Inforial

Peran Ganda Perempuan dan Terpaan Pandemi Covid-19

MANOKWARI – Aktivis Gender dan Direktur Mitra Perempuan Papua, Anike TH Sabami mengatakan saat ini banyak perempuan yang berperan ganda menjadi penggerak utama roda perekonomian keluarga sekaligus ibu rumah tangga. Dia menyebutnya sebagai “Perempuan Pencari Nafkah”.

Ketika pandemi Covid-19 muncul peran ganda perempuan ini semakin berat karena perekonomian seluruh dunia anjlok.

Perempuan pencari nafkah ini adalah mereka yang single parent atau suaminya tidak mempunnyai pekerjaan. Mereka (perempuan) ini berperan ganda sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai tulang punggung keluarga.

Dia memberi contoh seperti mama-mama yang berjualan di pasar. Tim dari Mitra Perempuan Papua ketika melakukan riset, rata-rata pendapatan mama-mama papua selama pandemi Covid-19 menurun hingga 90 persen.

“Sebelum pandemi, dalam satu hari pendapatan mereka Rp400-Rp500 ribu, namun selama pandemi hanya mendapatkan Rp100, kadang kurang dari itu,” jelasnya Anike dalam Podcast KAKI Tanah Papua.

Dampak langsung yang di alami dari peran ganda perempuan ini adalah anak-anak. Karena mereka tidak lagi mendapatkan perhatian khusus dari orang tua, terutama ibu karena beban berat yang sudah ada di pundaknya.

“Anak-anak mereka bisa saja terjerumus ke hal-hal yang negatif, apalagi misalkan putus sekolah, itu lebih berbahaya lagi,” ujarnya.

“Contoh di kota Manokwari banyak anak-anak dan remaja yang menggunakan lem aibon, bahkan narkoba,” kata dia.

Salah satu langkah yang bisa membantu para perempuan tangguh ini adalah yang dana Otsus. Karna dalam UU Otsus Papua pasal 47 kata dia, menjelaskan bahwa untuk menegakkan Hak Asasi Manusia kaum perempuan, Pemerintah Provinsi berkewajiban membina, melindungi hak-hak dan memberdayakan perempuan secara bermartabat dan melakukan semua upaya untuk memosisikannya sebagai mitra sejajar kaum laki-laki.

Perempuan yang dua periode di MPR ini menyebutkan, dalam UU Otsus ada beberapa esensi penting yang bisa dikeluarkan dananya untuk pembiayaan kesehatan, pendidikan serta perekonomian masyarakat. “Bahkan dalam UU Otusus yang baru pasal ini masih tetap ada,” tegasnya.

Selain perempuan tangguh, Anike juga menyoroti soal traumatik yang di alami keluarga yang meninggal akibat virus Covid-19.

Menurutnya, selama ini pemerintah fokus kepada hal-lah teknis dalam penanganan pandemi Covid-19. Sementara psikis dari keluarga korban yang ditinggalkan kurang mendapat perhatian.

Untuk itu menurut dia, yang paling penting yang dilakukan pemerintah saat ini adalah konseling kepada anak-anak atau keluarga korban yang meninggal akibat Covid-19.

Ia mengapresiasi penangangan pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintah dengan vaksinasi yang begitu masif, pemberian bantuan tunai, sembako dan sebagainya. Hanya saja konseling kepada keluarga korban, menurutnya masih belum maksimal.

Selama ini kata Anike, fokus hanya di tim satgas Covid yang menangani masalah-masalah teknis, sedangkan tim khusus konseling kepada keluarga korban tidak ada.

Berdasarkan riset yang dilakukan Mitra Perempuan Papua, keluarga yang ditinggalkan mengalami traumatik yang berkepanjangan.

“Penanganan konseling ini penting karena ada traumatik yang dialami oleh keluarga terutama anak-anak,” ujarnya.

Untuk itu dirinya berharap semua pihak baik pemerintah, gereja dan masjid harus jeli melihat hal ini. Karena dampak lain bisa menimpa anak-anak yang ditinggalkan adalah mereka terjerumus ke hal-hal yang negatif.

“Contoh di kota Manokwari banyak anak-anak dan remaja yang menggunakan lem aibon, bahkan narkoba,” kata dia. (PB23)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.