Aliran Dana Terkait Investasi Ilegal Capai Rp 202 Miliar

JAKARTA – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK menemukan aliran dana sebesar Rp 202 miliar dari berbagai entitas investasi ilegal. Selain itu, PPATK juga menemukan adanya transaksi terkait dengan pembelian aset mewah berupa kendaraan, rumah, perhiasan, dan aset lainnya.

Temuan itu berasal dari penelusuran transaksi sembilan kasus investasi ilegal yang ditangani PPATK sejak awal tahun ini. Nilai total transaksinya mencapai triliunan rupiah. Adapun sembilan kasus investasi ilegal itu berasal dari modus robot trading ilegal, opsi biner, dan perdagangan mata uang asing (forex) ilegal.

Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menjelaskan, terkait dugaan penipuan dan pencucian uang dalam kasus investasi ilegal, pihaknya menemukan transaksi terkait pembelian aset mewah berupa kendaraan, rumah, perhiasan, dan aset lainnya. Hal ini seharusnya wajib dilaporkan oleh Penyedia Barang Jasa (PBJ) kepada PPATK, tetapi dalam pelaksanaannya tidak dilaporkan kepada PPATK.

”Mereka yang kerap dijuluki ’crazy rich’ ini patut diduga melakukan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari investasi bodong dengan skema Ponzi,” ujar Ivan, Minggu (6/3/2022).

Adapun yang dimaksud ”crazy rich” salah satunya adalah selebritas Youtube atau influencer bernama Indra Kesuma atau lebih dikenal dengan nama panggung Indra Kenz. Dalam akun media sosialnya, Indra sering kali memamerkan harta kekayaannya sehingga warganet menyematkan julukan ”crazy rich” atau kekayaannya gila-gilaan.

Pada Kamis (24/2), Indra Kenz sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal Polri karena diduga melanggar beberapa pasal dari Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman 20 tahun hukuman penjara. Ia selama ini dikenal sebagai afiliator dari entitas investasi bodong opsi biner, Binomo. Afiliator adalah pihak ketiga terkait yang mempromosikan perdagangan produk dan jasa secara luas kepada masyarakat. Mereka mendapatkan semacam komisi dari transaksi perdagangan nasabah

Ivan menambahkan, dugaan melakukan penipuan semakin menguat tak hanya dari deteksi aliran dana investasi bodong yang dijalaninya, tetapi juga tampak dari kepemilikan berbagai barang mewah yang ternyata belum semuanya dilaporkan oleh penyedia barang dan jasa di mana mereka membeli. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: