Lintas Papua

Kontak Senjata kembali Meletus, Ratusan Warga Nduga Eksodus

JAYAPURA – Situasi keamanan di Distrik Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, kembali mencekam. Dalam beberapa hari terakhir, kontak senjata kembali meletus antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).

Koordinator Gereja Kingmi Wilayah Nduga, Eliaser Tabuni, mengatakan, pertempuran terjadi, di antaranya, di Kampung Nogolaid, Distrik Kenyam. Konflik bersenjata itu menyebabkan warga Kampung Nogolaid, Distrik Kenyam, dilanda ketakutan. Sebagian masyarakat mulai berjalan kaki meninggalkan kampung mereka untuk menuju daerah yang dianggap aman dari konflik, seperti Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo. “Sebagian lagi warga mengungsi ke hutan,” kata Eliaser, Rabu (31/5/2023).

Eksodus masyarakat tersebut, kata Eliaser, tak hanya dipicu rasa takut. “Tapi rumah warga rusak berat. Gereja juga hancur karena tembakan,” ujarnya.

Merujuk laporan dari warga Nogolaid, menurut Eliaser, sedikitnya enam personel TNI dan empat anggota TPNPB-OPM dikabarkan terkena tembakan. “TPNPB masuk kampung karena tahu TNI sedang berada di Kenyam untuk selamatkan pilot,” kata Eliaser.

Sebelumnya, Distrik Kenyam menjadi salah satu basis TNI dalam upaya penyelamatan Philip Mark Mehrtens, pilot Susi Air yang disandera oleh milisi TPNPB-OPM di bawah pimpinan Egianus Kogeya sejak 7 Februari lalu. Upaya pencarian, yang juga dilakukan di beberapa wilayah sekitar Nduga, belakangan semakin mendesak setelah kelompok Egianus mengancam akan menghabisi nyawa Philip jika pemerintah RI dan Selandia Baru tak memenuhi tuntutan mereka.

Menurut Eliaser, Gereja Kingmi akan meminta bantuan kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan pegiat HAM di Papua untuk mendesak TNI-Polri agar segera menarik pasukan. Dia hakulyakin penarikan pasukan akan membuat situasi di Papua kembali damai. “Karena TPNPB tidak akan masuk kampung kalau tidak ada TNI,” ujarnya. “Kami minta jangan ada pertempuran lagi karena masyarakat yang jadi korban.”

Adapun Gereja Kingmi Wilayah Nduga, kata Eliaser, juga berencana menemui kelompok Egianus untuk meminta menghentikan kontak senjata. “Karena kami yakin Egianus tak akan tembak orang asli Papua,” ujarnya.

Hingga tadi malam, Kepala Penerangan Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, Kolonel Herman Taryaman, tidak merespons upaya konfirmasi Tempo atas kabar pertempuran yang kembali meletus di Kenyam, Nduga. Adapun Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Julius Widjojono menyatakan belum mendapatkan laporan dari Papua ihwal kontak bersenjata tersebut, termasuk kabar jatuhnya korban jiwa dari TNI. “Jika sudah ada laporannya, saya akan sampaikan,” kata Julius.

Adapun kabar kontak senjata ini justru lebih dulu disebarkan oleh TPNPB-OPM pada Selasa, 30 Mei lalu. Lewat siaran pers, juru bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan bahwa pasukan TPNPB di Komando Daerah Pertahanan III Ndugama-Derakma pimpinan Egianus Kogeya melakukan rangkaian penyerangan terhadap TNI-Polri pada 26-29 Mei lalu di Kenyam. Penyerangan terakhir pada Senin lalu menyasar markas Komando Rayon Militer Nduga di Kenyam.

Sebby mengklaim penyerangan tersebut menewaskan tujuh personel TNI. Pertempuran, kata Sebby, yang merujuk laporan dari Batalyon TPNPB Wesem, berlanjut di Kampung Nogolaid. “TNI pakai roket, Kampung Nogolaid jadi sasaran. Rumah warga hancur,” tutur Sebby dalam siaran pers tertulis tersebut. Dalam keterangannya, Sebby menyatakan tak ada korban jiwa dari kubu TPNPB-OPM. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.