Petani Dataran Tinggi Mokwam Keluhkan Sarana Pemasaran

MANOKWARI, papuabaratnews.co Berada di dataran tinggi, dengan suhu udara yang dingin dan sejuk menjadikan lahan pertanian di daerah Mokwam cukup subur sehingga produk pertanian yang dihasilkan juga melimpah. Sayangnya, produk yang dihasilkan oleh para petani lokal tersebut tidak sebanding dengan income (pendapatan) yang diperoleh oleh para petani.

Salah satu petani di Kampung Kwau, Agustina Ullo mengaku kesulitan dalam sarana pemasaran yang masih sulit. Tak jarang para petani membuang dagangannya karena tidak laku terjual.

Selain sarana pemasaran, akses transportasi juga menjadi kendala masyarakat yang berada di perbatasan Manokwari-Pegunungan Arfak ini. Dimana untuk sekali mengangkut hasil pertanian, mereka (masyarakat) harus merogoh kocek yang cukup mahal, yakni sebesar Rp. 1,5 juta satu kali jalan ke pasar Wosi.

“Jual di Wosi, biasanya bawa tiga karung pakai mobil Rp. 1,5 juta. Sampai disana tidak langsung habis, kadang juga tidak laku. Kalau balik tidak bawa barang itu Rp. 120 ribu per orang. Kalau tidak laku kita buang. kalau pasar ‘banjir’ dagangan kita tidak laku dan sayur-sayur kita buang, kita rugi, karena harus bayar mobil,” keluhnya.

Agustina berharap, kedepan daerahnya dapat lebih maju, banyak orang yang berkunjung dan dapat dibangun sebuah pasar sehingga masyarakat tidak lagi berjualan di pasar Wosi yang jaraknya sangat jauh.

“Lebih bagus kalau ada pasar di sini juga, biar ada yang singgah untuk beli. Untuk alpukat satu tumpuk biasa kita jual Rp. 50 ribu di pasar, labu siam Rp. 5 ribu. Biasanya berangkat jam 06.00 WIT,” harapnya.

“Jika 13 kampung di dataran Mokwan ditambah dengan para pedagang dari Pegaf untuk berjualan di pasar Wosi maka kita rugi. Maka kita usulkan untuk koperasi ada di wilayah Mokwam,” lanjutnya.

Terpisah, (Plt) Bupati Manokwari, Edi Budoyo menegaskan, Pemkab Manokwari senantiasa memperhatikan Mokwam dan sekitarnya.

“Kedepan saya akan mengajak OPD-OPD lain sehingga dapat menjadi perhatian bersama,” terangnya.

Dirinya mengakui bahwa masyarakat di dataran Mokwam siap terkait produksi pertanian namun terkendala pemasaran.

“Mereka mengusulkan untuk membentuk Bumdes. Untuk itu nanti kami akan bicarakan hal ini agar dapat membentuk Bumdes,” ujarnya.

Pihaknya berencana akan berkoordinasi dengan pihak PT. SDIC (pabrik semen) agar dapat menampung hasil pertanian dari dataran Mokwam.

“Nanti saya akan bicarakan dengan pihak pabrik semen, agar mau menampung hasil pertanian masyarakat dari dataran Mokwam, daripada mendatangkan sayur-sayur dari luar daerah,” jelasnya

Edi menegaskan, akses jalan dan transportasi juga akan menjadi menjadi perhatian serius  dari Pemkab Manokwari.

“Akses jalan masuk kampung merupakan jalan kabupaten. Kalau ada acara lagi saya akan mengundang OPD-OPD lainnya termasuk PUPR. Kalau jalan raya atau jalan utama menuju Pegaf itu merupakan jalan nasional, bukan kabupaten,” tegasnya.

Sedangkan untuk fasilitas kesehatan, kata Edi, tahun ini ada pembangunan puskesmas di Mokwam dan akan dipikirkan untuk tenaga kesehatannya.

“Secara simultan, tidak bisa hanya membangun tetapi tidak memikirkan tenaga kesehatannya,” pungkasnya.(PB19)

**Artikel ini Sudah Terbit di Harian Papua Barat News, Edisi Rabu 26 Agustus 2020

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: