EKONOMIInforial

Komoditas Ikan Dorong Inflasi di Papua Barat

  • Angkutan udara deflasi

MANOKWARI, papuabaratnews.co Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Papua Barat mengalami inflasi pada Januari 2021 sebesar 0,20% (month to month/mtm) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 104,85.

Dari sisi pengeluaran, kelompok makanan memberikan andil inflasi 2,44% mtm yang didorong oleh beberapa komoditas ikan. Kenaikan indeks harga komoditas ikan ini terjadi di dua kota IHK yakni Kota Manokwari dan Sorong.

Kepala BPS Papua Barat Maritje Pattiwaellapia mengatakan, di Kota Manokwari ikan oci mengalami inflasi 0,19% mtm, disusul cabai rawit 0,15% mtm, ikan kakap merah 0,13% mtm, ikan mumar 0,09% mtm dan daging ayam ras 0,07% mtm.

Sedangkan di Kota Sorong, ikan mumar menyumbang inflasi 0,35% mtm, kemudian cabai rawit 0,23% mtm, ikan teri 0,08% mtm, ikan cakalang 0,06% mtm dan tomat 0,06% mtm.

“Kenapa ikan ini mengalami kenaikan, karena stok di pasar sedikit,” kata Maritje Pattiwaellapia saat menggelar konfrensi pers virtual, Senin (1/2/2021).

Ia melanjutkan, 8 dari 11 kelompok pengeluaran mengalami peningkatan indeks harga sehingga berdampak pada angka inflasi. Selain makanan, kelompok pengeluaran lainnya seperti rekreasi juga mengalami inflasi 0,85% mtm, disusul kelompok pendidikan 0,21% mtm, kelompok perawatan pribadi 0,71% mtm, kelompok perumahan 0,10% mtm, kelompok pemeliharaan rutin 0,04% mtm, kelompok penyedia jasa makanan 0,04% mtm.

“Dan kelompok informasi terjadi inflasi 0,01% mtm,” ucap Maritje.

Secara umum, kata dia, inflasi Papua Barat pada Januari 2021 tercermin dari perkembangan indeks harga yang terjadi pada dua kota IHK tersebut. Inflasi tahunan kalender Kota Sorong 0,41% mtm dan inflasi tahun ke tahun tercatat 1,95% yoy. Sebaliknya Kota Manokwari terjadi deflasi -0,58% mtm dan inflasi tahun kalender itu -0,70% yoy.

Dengan demikian, inflasi Papua Barat secara tahunan tercatat 1,36% yoy jika dibandingkan dengan inflasi Januari 2020 dan bulanan 0,20% mtm.

Angkutan udara deflasi

Selain inflasi, BPS juga merilis ada tiga kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga. Meliputi, kelompok transportasi -5,74% mtm, pakian kaki -0,25% mtm dan kelompok kesehatan -0,06% mtm.

Maritje Pattiwaellapia menjelaskan, tarif angkutan udara mengalami penurunan indeks harga yang dipengaruhi oleh turunnya minat konsumen untuk melakukan perjalanan. Kondisi ini pun dapat disebabkan adanya insiden kecelakaan pesawat Sriwijaya Air beberapa waktu lalu. Sehingga, angkutan udara menyumbang deflasi Kota Manokwari -0,97% mtm dan Kota Sorong -0,61% mtm.

“Apalagi di Bulan Januari ada musibah jatuhnya maskapai Sriwijaya, ini juga berdampak ke minat konsumen,” ujar Maritje.

Selain tarif angkutan udara pada kelompok transportasi, sambung dia, ada beberapa komoditas makanan turut memberikan andil deflasi di Manokwari seperti ikan cakalang -0,27% mtm, kangkung -0,21% mtm, bawang merah -0,05% mtm, dan kacang panjang -0,02% mtm.

Sementara di Kota Sorong, kelompok makanan yang mengalami deflasi yaitu bawang merah -0,11% mtm, sawi hijau -0,06% mtm, dan bayam -0,03% mtm.

“Beberapa kelompok makanan ini karena stoknya banyak, sehingga harga turun,” tutur dia.

“Baju muslim dari kelompok pakian juga deflasi -0,02% mtm,” kata dia lagi. (PB15)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Selasa 2 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.