Unit PPA Tangani 84 Kasus Kejahatan Terhadap Perempuan dan Anak

MANOKWARI – Sejak Januari hingga Juli 2022, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polres Manokwari menangani 84 kasus kejahatan terhadap perempuan dan anak di wilayah hukum Polres Manokwari.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Manokwari, Ipda Devriyanti mengatakan dari 84 kasus yang ditangani unit PPA Polres Manokwari didominasi kasus penganiayaan sebanyak 44 kasus.

Ia menjelaskan dalam penanganan kasus tersebut, sebagian dilakukan dengan restorative justice atau pendekatan penyelesaian konflik hukum dengan menggelar mediasi antara korban dan terdakwa.

“Kasus penganiyayaan lebih banyak kami melakukan upaya mediasi terlebih dahulu. Kedua belah pihak kita pertemukan untuk dilakukan mediasi. Kalau memang tidak ada titik temu, maka kami akan lanjut prosesnya,” ujarnya di Manokwari, Selasa (2/8/2022).

Devriyanti merincikan dari ke 84 kasus yang ditangani unit PPA Sat Reskrim Polres Manokwari diantaranya pengeroyokan 5 kasus, perlindungan anak 12 kasus, pencurian 1 kasus, perbuatan tidak menyenangkan 3 kasus, pencemaran nama baik 1 kasus, percobaan persetubuhan 3 kasus, perzinahan 2 kasus, penipuan 1 kasus, informasi dan transaksi elektronik 3 kasus, pengancaman 3 kasus, KDRT 4 kasus, asusila 2 kasus.

Ia menjelaskan, sejauh ini sudah ada 8 kasus yang masuk dalam tahap dua atau P21. Dari 8 kasus tersebut, 5 kasus merupakan perkara persetubuhan anak.

“Delapan kasus diantaranya kekerasan dalam rumah tangga 1 kasus, penganiyayaan 1 kasus, persetubuhan terhadap anak 5 kasus dan penggelapan 1 kasus,” rincinya.

Devriyanti menuturkan kasus persetubuhan rata-rata pelakunya merupakan keluarga dari korban yakni ayah tiri, ayah kandung, atau paman.

“Pelakunya masih ada hubungan keluarga,” tuturnya.

Mengingat tingginya kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur, Devi lalu mengingatkan orangtua korban (terutama ibu) untuk memperhatikan anaknya dari pergaulan dan tingkah laku dalam rumah.

“Sebab ada perkara persetubuhan yang dilakukan ayah tiri kepada anak tiri hingga hamil 8 bulan yang sudah masuk dalam tahap dua,”.

”Kebanyakan kasus persetubuhan menggunakan modus mengiming-imingi atau menjanjikan sesuatu berupa uang setiap kali melakukan hubungan badan,” paparnya.

Terbaru, kasus dugaan pencabulan seorang ayah berinisial ART (43) terhadap darah dagingnya di Distrik Prafi. Selain diduga mencabuli anaknya sendiri, ART juga diduga lebih dulu melakukan kekerasan dan ancaman terhadap ibu korban.

Tindakan kekerasan dalam hal pemukulan dan bahkan pengancaman dari pelaku ART terhadap istrinya terjadi sejak 2006 hingga 2022. (PBN)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: