Inforial

Pemuda Pancasila: Rasis Terjadi karena Rendahnya Kesadaran

MANOKWARI, papuabaratnews.co Tindakan rasisme yang menimpa Natalius Pigai mantan Komisioner Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) beberapa waktu lalu, menggambarkan rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Hal tersebut perlu disikapi serius oleh pemerintah pusat dan daerah, untuk terus melakukan pembinaan mentalitas masyarakat agar mampu menghormati satu sama lain dalam tatanan kehidupan bernegara.

Ketua Satuan Siswa Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila Provinsi Papua Barat Romanus Hegemur mengatakan, perilaku rasisme yang masih menimpa orang asli Papua menjadi pembelajaran penting bagi seluruh bangsa Indonesia. Apabila tidak dicegah dengan sanksi hukum yang tegas sebagai efek jerah, maka tindakan rasial terus terjadi dari waktu ke waktu.

“Kami menyesalkan serangan rasis masih terus terjadi di Indonesia,” ujarnya saat dikonfirmasi Papua Barat News di Manokwari, Kamis (28/1/2021).

Ia menjelaskan, Indonesia adalah bangsa yang majemuk karena keberagaman suku, ras dan agama. Sehingga, karakter dan cara berpikir masing-masing kelompok cenderung berbeda. Meskipun begitu, aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam butir Pancasila mampu mempersatukan seluruh warga negara.

Untuk itu, setiap warga dituntut membangun semangat saling menghargai dan menghormati antar sesama anak bangsa.

“Bangsa kita ini sangat plural karena itu semangat toleransi merupakan jantung kehidupan masyarakat Indonesia,” paparnya.

Ia menyatakan serangan rasis yang ditujukan kepada salah satu kelompok suku atau agama tertentu, akan memancing terjadinya kerusuhan dan perpecahan. Tindakan menghina atau menjatuhkan kelompok atau pribadi tertentu justru menimbulkan konflik baru di masyarakat.

Karena itu sikap dewasa dalam menerima perbedaan di tengah masyarakat merupakan tuntutan hidup.

“Konflik SARA sangat rentan terjadi di bangsa ini, jika tindakan dan perbuatan kita tidak mampu terkontrol,” bebernya.

Di era teknologi, sambung dia, pengguna media sosial seharusnya bijaksana dalam mengungkapkan pendapat. Ketidak-dewasaan dalam menggunakan media sosial memicu terjadinya konflik dan permasalahan di dalam masyarakat itu sendiri.

“Kita minta agar semua orang lebih dewasa dalam bermedsos agar tidak menjadi ladang konflik,” pungkasnya. (PB22)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News edisi Jumat 29 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.