Lintas Papua

Polisi Ringkus Satu Lagi Pelaku Pembakaran Warga di Sorong

SORONG – Aparat kepolisian kembali menangkap satu pelaku pembakaran seorang perempuan bernama Wage Suki hingga tewas di Kota Sorong, Papua Barat Daya, pada Kamis (26/1/2023). Aparat masih memburu enam pelaku lainnya.

Kepala Polresta Sorong Kota Komisaris Besar Happy Perdana Yudianto mengatakan, pihaknya menangkap pelaku berinisial AT di rumahnya, di Jalan Kanal Victory pada Rabu (25/1) pukul 18.40 WIT. AT merupakan pelaku kedua yang ditangkap pihak kepolisian setelah pelaku berinisial FT lebih dulu diringkus.

Happy memaparkan, AT berperan membeli bahan bakar bensin jenis pertalite. Kemudian, ia memberikan pertalite itu kepada FT untuk menyiram korban dan membakarnya. Wage kemudian tewas dengan luka bakar 90 persen di tubuhnya.

Massa menangkap dan mengeroyok Wage yang tengah berjalan di Kompleks Kokoda, Kota Sorong, pada Selasa (24/1) pukul 06.30 WIT. Mereka mengira korban, yang diduga orang dengan gangguan jiwa ini, sebagai bagian dari komplotan penculik anak.)

Para pelaku mengeroyok korban hingga babak belur. Sejumlah warga dan empat personel Polsek Sorong Timur berupaya menyelamatkan korban. Akan tetapi, jumlah massa yang begitu banyak menggagalkan upaya aparat kepolisian untuk mengevakuasi korban.

Massa kemudian menelanjangi korban dan membakar tubuhnya yang telah disirami bensin. Beberapa saat kemudian, sejumlah warga berhasil memadamkan api. Namun, Wage meninggal saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Sele Be Solu.

“Kami mengejar pelaku lainnya yang melakukan provokasi, aksi pemukulan, hingga pembakaran tubuh korban berdasarkan pemeriksaan kedua pelaku. Kami juga mengambil keterangan dari dua orang saksi,” papar Happy.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Sorong Kota Inspektur Satu Ade Anandini mengatakan, AT ditangkap di depan rumahnya tanpa perlawanan. Pihak kepolisian saat ini masih mengejar pelaku lain yang diperkirakan sebanyak enam orang.

Tarmizi, warga di Kompleks Kokoda yang berupaya menyelamatkan Wage di lokasi, mengungkapkan, massa berjumlah sangat banyak ketika menangkap dan menganiaya korban. “Diperkirakan jumlah massa sekitar 100 orang. Mereka juga mencoba membakar saya dan anggota kepolisian yang berupaya mengevakuasi korban,” ucapnya.

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Kota Sorong La Tumpu mengatakan, korban sama sekali tidak bersalah, tapi menjadi target penganiayaan massa. Ia pun menegaskan, korban yang berasal dari Sulawesi Tenggara ini bukanlah pelaku penculikan anak dan sedang dalam kondisi mengalami gangguan jiwa.

“Perbuatan para pelaku sangat tidak berperikemanusiaan. Kami mengutuk perbuatan para pelaku dan meminta pihak kepolisian untuk memproses hukum mereka,” katanya.

Aktivis perempuan Papua Barat, Yuliana Numberi berharap, penanganan kasus pembakaran korban WG tetap mempertimbangkan berbagai aspek. Kasus tersebut harus menjadi atensi bagi penegak hukum, pemerintah daerah (pemda), dan awak media sehingga lebih meningkatkan peran melawan informasi hoaks yang bertebaran di media sosial.

“Harus jadi catatan semua pihak bahwa hoaks itu yang menjadi penyebab awal,” ujar Yuliana. Dia menyarankan agar pemda dan pihak penegak hukum cekatan merespon seluruh informasi yang bertebaran di ruang maya.

Menurut dia, pemda melalui instansi terkait harus memiliki call center sebagai sarana bagi masyarakat untuk mengecek sebuah informasi. “Edukasi dan sosialisasi itu penting supaya masyarakat tahu bahwa mana hoaks dan mana bukan,” ucap Yuliana. (MAR/SEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.