Lintas Papua

407.546 Warga Papua Tidak Bersekolah, Prioritaskan PAUD

JAYAPURA – Peranan pendidikan anak usia dini harus diprioritaskan untuk mengatasi angka putus sekolah. Angka mayoritas putus sekolah terjadi di jenjang pendidikan sekolah dasar. Berdasarkan data penelitian akademisi Universitas Papua, hingga saat ini sebanyak 407.546 penduduk di Papua putus sekolah.

Diketahui dari data penelitian demografi yang dilaksanakan akademisi Universitas Papua, Agus Sumule, sebanyak 407.546 warga Papua usia sekolah tidak melanjutkan pendidikan. Mereka meliputi 147.778 anak dengan usia sekolah di jenjang sekolah dasar (SD), 131.878 anak dengan usia sekolah di jenjang sekolah menengah pertama (SMP), dan 127.889 anak dengan usia sekolah di jenjang sekolah menengah atas (SMA).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah (PPAD) Provinsi Papua Protasius Lobya, di Jayapura, Kamis (10/11/2022), membenarkan adanya kondisi itu. Ia menyatakan, mayoritas anak di Papua yang tidak melanjutkan sekolah adalah pelajar kelas I hingga kelas III SD.

Menurut Protasius, penyebab banyaknya anak putus sekolah karena belum optimalnya peran pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kota dalam pelaksanaan program pendidikan. Program tersebut, misalnya, menggerakkan layanan pendidikan sejak tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga jenjang SMA di seluruh wilayah.

”Banyak tantangan yang dihadapi penduduk Papua, khususnya anak-anak, untuk mengenyam pendidikan di sekolah. Misalnya, masalah infrastruktur dan ketersediaan tenaga pendidik. Seharusnya pemerintah daerah sudah menyiapkan solusi yang strategis untuk mencegah warga berhenti bersekolah. Salah satu solusinya adalah pendidikan anak usia dini (PAUD),” tutur Protasius.

Ia menuturkan, mayoritas anak yang melalui PAUD sudah terbiasa dan memiliki motivasi untuk melanjutkan sekolah hingga jenjang SMA. Sebab, anak-anak telah beradaptasi dengan lingkungan sekolah, teman-teman sekelas, dan mengenal huruf serta angka.

Ia pun menyatakan Dinas PPAD Papua melalui Kelompok Kerja Bunda Paud selalu rutin melaksanakan pelatihan tenaga tutor PAUD di Jayapura setiap tahun. Para tutor yang didatangkan dari seluruh wilayah Papua ini akan menggunakan materi pelatihan menyiapkan tenaga guru di wilayahnya.

Diketahui, terdapat 1.796 lembaga PAUD dan 511 tempat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Papua. Sebanyak 685 lembaga PAUD dan 90 PKBM yang telah terakreditasi.

”Kami berharap peran dari lembaga keagamaan turut melaksanakan kegiatan PAUD dalam pembekalan rohani bagi anak-anak. Misalnya, sekolah minggu di gereja. Sebab, tidak semua wilayah di Papua telah memiliki lembaga PAUD yang terakreditasi,” kata Protasius.

Ketua Badan Akreditasi Nasional PAUD dan Pendidikan Non Formal Papua Siti Amanah memaparkan, banyak lembaga PAUD belum memenuhi delapan standar, seperti tenaga pengajar wajib lulusan sarjana PAUD. Selain itu, jajaran dinas pendidikan di daerah belum memahami pentingnya lembaga PAUD berakreditasi.

”Salah satu faktor lain adalah belum tersedianya fasilitas jaringan internet yang merata di seluruh wilayah Papua. Hal ini menyebabkan lembaga pendidikan tersebut tidak bisa mengakses sistem penilaian akreditasi secara daring,” papar Siti.

Ros Nian selaku tutor lembaga PAUD Pacema di Sentani Kabupaten Jayapura mengatakan, PAUD sangat penting untuk mengenalkan suasana belajar secara lebih dini bagi anak-anak asli Papua. Ros mengatakan, anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan belajar. Total sebanyak 43 anak yang mengikuti kegiatan belajar di lembaga PAUD Pacema.

”Saya bersama empat guru melatih anak-anak ini tentang aneka permainan dan belajar bersama untuk mengenal huruf serta angka. Kendala utama yang kami hadapi selama ini adalah minimnya dukungan orangtua agar anaknya mengingat kegiatan belajar di PAUD Pacema,” tutur Ros.

Tutor Sekolah Bamas Papua di Kabupaten Mamberamo Tengah, Yunus Kogoya, mengatakan, pihaknya melaksanakan kegiatan belajar bagi anak-anak setiap hari secara bergiliran di empat kampung. Di setiap kampung, terdapat satu kelas.

”Jumlah anak yang mengikuti kegiatan belajar di empat kampung ini lebih dari 100 orang. Kami menyampaikan materi kepada anak-anak dengan kombinasi bahasa ibu dan bahasa Indonesia sehingga mereka lebih mudah memahami,” tutur Yunus. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.