InforialPARLEMENTARIA

Lapangan Pekerjaan Jadi Kendala Output dari Pendidikan

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Wakil Ketua Fraksi Otonomi Khusus (Otsus) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua Barat Dom Urbon menilai, lapangan pekerjaan masih menjadi kendala utama output atau hasil dari proses pendidikan di wilayah setempat. Karena, pemerintah tidak menyiapkan lapangan pekerjaan yang baik. Dampaknya, banyak tenaga sarjana atau orang berpendidikan yang menjadi kering atau tidak memiliki pekerjaan.

“Ini yang dinamakan dengan brain drain. Dimana orang pintar mengering dari Papua karena setelah selesai sekolah tidak ada lapangan pekerjaan di Papua sehingga mereka pergi meninggalkan Papua dan berkembang di luar,” ujarnya kepada Papua Barat News di Manokwari, Jumat pekan lalu (18/12/2020).

Menurut Dom, banyak sekali orang Papua Barat yang menjadi terkenal di luar daerah karena minimnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. Padahal mereka dibiayai sekolahnya oleh pemerintah melalui dana Otsus. Akan tetapi, tidak ditindaklanjuti dengan pertanggungjawaban terhadap hasil pendidikan yang mereka dapatkan.

Dia menyampaikan, seharusnya generasi muda Papua Barat yang disekolahkan oleh pemerintah melalui dana Otsus mendapatkan pekerjaan di daerahnya sendiri. Dengan cara demikian, mereka mampu membangun daerah dan mempersiapkan generasi berikut yang handal dengan Ilmu yang sudah mereka pelajari.

“Itu bagian dari pertanggungjawaban pemerintah terhadap pengelolaan dana Otsus,” kata dia.

Menurut dia, fenomena itu diakibatkan oleh tidak adanya perencanaan yang matang dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) di Papua Barat. Perencanaan tersebut meliputi tujuan jangka pendek maupun jangka panjang yang akan dihasilkan dari pengelolaan dana Otsus bagi kesejahteraan masyarakat Papua Barat.

“Harus ada proyeksi tentang arah pembangunan SDM. Yang kita butuhkan ke depan, itulah yang harus kita siapkan sekarang,” lanjut Dom.

Menurut dia, daerah yang berkembang seperti Papua Barat akan kehilangan SDM terbaik apabila pemerintah tidak membuat perencanaan yang baik. Karena perencanaan terhadap output pendidikan dengan menyiapkan lapangan pekerjaan juga akan berdampak pada kemajuan dan perekonomian daerah  ke depannya.

“Jadi fenomena brain drain ini bisa saja terjadi karena kesempatan berkembang di daerah sendiri hampir tidak ada,”  pungkasnya. (PB25)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 21 Desember 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.