EKONOMIInforial

Nilai Tukar Petani di Papua Barat pada Mei 2021 Turun Tipis

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Papua Barat periode Mei 2021 hanya mencapai 100,08 atau turun tipis 0,01 persen (month to month/mtm) jika dibandingkan NTP bulan sebelumnya yakni 100,09.

Penurunan NTP dipicu oleh indeks harga yang diterima petani lebih rendah dari indeks harga yang dibayarkan untuk keperluan produksi maupun kebutuhan sehari-hari.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat Hendra Wijaya mengatakan, secara agregat indeks harga yang diterima petani sebesar 106,68 atau mengalami peningkatan hanya 0,20 persen (mtm) dari periode sebelumnya. Sedangkan indeks yang dibayarkan oleh petani tercatat 106,59 namun kenaikannya dibanding bulan sebelumnya mencapai 0,21 persen (mtm).

“Kedua indeks harga ini sama-sama mengalami kenaikan dari Bulan April, tetapi indeks harga yang diterima petani naiknya lebih rendah,” ujar Hendra melalui keterangan resmi, Rabu (23/6/2021).

Ada tiga subsektor yang mengalami penurunan NTP lantaran indeks harga diterima petani lebih rendah dari indeks harga dibayarkan petani. Meliputi subsektor hortikultura -0,22 persen (mtm), tanaman perkebunan rakyat -1,37 persen (mtm), dan subsektor perikanan -0,24 persen (mtm).

Untuk hortikultura, indeks harga diterima petani turun -0,03 persen (mtm) sedangkan indeks harga dibayarkan petani naik 0,24 persen (mtm). Kemudian indeks harga yang diterima petani pada subsektor tanaman perkebunan rakyat turun -0,76 persen (mtm), sementara indeks harga dibayarkan petani naik 0,36 persen (mtm).

“Dan, indeks harga diterima petani pada subsektor perikanan turun -0,16 persen (mtm) sedangkan yang dibayarkan petani itu naik 0,08 persen (mtm),” jelas Hendra Wijaya.

Sedangkan subsektor yang mengalami peningkatan NTP terdiri dari subsektor tanaman pangan naik 1,14 persen (mtm) dan subsektor peternakan naik 0,21 persen (mtm).

Indeks harga diterima petani pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,30 persen (mtm) dan yang dibayarkan petani hanya 0,16 persen (mtm). Untuk subsektor peternakan, indeks harga yang diterima petani adalah 1,30 persen (mtm) dan indeks yang dibayarkan petani hanya 0,16 persen (mtm).

“NTP peternakan merupakan subsektor yang memiliki indeks tertinggi yakni 104,79. Sedangkan indeks NTP subsektor perikanan tangkap paling rendah yaitu 94,61,” jelas Hendra.

Apabila ditinjau dari laju pertumbuhan indeks bila dibandingkan dengan periode April 2021, NTP tanaman pangan memiliki laju pertumbuhan tertinggi sebesar 1,14 persen (mtm), sementara NTP pembudidayaan ikan memiliki laju indeks yang terendah yaitu -0,01 persen (mtm).

Inflasi perdesaan

Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di kawasan perdesaan. BPS mencatat, pada Mei 2021 terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,22 persen. Hal ini disebabkan adanya peningkatan indeks dari kelompok makanan, minuman dan tembakau 0,29 persen, kelompok pakian dan alas kaki 0,22 persen, kelompok kesehatan 0,19 persen, kelompok perumahan dan bahan bakar rumah tangga naik 0,14 persen, kelompok perlengkapan naik 0,12 persen, kelompok perawatan dan jasa lainnya 0,09 persen, transportasi naik 0,04 persen, serta kelompok informasi dan komunikasi naik 0,01 persen.

NTUP naik 0,02 persen

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Papua Barat periode Mei 2021 mengalami peningkatan 0,02 persen (mtm) jika dibandingkan NTUP April 2021 yaitu 102,22 menjadi 102,22.

NTUP merupakan nilai tukar (term of trade) antara barang atau hasil produksi pertanian dengan faktor produksi yang dibutuhkan oleh petani. (PB15)

 

**Berita ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 24 Juni 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.