Lintas Papua

Hujan Deras Landa Sorong

SORONG – Enam kelurahan dan sejumlah ruas jalan tergenang air di Kota Sorong, Papua Barat Daya, karena hujan deras selama beberapa jam pada Rabu (7/6/2023). Kondisi ini dipicu air yang meluap dari saluran drainase dan tingginya curah hujan di Sorong selama sepekan terakhir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong Herlin Sasabone mengatakan, jumlah warga yang terdampak mencapai 50 keluarga. Sejumlah kelurahan yang tergenang air mencapai hingga 50 sentimeter adalah Matalamagi, Sawagumu, Klasaman, Klawuyuk, Kladufu, dan Klasabi.

Herlin memaparkan, hujan terjadi sejak Selasa pukul 21.00 WIT hingga pukul 00.00 WIT dengan intensitas lebat. Curah hujan mencapai 88,3 milimeter dalam jangka waktu dua jam.

Berdasarkan pantauan terakhir hingga pukul 17.00 WIT, air di enam kelurahan telah surut. Akan tetapi, masih terjadi hujan gerimis pada Rabu sekitar pukul 18.00 WIT.

”Pemicu banjir karena tingginya curah hujan dan fungsi saluran drainase yang tidak optimal. Air juga mengenangi sejumlah ruas jalan umum selama beberapa jam,” kata Herlin.

Herlin menuturkan, BPBD Kota Sorong memperingatkan warga untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor. Berdasarkan data BMKG, Sorong memasuki musim hujan dari Juni hingga Agustus.

Ia mengungkapkan, terdapat lima distrik atau kecamatan yang rawan banjir, yakni Sorong Utara, Sorong Timur, Sorong, Sorong Manoi, dan Sorong Barat. Pada tahun ini sudah terjadi dua kali banjir di Kota Sorong.

Sejak tahun 2020 hingga 2022, sudah terjadi tiga kali banjir dan longsor. Kondisi ini dipicu setelah hujan deras selama berjam-jam.

Banjir dan longsor yang pertama pada 16 hingga 17 Juli 2020. Tercatat lima warga meninggal dalam musibah ini. Bencana yang sama terjadi pada 11 September 2021, tetapi tidak terdapat korban.

Kemudian pada peristiwa banjir dan longsor pada 23 Agustus 2022 terjadi di empat distrik. Tiga warga meninggal dan 10 orang luka-luka akibat terkena longsoran tanah. Sementara jumlah warga yang terdampak banjir sekitar 2.000 jiwa.

”Kami meminta warga waspada curah hujan tinggi yang terjadi di Sorong. Warga juga harus menyiapkan upaya evakuasi untuk mengantisipasi banjir dan longsor,” ujar Herlin.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sorong Raya Feki Mobalen mengatakan, terdapat sejumlah faktor pemicu banjir yang terus melanda Kota Sorong. Beberapa di antaranya adalah sedimentasi sungai, masalah sampah, dan tambang galian C.

Data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Papua Barat pada 2022, terdapat 10 titik galian C yang tersebar di daerah Malanu dan Kelurahan Matamalagi. Kesepuluh lokasi ini terindikasi tidak berizin.

Tiga lokasi galian C di Sorong Utara pada April 2023, ternyata letaknya dekat dengan permukiman warga. Di Sungai Remu, langsung terlihat banyak rumah di pinggir daerah aliran sungai disertai tumpukan sampah. Kondisi itu diyakini turut memicu bencana banjir. (MAR)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.