan negara yang besar dan majemuk, disamping itu negara ini juga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan melalui berbagai usaha untuk mengisi pasar kerja,” kata Toni Toharudin. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.