Lintas Papua

Percepat Penurunan Stunting, Dinkes Kaimana Gelar Pemetaan dan Analisis Situasi

KAIMANA – Presiden Joko Widodo atau Jokowi menargetkan persentase stunting dapat diturunkan dari 24,4 persen ke 14 persen pada 2024. Merujuk kepada target tersebut, Kemenkes melakukan perhitungan bahwa per 2022 penurunan angka stunting harus berkisar 2,7 persen. Besaran penurunan rata-rata 2,7 persen ini pun akan menjadi rujukan setiap tahun.

Untuk mewujudkan target itu, Pemerintah Kabupaten Kaimana melalui Dinas Kesehatan melakukan pemetaan dan analisis situasi program stunting bertempat di Kaimana Hotel Beach, akhir pekan lalu.

Kegiatan yang berlansung selama tiga hari itu menghadirkan dua narasumber, yakni perwakilan Tim LGCB-ASR ENEY Regional V Makassar Ditjen Bina Bangda Kemendagri, Jawahir, dan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, Andre Parinusa.

Ketua Panitia I Nyoman Winata mengatakan, kegiatan pemetaan dan analisis situasi program stunting itu dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya perbaikan situasi pelaksanaan program pencegahan dan penurunan stunting, sebagai dasar perumusan rekomendasi perencanaan tindakan perbaikan manajmenen layanan kesehatan.

“Penanganan stunting harus dilakukan secara sistematis, terencana dan terukur melalui aksi-aksi yang terintegrasi dengan pihak-pihak terkait. Sehingga upaya percepatan penurunan stunting berjalan sesuai harapan,” ungkap I Nyoman Winata.

Percepatan penurunan stunting, sambung I Nyoman, dititikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi yaitu ketahanan pangan, lingkungan sosial, pelayanan kesehatan, serta kesehatan lingkung yang meliputi ketersediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.

“Analisis situasi dilakukan untuk memahami permasalahan dalam integrasi intervensi gizi spesifik dan sensitif pada sasaran rumah tangga 1.000 hari pertama kehidupan (HPK),” terang Nyoman.

Kepala Seksi Kesling dan Kejaor Bidang Kesehatan Masyarakat itu menyebutkan, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menyebutkan, angka kasus stunting Kabupaten Kaimana tahun 2021 sebesar 28,5 persen. Hasil entry e-PPGBM tahun 2022 pada 8 puskesmas dari 10 puskesmas di Kaimana pertanggal 26 September 2022 mencatat prevalensi stunting sebesar 21,1 persen.

Sementara angka prevalensi di Papua Barat berada di atas angka nasional yaitu sebesar 26,2%, dimana angka nasional sendiri berdasarkan SSGI adalah sebesar 24,41%. Angka kasus stunting dari tahun 2021-2024 di Papua Barat rata-rata sebesar 2,5% setiap tahunnya.

“Bertolak dari data tersebut maka perlu untuk dilakukan pemetaan dan analisis situasi agar petugas Puskesmas dan lainnya dapat melengkapi setiap data yang diperlukan guna perbaikan manajemen pelayanan,” ujarnya.

Kepala Bappeda Kabupaten Kaimana Abdul Rahim Furuada berharap kegiatan pemetaan dan analisis situasi ini menyamakan persepsi dan  koordinasi antar sektor.

“Percepatan penurunan stuting  bukan menjadi ranahnya Dinas Kesehatan, tetapi juga harus melibatkan sejumlah OPD terkait. Semuanya perlu  berkolaborasi untuk menangani masalah stuting di daerah,” kata Abdul Rahim dalam arahannya.

Dikatakan, perlu ada komitmen bersama OPD terkait untuk mempercepat penurunan stuting di Kabupaten Kaimana. Menurutnya, percepatan penururnan stuting merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan.

“Aksi percepatan penurunan stunting harus dapat menghasilkan inovasi program dan kesamaan pandangan atau persepsi. Sehingga program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh perangkat daerah termasuk kampung dapat dilakukan secara terintegrasi dan bersinergi serta tepat sasaran yang sesuai dengan misi Pemda dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Kaimana,” paparnya. (PBN)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.