Kronologi Staf Mensos Risma Hilang Kontak, Terjebak di Pedalaman Papua 16 Jam

JAKARTA – Tiga staf Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini sempat hilang kontak di pedalaman Papua selama 16 jam, sejak Kamis (24/3/2022) hingga Jumat (25/3/2022). Mereka ternyata terjebak di muara sungai karena cuaca ekstrem dan kerusakan mesin kapal.

“Yang kita lakukan ketika itu hanya berpikir logis saja dan pasrah sepasrahnya dengan berdoa,” kata salah seorang staf yang terjebak itu, Latifah Ningrum seperti dilansir Republika, Sabtu (26/3/2022).

Selain Latifah yang menjabat sebagai Koordinator Bagian Organisasi Hukum dan Humas Ditjen Pemberdayaan Sosial, dua staf lainnya yang ikut terjebak adalah Subkoordinator Bagian Humas Ratri Handayani dan Pengelola Kehumasan Ersyad Tonnedi. Ketiganya merupakan bagian dari tim yang mempersiapkan kunjungan Risma untuk memberikan bantuan kepada warga Kampung Erosaman dan Amagais di Distrik Dorkomour, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua pada Kamis pagi.

Latifah bercerita, pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan itu bermula ketika belasan tim Kemensos hendak kembali ke Kota Agats, Ibu Kota Kabupaten Asmat, pada Kamis siang. Mereka bertolak dari Kampung Kamur di Distrik Pantai Kasuari dengan menyusuri sungai menggunakan enam kapal.

Perjalanan menyusuri sungai itu diiringi hujan deras. Sesampainya di muara sungai sekitar pukul 12.00 WIB, kapal mereka tak bisa mengarungi lautan karena ombak sedang tinggi. Mereka lantas menunggu di muara sungai itu.

Setelah ombak mereda pukul 13.00 WIB, semua kapal melanjutkan perjalanan. Namun, kapal yang ditumpangi Latifah tertinggal di muara sungai itu.

“Tiba-tiba mesin (kapal) kami bermasalah. Tidak sampai mati, tapi kecepatannya hilang. Yang lain sudah berangkat, akhirnya tertinggallah kami,” ujar Latifah.

Sialnya, Latifah dan dua rekannya tak bisa menghubungi anggota tim yang berada di lima kapal yang telah melaju. Sebab, sinyal ponsel tak ada sama sekali.

Pengemudi kapal bernama Neimar lantas mencoba memperbaiki mesin kapalnya. Saat mesin kapal rampung diperbaiki, ombak Laut Arafuru itu ternyata kembali menggila.

“Ketinggian ombak sampai 2 meter, kalau kita paksakan pasti kapal terbalik. Kalau ngotot, nyawa taruhannya,” ujar Latifah.

Mereka pun terpaksa kembali menunggu ombak tenang di muara sungai itu. Namun, ombak tak kunjung mereda hingga pukul 18.00 WIB.

Lantaran sudah gelap, Latifah memutuskan untuk menginap di kapal. Namun Neimar menyarankan untuk menginap di perkampungan terdekat.

Latifah setuju. Kapal berputar arah ke hilir sungai dan berhasil sampai di sebuah kampung pinggir sungai setelah 20 menit perjalanan.

“Kampung itu gelap sekali. Tidak ada lampu, kami hanya pakai senter. Tidak ada kehidupan,” ujarnya.

Mereka lantas menginap di rumah seorang warga. Beralaskan sebuah tikar, Latifah dan dua staf lainnya pun terlelap karena sudah kelelahan.

“Pagi jam 5 habis subuh, kita berangkat. Ombak ketika itu sudah tenang,” ujar Latifah.

“Kami berhasil sampai di pelabuhan Agats jam setengah 8 pagi,” imbuhnya.

Latifah sangat bersyukur bisa kembali ke Agats dalam kondisi baik-baik saja. Kendati telah merasakan terjebak di antara muara sungai dan ombak besar di pedalaman Papua selama berjam-jam, Latifah mengaku tak kapok membantu proses penyaluran bantuan ke daerah-daerah terpencil.

Alasannya sederhana: “karena itu memang tugas kita”. “Saya sih nggak kapok, tapi ke depan saya harus tahu diri lah istilahnya karena saya sudah berusia 56 tahun,” ujar Latifah sembari tertawa. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: