EKONOMIInforial

Juli 2021, Nilai Tukar Petani Papua Barat Naik

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Nilai tukar petani (NTP) di Provinsi Papua Barat pada Juli 2021 sebesar 100,57 atau mengalami kenaikan 0,16 persen (Month to month/mtm) dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan NTP disebabkan indeks harga yang diterima petani naik 0,33 persen (mtm) lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar oleh petani.

“Indeks yang dibayar petani juga naik tapi hanya 0,17 persen (mtm),” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat Maritje Pattiwaellapia saat menggelar konferensi pers virtual, pada Senin 2 Agustus 2021.

Ia menjelaskan, kenaikan NTP Papua Barat ditopang oleh NTP dua subsektor yaitu hortikultura dan peternakan.

Untuk subsektor hortikultura, indeks harga yang diterima oleh petani sebesar 107,29 atau naik 0,58 persen (mtm) lebih tinggi dari indeks harga dibayar oleh petani yang naik hanya 0,17 persen (mtm). Sehingga, NTP subsektor hortikultura ini mengalami peningkatan 0,40 persen (mtm).

“Karena harga beberapa komoditas mengalami kenaikan seperti sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat-obatan,” jelas dia.

Kemudian, indeks harga yang diterima petani pada subsektor peternakan juga mengalami peningkatan sebesar 112,10 atau naik 1,56 persen (mtm) lebih tinggi dibanding indeks harga dibayar petani yang hanya naik 0,17 persen (mtm). Dengan demikian maka, NTP subsektor peternakan meningkat 1,39 persen (mtm).

“Karena di Bulan Juli itu ada Hari Raya Idul Adha, jadi harga kambing dan ternak besar lainnya ikutan meningkat,” jelas Maritje.

Sisanya, mengalami penurunan indeks yakni tanaman pangan -0,22 persen (mtm), tanaman perkebunan rakyat -0,06 persen (mtm) dan subsektor perikanan -1,06 persen (mtm). Karena, indeks harga yang diterima petani naik tapi lebih rendah dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani pada masing-masing subsektor.

“Namun, secara total nilai tukar petani mengalami kenaikan,” jelas Maritje.

NTUP naik

Nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) Provinsi Papua Barat juga mengalami peningkatan 0,32 persen (mtm) yaitu dari 102,44 pada Juni 2021 menjadi 102,77 pada Juli 2021.

NTUP merupakan nilai tukar antara barang atau hasil produksi pertanian, dengan faktor yang dibutuhkan petani dalam berproduksi.

Maritje Pattiwaellapia menjelaskan, kenaikan NTUP ditopang oleh tiga subsektor yaitu peternakan sebesar 108,49 atau naik 1,56 persen (mtm),!hortikultura sebesar 101,41 atau naik 0,60 persen (mtm) dan tanaman perkebunan rakyat sebesar 103,28 atau naik 0,06 persen (mtm).

Sedangkan dua subsektor lainnya mengalami penurunan indeks yaitu tanaman pangan -0,06 persen (mtm) dan perikanan -0,93 persen (mtm).

Inflasi perdesaan 0,22 persen

Indeks konsumsi rumah tangga (IKRT) pada Juli 2021 sebesar 107,60 atau mengalami inflasi 0,22 persen (mtm).

Maritje menuturkan, inflasi perdesaan dipicu adanya kenaikan indeks dari tujuh kelompok pengeluaran. Yaitu, kelompok makanan dan minuman sebesar 0,31 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,22 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,15 persen, kesehatan 0,09 persen, pakian dan alas kaki 0,04 persen, perumahan 0,03 persen, dan kelompok transportasi 0,02 persen.

“Hanya kelompok informasi dan komunikasi -0,13 persen serta kelompok rekreasi -0,07 persen. Dan dua kelompok lagi tidak mengalami perubahan indeks yakni kelompok pendidikan dan penyediaan makanan dan minuman,” pungkas Maritje Pattiwaellapia. (PB15)

 

**Berita ini Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 4 Agustus 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.