Lintas Papua

Hilang Gizi Bayi Pengungsi di Maybrat

SORONG – Nico Fatem lahir dengan tubuh kurus. Menghirup udara dunia pertama kali pada 27 Oktober 2022, ia lahir di barak pengungsi Papua di Kumurkek, ibu kota Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Hari itu sekitar dua pekan sebelum jeda kemanusiaan—inisiatif menghentikan konflik dan mengurus pengungsi Papua—ditandatangani, pada 11 November 2022. Nico diduga mengidap gizi buruk.

Habel Sori, kakek Nico, bercerita, cucunya tak mendapat asupan nutrisi yang baik sejak dalam kandungan ataupun setelah dilahirkan. Berdiam di pengungsian, ibunda Nico, Yohana, cuma bisa makan sekali sehari tanpa lauk. Hanya dedaunan dari sekitar tempat pengungsian yang menemani nasi di piring. “Waktu istirahatnya juga tak tentu,” kata Habel, Sabtu (31/12/2022).

Bobot tubuh Nico tak kunjung bertambah. Menurut Habel, Yohana terus berusaha menyusui putranya. Namun, tanpa makanan bergizi, produksi air susu Yohana tak lancar. Kondisi Nico pun terus memburuk. Pada 25 Desember lalu, kala Natal tiba, Nico sampai pada ajalnya. Tubuh bangsainya yang tergerus gizi buruk dibungkus kain lampin marun sebelum dikuburkan.

Bukan pilihan Yohana untuk melahirkan di kamp pengungsian. Bersama Habel, warga Kampung Aikus, Distrik Aifat Timur Tengah, itu mengungsi setelah konflik antara kelompok bersenjata dan aparat keamanan meletus di Maybrat pada 2 September 2021. Empat prajurit Tentara Nasional Indonesia tewas dalam penyerbuan di pos persiapan Komando Rayon Militer Kisor di Distrik Aifat Selatan.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sayap militer Organisasi Papua Merdeka, bertanggung jawab atas penyerangan pos itu. Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengklaim operasi tersebut dijalankan oleh pasukan Komando Daerah Pertahanan IV Sorong Raya. Hingga Oktober 2022, polisi telah menangkap sebelas orang yang diduga terlibat dalam penyerbuan itu.

Kasus malanutrisi diperkirakan juga menimpa sejumlah bayi di barak-barak pengungsi warga Maybrat. Koordinator Koalisi Kemanusiaan Maybrat, Pastor Bernardus Bofitwos Baru, mencatat sedikitnya 12 anak meninggal sejak eksodus penduduk ke kamp pengungsian. Di antaranya tiga bayi yang menderita gizi buruk dengan tubuh yang kerempeng.

Jumlah anak balita yang meninggal diperkirakan lebih tinggi daripada yang tercatat. Sebab, masih banyak pengungsi bermukim di hutan Papua yang terkenal ganas dan minim tumbuhan pangan. Sebelumnya, sejumlah kasus gizi buruk juga tercatat terjadi di wilayah lain di Papua.

Pastor Bernardus juga mendengar keluh dari para mama di kantong-kantong pengungsi bahwa anak-anak mereka mengalami gizi buruk. “Para ibu cuma makan keladi sehingga berpengaruh ke kualitas air susu,” ujar padri Ordo Santo Agustinus ini.

Kepala Dinas Persandian dan Statistik Maybrat, Manfred Mate, membantah adanya kasus gizi buruk di wilayahnya. Meski demikian, ia mengakui ada bayi meninggal karena faktor fasilitas kesehatan yang buruk. “Pemerintah sudah memberi makan dan minum. Sekalipun tak memenuhi, tapi itu sudah membantu,” tuturnya.

Kabupaten Maybrat merupakan satu dari enam kabupaten yang diusulkan menjadi lokasi jeda kemanusiaan Papua yang diprakarsai Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, United Liberation Movement for West Papua, dan Majelis Rakyat Papua. Salah satu isinya ialah membuka koridor kemanusiaan untuk menangani pengungsi.

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 2021, sebanyak 34,5 persen anak balita di Maybrat mengalami stunting. Sayangnya tenaga kesehatan di wilayah itu sulit mendatangi para pengungsi lantaran faktor keamanan. (SEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.