Putri Wapres Bekali Mahasiswa Deteksi Dini Konflik Sosial

MANOKWARI – Putri dari Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah Ma’ruf memberikan kuliah umum kepada mahasiswa STIH Caritas Papua dan STIE Mah-Eisa Manokwari.

Pada kesempatan itu Azizah memaparkan materi soal deteksi dan respon dini terhadap konflik sosial di Tanah Air.

Menurut Azizah, konflik yang sering terjadi di Indonesia, entah itu masalah sosial, politik, ekonomi yang sering kali muaranya mengatas namakan agama. Ia menilai hal itu dikarenakan pemahaman agama yang masih bersifat formalitas.

“Nilai-nilai berbangsa dan bernegara sudah tercantum dalam Pancasila yang diharapkan menjadikan Indonesia sebagai negara yang terbuka dalam akses masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat”, ucapnya.

Dikatakan, peran pendidikan sangat penting dalam memberi pemahaman akan keberagaman dan pemikiran yang lebih kritis untuk menyaring informasi yang cenderung memecah belah masyarakat.

“Peran perguruan tinggi dan pendidikan sangat penting untuk menghasilkan generasi yang berfikir kritis dalam menyaring hal baru yang muncul, guna mengurangi isu yang dapat memecah belah kesatuan,” ujarnya.

Azizah berharap STIH Caritas Papua dan STIE Mah-Eisa Manokwari bisa menyiapkan SDM yang critical thinking dan adaptasi yang baik juga menghadirkan self confidence untuk menghadirkan pemimpin nantinya terutama dalam melihat konflik agama di Indonesia.

Ketua STIH Caritas Papua Dr Roberth K R Hammar mengatakan, Azizah membawa materi sebanyak satu jam terkait deteksi dini terkait konflik sosial di Indonesia.

“Kami memandang materi seperti ini perlu untuk diturunkan ke mahasiswa di STIH Caritas dan STIE,” ujar Roberth.

Selain terkait konflik sosial, Azizah juga memberikan sedikit pencerahan terkait radikalisme dan lainnya. “Kita ini adalah negara bangsa (suku, agama dan ras), sehingga harus dipupuk semua itu dalam satu kesatuan,” tuturnya.

Roberth menuturkan, seluruh keberagaman itu merupakan sebuah kekayaannya yang sangat luar biasa untuk Indonesia. Hanya saja, ketika salah dalam mengelola keberagaman itu maka tetap akan menjadi ancaman bagi Indonesia.

“Kita kaya dengan keberagaman, namun kalau salah dalam mengelola maka akan merusak kehidupan bangsa Indonesia,” jelasnya.

Ia pun berharap, melalui kuliah umum ini mahasiswa bisa lebih memahami keberagaman agama dan suku di Indonesia.

“Kuliah ini sangat penting karena Indonesia memiliki budaya dan agama yang beragam. Ini juga merupakan salah satu upaya untuk memberi pengetahuan tentang keberagaman di Indonesia,” katanya. (PBN)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: