Inforial

Masyarakat Dimintai Waspadai Peredaran Obat Sirop

MANOKWARI – Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari mengingatkan perlunya mewaspadai peredaran obat sirop dilarang edar. Obat ini dideteksi sebagai obat yang diminum oleh penderita gagal ginjal akut yang banyak menimpa anak.

Sehubungan dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Manokwari, Alfred Bandaso mengaku, pihaknya telah menurunkan petugas untuk memantau penjualan obat sirop anak yang dilarang peredarannya oleh Kementerian Kesehatan serta Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu.

“Petugas telah turun langsung ke apotik sekaligus memberikan surat edaran, agar apotik tidak lagi menjual lima jenis obat sirup yang mengandung propilen glikol dan polietilen glikol,” ungkap Alfred di Manokwari, Rabu (2/11/2022).

Ia menjelaskan, apotek juga sudah menyadari bahwa mereka sudah diberikan surat (edaran, red.)

“Hal itu berarti terkait obat yang dilarang beredar tersebut nanti mereka atur sendiri bagaimana apakah dikembalikan atau dimusnahkan,” ujar dia.

Terkait dengan surat edaran tersebut, pihaknya menyarankan jika ditemukan laporan kasus gangguan ginjal maka perlu dilaporkan agar dilakukan pengiriman sampel darah dan urine ke laboratorium kesehatan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.”Cuma sejauh ini kan belum ada laporan. Di (daerah, red.) kita tidak ada, mungkin banyak kalau di luar (Manokwari, red.),” katanya.

Alfred lalu mengingatkan masyarakat jika tetap ingin membeli obat sirop untuk anak hanya di apotek atau toko obat yang berizin. “Karena yang kadang tidak mengerti mengenai kandungan obat itu kan masyarakat, yang mengerti soal kandungan obat itu dokter,” kata dia.

Dia juga meminta dokter hanya menyarankan obat yang sudah direkomendasikan Kemenkes dan BPOM untuk diberikan kepada anak. “Karena juga tidak semua obat sirop bermasalah,” ungkap dia.

Sebanyak tujuh obat sirop dinyatakan dilarang dikonsumsi oleh anak. Hal itu ditegaskan lansung oleh BPOM RI. Menurut BPOM, tujuh obat sirop anak ini telah tercemar kandungan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) hingga di luar ambang batas.

Dari daftar tujuh obat sirop anak yang dilarang ini merupakan hasil produksi PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical Industries dan PT Afifarma.

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan perusahaan itu telah mengganti bahan baku propilena glikol—termasuk perusahaan pemasok bahan baku—tanpa sepengetahuan BPOM. Perubahan bahan baku itu tidak dibarengi dengan pengujian sehingga zat kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya tidak diketahui. “Aturannya, setiap ada perubahan, harus melapor kepada BPOM,” kata Penny, Senin lalu.

Meski sudah menyimpulkan kandungan etilena glikol obat sirop produksi PT Afi Farma, PT Yarindo, dan PT UPI, BPOM belum bisa memastikan apakah obat produksi ketiga perusahaan itu menjadi penyebab gagal ginjal akut pada anak.

Angka Kematian Gagal Ginjal Akut

Juru bicara Kementerian Kesehatan, Syahril Mansyur, mengklaim adanya penurunan jumlah kasus gagal ginjal akut setelah BPOM menerbitkan surat edaran pelarangan obat sirop anak. Ia juga mengklaim angka kematian akibat penyakit itu turun 6 persen. “Angka kematian menurun dari 58 persen menjadi 52 persen,” kata Syahril.

Ia menuturkan pemerintah menangani gagal ginjal akut ini dengan mendatangkan obat antidotum atau penawar racun dari Singapura, Australia, dan Jepang sebanyak 246 vial. Obat itu lalu dibagikan ke 17 rumah sakit rujukan. Selain itu, kata dia, Kementerian Kesehatan mempunyai stok Fomepizole, jenis obat antidotum, sebanyak 100 vial. (PB19)

Berikut daftar 7 obat sirop anak yang dilarang tersebut:

PT Universal Pharmaceutical Industries

– Unibebi Cough Syrup

– Unibebi Demam Drop

– Unibebi Demam Syrup

PT Afifarma

– Paracetamol Drops

– Paracetamol Sirup Rasa Peppermint

– Vipcol Sirup

PT Yarindo Farmatama

– Flurin DMP Sirup

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.