Inforial

Sekolah Berpola Asrama Tekankan Mutu Pendidikan

MANOKWARI – Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Papua Barat, bukan hanya kualitas kompetensi murid yang harus ditingkatkan tetapi lebih utama kompetensi guru. Untuk mempercepat tujuan itu, sekolah berpola asrama diyakini akan bisa menciptakan suasana dan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran bagi murid dan guru tak hanya di jam sekolah tetapi juga di luar jam sekolah dengan bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

Untuk merealisasikan sekolah berpola asrama itu, Pemkab Manokwari  menggandeng Universitas Papua (Unipa) melakukan kajian yang komprehensif. Sekolah berpola asrama ini merupakan yang pertama yang pengelolaannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah, bukan yayasan maupun lembaga keagamaan.

Ketua Tim Kajian Sekolah Berpola Asrama, Yusuf Sawaki, menerangkan pada sekolah berbasis asrama ini pada intinya semua aktivitas berada dalam asrama pada durasi tahun ajaran.

Ia menyebutkan, di Manokwari, sudah ada sekolah berbasis asrama seperti SMA dan SMP Katolik Villanova, Pondok Pesantren namun itu dikelola oleh Yayasan.

“Yang menjadi kajian kami saat ini adalah sekolah berbasis asrama yang pengelolanya dari pemerintah dan itu belum pernah ada hingga kini di Manokwari,” kata Yusuf Sawaki di Manokwari, Rabu (28/12/2022).

Ia mengatakan, Pemkab Manokwari tengah berusaha merancang sebuah konsep sekolah berbasis asrama yang nantinya akan menjadi sekolah negeri berpola asrama.

“Ini merupakan sebuah strategi yang memang sudah lama. Sebelumnya memang ada pemikiran bahwa penggabungan sekolah berbasis asrama dengan sekolah-sekolah yang telah ada terutama SMP,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sebelumnya SMP Negeri 2 Manokwari rencananya akan menjadi sekolah berbasis asrama, namun banyak pertimbangan. Salah satunya musti menunggu 3 tahun karena harus meluluskan siswa yang sebelumnya dan itu akan memakan banyak waktu. “Dan susah diukur tingkat keberhasilannya,” sebutnya.

Ia mengatakan bahwa target asrama yang menjadi usulan oleh tim kajian, yakni asrama putra dan putri dengan jumlah peserta didik tahun pertama sebanyak 40 siswa dan tahun kedua serta ketiga bisa berkembang.

“Kajian yang kita lakukan ini tingkat SMP karena siswanya masih bisa terbentuk sebuah karakter dan mendidik perilaku dan sebagainya,” ungkapnya.

Sementara itu, menurutnya, standarisasi sekolah berbasis asrama tetap berbasis kurikulum nasional tetapi juga mengembangkan standar lokal atau muatan lokal untuk kemampuan siswa misalnya berkebun, seni budaya Papua dan sebagainya.

“Saya mendengar bahwa nantinya akan diprioritaskan untuk putra putri orang asli Papua. Sebab pendanaan pembangunan dari dana otonomi khusus,” tukasnya

Sementara itu, Wakil Bupati Manokwari Edi Budoyo berpesan agar tidak ada politisasi dalam pengkajian bahkan nantinya pembangunan sekolah berbasis asrama. “Kita tahu bahwa ini sudah mulai masuk tahun-tahun politik, jadi jangan di politisasi,” pesannya.

Ia menyebutkan tujuan sekolah berpola asrama untuk meningkatkan sumber daya manusia terlebih khusus putra putri papua, guna mengimbangi laju pembangunan maupun pertumbuhan teknologi.

“Dengan ini siswa bisa keluar dari belenggu sosial, adat istiadat, kebiasaan, cara dan sikap yang bisa menghambat pertumbuhan karakter,” sebutnya.

Ia juga menegaskan agar pendirian sekolah berpola asrama bisa menjawab kebutuhan masyarakat maka perlu adanya kajian yang nantinya menjadi pedoman dalam pelaksanaan.

“Karakter siswa yang terbentuk akan menjadi modal dasar pembangunan sumber daya manusia orang asli Papua,” tegas Edi. (PB19)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.