27 Pengedar Narkoba di Jayapura Dibekuk Sepanjang 2022, Enam Orang WNA

JAYAPURA – Aparat Kepolisian Resor Jayapura Kota, Papua, mengungkap 22 kasus penyalahgunaan narkoba dari Januari hingga April 2022. Sebanyak 27 pengedar narkoba ditangkap pihak berwajib. Jayapura masih jadi pintu masuk peredaran narkoba dari Papua Niugini.

Kapolresta Jayapura Komisaris Besar Gustav Urbinas pada Rabu (20/4/2022) di Jayapura memaparkan, 22 kasus ini terdiri dari 18 kasus narkoba jenis ganja, 2 kasus narkoba jenis sabu, dan 2 kasus obat psikotropika.

Adapun para pengedar telah ditetapkan sebagai tersangka. Untuk pengedar ganja dijerat Pasal 111 Ayat (2), sedangkan tersangka kasus sabu dikenakan Pasal 112 dan Pasal 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Sementara tersangka kasus psikotropika dijerat Pasal 59 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997.

”Para tersangka terdiri dari 24 laki-laki dan 3 perempuan. Sebanyak enam warga negara asing dari 27 tersangka ini. Mereka berasal dari negara Papua Niugini,” kata Gustav dilansir Kompas, Rabu (20/4/2022).

Ia menuturkan, barang bukti terbanyak yang disita dari para tersangka adalah ganja seberat 28 kilogram. Ganja dipasok dari Papua Niugini yang berbatasan langsung dengan sejumlah wilayah Provinsi Papua, seperti Kota Jayapura.

Kasus terakhir penyalahgunaan ganja adalah penangkapan lima warga negara Papua Niugini dan tiga warga setempat di daerah Enggros, Distrik Jayapura Selatan, pada 12 April 2022. Aparat menemukan barang bukti ganja seberat 21,9 kilogram dari tangan pelaku.

”Penangkapan delapan orang ini merupakan kasus pengungkapan barang bukti ganja yang terbesar oleh Satuan Narkoba Polresta Jayapura. Mereka menyelundupkan ganja melalui jalur laut,” ujar Gustav.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Jayapura Inspektur Satu Alamsyah Ali mengatakan, pihaknya memetakan 10 titik masuknya ganja dari Papua Niugini ke Kota Jayapura. 10 titik ini tersebar di tiga distrik atau kecamatan, yakni Jayapura Utara, Jayapura Selatan, dan Muara Tami.

”10 titik ini antara lain Kampung Skouw, Argapura, Hamadi, daerah Dok 2, Dok 4, Dok 5, Dok 7, Dok 8, dan Dok 9. Para pengedar menggunakan jalur laut karena memanfaatkan kondisi wilayah perairan Jayapura yang luas,” tutur Alamsyah.

Ia pun berharap dukungan dari masyarakat setempat untuk mengungkap kasus peredaran ganja yang marak terjadi di Jayapura. ”Selama ini kami juga menjalin kerja sama dengan pihak TNI AL, TNI AD, dan pemda setempat untuk upaya pencegahan peredaran narkoba,” ucapnya.

Diketahui, Kota Jayapura merupakan pintu masuk perdagangan ganja dari negara Papua Niugini. Sepanjang tahun 2021, pihak kepolisian menangkap 23 pengedar ganja asal Papua Niugini di Jayapura. Mereka masuk ke Jayapura melalui jalan tikus dan lima jalur pelayaran tradisonal di perbatasan Indonesia-Papua Niugini.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua, John Gobay, berpendapat, semakin maraknya peredaran ganja tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menyebabkan masa depan generasi muda Papua terancam. Hal ini juga diperparah belum adanya fasilitas khusus rehabilitasi pengguna narkoba di Papua

”Kami berharap pemerintah pusat dan Pemprov Papua bersinergi menyiapkan fasilitas rehabilitasi. Tujuannya untuk menyelamatkan anak-anak Papua yang telah terjerumus sebagai pemakai narkoba,” kata John. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: