Serangan KKB di Puncak Papua Belum Terhenti

JAYAPURA, papuabaratnews.co – Serangan kelompok kriminal bersenjata atau KKB terhadap warga sipil di Kabupaten Puncak, Papua, belum terhenti. Paling terkini, seorang pengojek sepeda motor bernama Udin ditembak mati di Kampung Eromaga, Rabu 14 April 2021. KKB juga membakar dua rumah warga.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Mathius Fakhiri, saat ditemui di Markas Polda Papua, Jayapura, Rabu sore, mengatakan, korban terkena tembakan KKB setelah mengantar penumpang pada pukul 13.05 WIT. Udin tertembak di bagian dada dan pipi kiri.

”Jenazah korban telah dievakuasi ke Puskesmas Ilaga. Proses evakuasi korban ke puskesmas berjalan aman tanpa kontak tembak,” kata Mathius.

Mathius menuturkan, kelompok Lekagak Telenggen diduga terlibat dalam penembakan itu. Kelompok Lekagak sering menebar teror di daerah Puncak. Mathius pun menyatakan, aparat TNI dan Polri di Ilaga, ibu kota Puncak, dalam status kesiagaan tertinggi untuk mengantisipasi serangan susulan KKB.

”Kami mengimbau para warga, khususnya pengojek sepeda motor, agar tidak bekerja di luar daerah Ilaga. Ini untuk menghindari aksi penembakan kelompok tersebut,” kata Mathius.

Ia menambahkan, KKB di Distrik Beoga kembali membakar dua rumah milik warga. Pemilik kedua rumah ini adalah seorang tenaga pengajar dan anggota DPRD Puncak.

Sementara itu, pasukan tim Nanggala Satgas Nemangkawi telah tiba di Beoga pada Rabu siang. Tim ini akan mengamankan Lapangan Terbang Beoga agar pesawat bisa membawa barang kebutuhan pokok dengan aman. ”Dengan kehadiran tim ini, pesawat bisa membawa barang kebutuhan pokok ke Beoga tanpa diserang KKB. Kami pun bisa mengevakuasi 46 warga yang mengungsi di sejumlah lokasi di Beoga,” tambahnya.

Subkoordinator Bagian Pelayanan Pengaduan Komnas HAM Wilayah Papua Melchior Weruin mengungkapkan, meluasnya cakupan serangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang semakin brutal memiliki pesan. Dia menilai, di balik aksi ini, ada penolakan sejumlah kebijakan pemerintah dalam beberapa tahun menjelang berakhirnya regulasi otonomi khusus (otsus) di Papua.

Regulasi yang ditolak OPM meliputi penambahan pasukan pasca-dibentuknya Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III sejak tahun 2019, penolakan evaluasi otsus, penolakan hadirnya blok tambang emas Wabu di Intan Jaya, dan menolak rencana pemekaran wilayah.

”Semakin meningkatnya serangan KKB ke pekerja kemanusiaan dan fasilitas publik karena hadirnya organisasi OPM baru yang sulit dikendalikan. Rata-rata umur mereka 17 tahun hingga 25 tahun dan telah memegang senjata api,” kata Melchior.

Data Polda Papua, terjadi 49 gangguan keamanan oleh KKB sepanjang tahun 2020. Teror penembakan KKB terjadi di tujuh wilayah hukum Polda Papua, meliputi Nduga, Intan Jaya, Paniai, Mimika, Puncak Jaya, Keerom, dan Pegunungan Bintang. Sebanyak 17 orang meninggal akibat aksi KKB.

Pada 2021, total telah terjadi 10 serangan KKB yang menyebabkan aparat keamanan dan warga menjadi korban. Tiga anggota TNI dan lima warga sipil meninggal, sementara satu anggota TNI dan seorang warga mengalami luka berat karena terkena tembakan. (KOM)

 

**Artikel ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 15 April 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: