Antisipasi Bibit Siklon Tropis, Pemkab Lakukan Koordinasi Lintas Sektor

  • Masyarakat Diimbau Tetap Waspada

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Pemkab Manokwari melakukan Koordinasi bersama BMKG, Basarnas dan Forkopimda mengatisipasi dampak Bibit Siklon Tropis 94W di Wilayah Manokwari dan Papua Barat Barat pada umumnya, bertempat di ruang rapat Sekda, Rabu 14 April 2021.

Kepala BMKG Manokwari, Daniel Tandi menyampaikan rekomendasi kepada Pemkab Manokwari untuk mengimbau masyarakat diwilayah perairan (pesisir) untuk tidak melaut. Hal ini diperkirakan adanya peringatan gelombang tinggi, yakni mencapai 2,5 hingga 4 meter.

“Untuk yang didaerah pesisir panti diminta waspada terhadap dampak banjir pesisir dan gelombang tinggi di pesisir pantai,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, gelombang yang berasal dari pusat siklon bisa sampai ke daerah pesisir Manokwari pada umumnya. Selain itu, ia juga mengimbau kepada semua masyarakat untuk tetap waspada terhadap hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

“Rekomendasi berikutnya yakni untuk menjauhi lereng pegunungan, semakin terjal maka peluang atau potensi longsor semakin besar. Apalagi kalau struktur tanahnya lunak (labil),” jelas Daniel.

“Menjauhi lembah-lembah sungai atau pinggiran sungai. Kita waspada terhadap banjir, karena kalau hujan deras otomatis air sungai meluap. Apalagi jika terjadi banjir bandang,” sambungnya.

Dikatakan Daniel, perairan Manokwari hampir seluruhnya dalam status waspada. Peringatan dini perkembangan bibit siklon tropis 94W diperkirakan akan terjadi mulai 13-19 April untuk potensi bahaya di Papua, Papua Barat dan Indonesia pada umumnya.

Daniel menyebutkan, Manokwari terkena dampak tidak langsung dari daerah pertemuan kumpulan medan angin (konfergensi) yang berdampak hujan lebat disertai petir dan angin kencang.

Menyikapi hal tersebut, (Plh) Sekda Manokwari, Henri Sembiring langsung melakukan pertemuan dan koordinasi lintas sektor. Pihaknya pun telah membagi tugas untuk selanjutnya mensosialisasikan kepada Masyarakat.

Meskipun dampak yang dirasakan saat ini adalah dampak tidak langsung, namun masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Terlebih wilayah pesisir pantai dan nelayanan sangat beresiko, sama halnya dengan wilayah pinggiran sungai dan pegunungan yang juga cukup beresiko.

“Nanti kita sosialisasikan dan buat suratnya. Kita masih mengantisipasi dan berkoordinasi dengan BNPB, masing-masing sudah tahu tugasnya.

Walaupun tidak langsung tetapi kita harus siap. Jadi seandainya terjadi kita sudah siap,” tuturnya.

Kendati demikian, pemerintah belum menetapkan Manokwari sebagai siaga bencana. Melainkan masih dalam bentuk antisipatif dan koordinasi.

“Saya minta kapal-kapal penyeberangan juga harus di warning. Prediksinya sampai tanggal 19 tetapi yang di atas (Tuhan) yang tentukan.

Kita juga akan membuat surat kepada denominasi agama untuk mendoakan agar siklon tropis ini jangan terjadi,” ungkap Sembiring.

“Pengalaman banjir bandang Sentani itu juga tidak berdampak langsung tetapi buktinya banyak korban. Jadi kita harus antisipasi supaya siap siaga terlebih dahulu,” ajaknya.

Hal senada juga diungkapkan (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manokwari, Wanto bahwa semua masyarakat baik nelayan maupun masyarakat secara umum diimbau waspada dalam menghadapi bibit siklon 94W.

“Harus mempersiapkan diri. Dan bagi para nelayan tidak usah (melaut) jauh dulu, dari 13 sampai tanggal 19 April. Ini prakiraannya,” imbaunya.

Menurutnya, seluruh wilayah di Manokwari memiliki pantai, untuk itu ia berharap masyarakat harus menjaga diri dan waspada.

“Kalau dilihat secara visual bibit siklon tersebut mengarah ke Filipina, tetapi ekor-ekornya (dampak) lumayan.

“Semua harus stanby ketika ada angin dan dampak lainnya,” terang Wanto.

Selain itu, beberapa wilayah di Manokwari rawan terhadap bencana alam, baik tanah longsor, banjir, dan daerah patahan lempeng bumi.

“Untuk daerah patahan kemungkinan ada di wilayah Prafi. Untuk banjir hampir semua wilayah di Manokwari rawan banjir, terutama Sidey dan Masni. Longsor di wilayah Tanah Rubuh.

Meskipun status Manokwari saat ini masih dalam bentuk koirdinasi, tetapi masyarakat diimbau untuk tetap waspada,” pungkasnya. (PB19)

**Artikel ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 15 April 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: