EKONOMIInforial

Oktober 2020, Nilai Tukar Petani di Papua Barat Turun

MANOKWARI, PB News – Nilai Tukar Petani (NTP) di sembilan kabupaten di Provinsi Papua Barat pada Oktober 2020 tercatat sebesar 99,86. Jumlah ini mengalami penurunan 0,28 (month to month/mtm) persen jika dibandingkan dengan NTP September 2020 yakni 100,14.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat Maritje Pattiwaellapia mengatakan penurunan NTP dipengaruhi oleh indeks harga yang diterima petani (lt) lebih rendah dari indeks harga yang dibayarkan (lb) petani.

Selama Oktober 2020, indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,40 persen (mtm) jika dibandingkan periode sebelumnya. Sementara indeks harga yang dibayar petani hanya turun 0,12 persen (mtm).

“Artinya indeks yang diterima petani jauh lebih sedikit dibanding indeks yang dibayar petani,” ujar Maritje melalui keterangan resmi belum lama ini.

Menurut subsektor, kata dia, NTP mengalami penurunan dari sejumlah subsektor. Meliputi, subsektor tanaman pangan turun 0,60 persen (mtm) karena indeks harga yang diterima petani turun 0,66 pesen (mtm) lebih tinggi dari indeks harga yang dibayar petani yaitu 0,06 persen (mtm). Kemudian ada subsektor hortikultura turun 1,05 persen (mtm) didorong oleh turunnya indeks harga yang diterima petani lebih besar 1,24 persen (mtm) dibanding indeks harga yang dibayar petani hanya turun 0,19 persen (mtm).

Selanjutnya, kata Maritje, ada subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 0,04 persen (mtm) yang dipengaruhi oleh indeks harga diterima petani mengalami penurunan 0,02 persen (mtm) lebih besar dari penurunan indeks harga yang dibayar petani. Dan, subsektor perikanan budidaya turun 0,63 persen didorong oleh turunnya indeks harga diterima petani sebesar 0,76 persen (mtm) lebih besar dari indeks harga dibayar petani yang turun hanya 0,14 persen (mtm).

Maritje berharap agar kedepannya NTP di Provinsi Papua Barat terus mengalami peningkatan. Sehingga, daya beli petani di kawasan perdesaan pun semakin terkendali.

“Supaya daya beli petani semakin membaik,” ucap mantan Kepala BPS Provinsi NTT ini.

 NTUP turun

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) merupakan nilai tukar antara barang atau produksi pertanian dengan faktor produksi yang dibutuhkan oleh petani.

BPS mencatat, NTUP periode Oktober 2020 sebesar 101,99 atau turun 0,42 persen apabila dibandingkan dengan NTUP September 2020 yaitu 102,42.

“Polanya mirip dengan NTP yang juga mengalami penurunan indeks,” kata Maritje Pattiwaellapia.

Penurunan NTUP ini dipengaruhi oleh empat subsektor yaitu subsektor tanaman pangan turun 1,25 persen (mtm), hortikultura turun 0,98 persen (mtm), tanaman perkebunan rakyat turun 0,43 persen (mtm), dan perikanan budidaya turun 0,65 persen (mtm).

Sedangkan subsektor yang mengalami peningkatan indeks terdiri dari subsektor peternakan dan perikanan tangkap.

 Inflasi pedesaan

BPS mengungkapkan bahwa perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tanga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di kawasan perdesaan.

Pada Oktober 2020, terjadi deflasi di perdesaan secara regional di Provinsi Papua Barat sebesar 0,16 persen. Hal ini dipicu turunnya indeks harga pada kelompok konsumsi rumah tangga petani.

Maritje Pattiwaellapia menerangkan ada dua kelompok komoditas mengalami penurunan yang cukup dalam yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau turun 0,28 persen serta kelompok rekreasi, olahraga dan budaya turun 0,38 persen.

“Kedua komoditas ini memilik bobot yang cukup tinggi, hingga terjadinya deflasi. Sehingga perdesaan mengalami deflasi 0,16 persen,” kata Maritje.(PB15)

“Artikel ini telah terbit di Harian Papua Barat News, edisi Selasa (10/11/2020)”

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.