Inforial

Maret 2018, NTP Papua Barat Turun 0,22 Persen

>> Inflasi pedesaan 0,58 persen

 

MANOKWARI, PB News – Nilai tukar petani (NTP) diperoleh dari perbandingan indeks harga diterima petani terhadap indeks harga dibayar petani, yang merupakan indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di kawasan pedesaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat, NTP Provinsi Papua Barat pada Maret 2018 sebesar 99,73 atau turun 0,22 persen dibanding NTP Februari yang mencapai 99,95. Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di delapan desa di provinsi setempat, penurunan NTP disebabkan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani maupun keperluan produksi pertanian umumnya naik lebih cepat dibandingkan dengan harga hasil produksi dari pertanian tersebut.

“Penurunan NTP ini dikarenakan indeks harga yang diterima petani hanya naik 0,31 persen dibandingkan laju indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,53 persen,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Papua Barat, Hendra Wijaya, S.ST,M.Si ketika dikonfirmasi Papua Barat News, Selasa (3/4/2018).

Empat dari lima subsektor mengalami laju penurunan indeks dan satu subsektor mengalami peningkatan indeks harga yakni subsektor hortikultura yang memiliki indeks tertinggi yakni 107,62 persen atau naik 0,67 persen.

NTP subsektor tanaman pangan turun sebesar 0,61 persen dibandingkan dengan Februari karena indeks harga diterima petani turun 0,03 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik 0,58 persen.

“Penurunan indeks di kelompok padi sebesar 1,02 persen. Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani meningkat karena konsumsi rumah tangga petani naik 0,52 persen dan BPPBM sebesar 0,96 persen,” tutur dia.

Dia melanjutkan, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat juga turun 0,86 persen apabila dibandingkan dengan Februari 2018 yaitu dari 96,33 menjadi 95,51 persen pada Maret 2018. Indeks harga yang diterima petani turun 0,29 persen, sedangkan yang dibayar petani sebesar 0,58 persen. NTP subsektor peternakan turun 0,17 persen dibandingkan Februari yakni 98,27 persen menjadi 98,11 persen pada Maret. Hal ini terjadi karena indeks harga diterima petani hanya naik 0,34 persen dibandingkan indeks harga dibayar petani sebesar 0,51 persen. NTP subsektor perikanan turun 0,76 persen dibandingkan Februari 2018 yaitu  dari 100,46 persen menjadi 99,70 persen.

Sementara itu, kata Hendara, terjadi inflasi di kawasan pedesaan pada Maret 2018 sebesar 0,58 persen yang disebabkan oleh kelompok kesehatan, pendidikan, rekreasi, olahraga, makanan jadi, bahanmakanan, minuman rokok dan tembakau, sandang, perumahan dan kelompok transportasi serta komunikasi.

Dikonfirmasi secara terpisah, Rabu (4/4/2018), Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas Papua (Unipa) Elina Situmorang, menjelaskan, penurunan NTP di pedesaan dari Januari 0,57 persen, Februari turun 0,14 persen dan Maret turun menjadi 0,22 persen masih dalam batasan wajar. Akan tetapi diperlukan rumusan program dari pemerintah daerah setempat, guna memacu produktivitas pertanian di Papua Barat.

“Harus diperhatikan supaya harga jual produksi petani bisa lebih dari harga yang dibayarkan petani,” imbuh Elina.(PB15)

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.