NASIONAL

Bareskrim Siap Gelar Perkara Penetapan Tersangka

JAKARTA – Tim gabungan Badan Reserse Kriminal Polri mengagendakan gelar perkara penetapan tersangka kasus gagal ginjal akut anak pada Rabu besok. Gelar perkara digelar setelah penyidik polisi memeriksa berbagai pihak, di antaranya industri farmasi, penyuplai bahan baku obat, serta pejabat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Paling lambat Rabu (hari ini, red), dilakukan gelar perkara penetapan tersangka,” kata Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Pipit Rismanto, Senin (1411/2022).

Ia mengatakan tim Bareskrim sudah memetakan dugaan pelanggaran pidana dalam kasus gagal ginjal akut tersebut. Indikasi pelanggaran pidana itu akan dibeberkan pada saat gelar perkara.

Saat ini, kata dia, penyidik polisi terus melengkapi pemeriksaan dari berbagai pihak, di antaranya pakar hukum pidana dan penyuplai bahan baku obat. “Harusnya hari ini, tapi ada beberapa ahli mundur waktunya,” kata Pipit.

Pipit mengatakan penyidik polisi sudah memeriksa empat pejabat BPOM mengenai wewenang mereka dalam mengawasi distribusi obat. Tapi ia enggan menyebutkan identitas keempat pejabat BPOM itu. “Kemarin mereka sudah menjelaskan tentang job description masing-masing di bidang pengawasan,” katanya.

Penyelidikan polisi terhadap sejumlah industri farmasi ini berawal dari meningkatnya jumlah penderita gagal ginjal akut pada anak dalam beberapa bulan terakhir. Hingga pekan lalu, sebanyak 324 anak menderita gagal ginjal akut. Sebanyak 195 anak di antaranya meninggal. Kematian anak ini diduga karena mengkonsumsi obat sirop mengandung zat pelarut etilena glikol dan dietilena glikol melebih ambang batas. Batas aman kandungan senyawa pelarut ini maksimum 0,1 miligram per milimeter.

BPOM lantas menelusuri kandungan zat pelarut pada obat sirop anak. Hingga saat ini, BPOM melarang 73 obat sirop anak karena mengandung etilena glikol dan dietilena glikol di atas ambang batas. Semua obat sirop itu merupakan produksi lima perusahaan farmasi. Kelimanya adalah PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical Industry, PT Afi Farma Pharmaceutical Industries, PT Samco Farma, dan PT Ciubros Farma.

Pekan lalu, tim BPOM menelusuri gudang bahan baku pelarut obat, yaitu propilena glikol milik CV Samudra Chemical di Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat. Tim BPOM menemukan 59 drum berisi senyawa kimia di sana. Hasil pengujian BPOM menunjukkan 12 propilena glikol mengandung etilena glikol dan dietilena glikol melebihi batas aman.

Bareskrim menindaklanjuti temuan BPOM ini dengan menyegel gudang tersebut. Pipit Rismanto mengatakan tim penyidik mendapat informasi bahwa CV Samudra Chemical menjadi pemasok beberapa perusahaan.

CV Samudra Chemical diduga menjadi penyuplai bahan baku obat ke CV Anugrah Perdana Gemilang (CV APG). Adapun Anugrah Perdana Gemilang merupakan pemasok utama bahan baku ke CV Budiarta, yang menjadi penyuplai propilena glikol ke PT Yarindo Farmatama. Anugrah Perdana Gemilang juga menjadi pemasok propilena glikol ke sejumlah distributor kimia lainnya.

Pipit mengatakan polisi sudah memeriksa pegawai CV Samudra Chemical. Tapi polisi belum dapat memeriksa pemilik Samudra Chemical, karena ia tidak berada di lokasi saat polisi ke gudangnya di Tapos, Depok. “Pemiliknya sedang kami cari,” kata Pipit.

Ia melanjutkan, polisi menemukan drum berwarna putih bertulisan “DOW Chemmical”–merujuk pada PT Dow Chemical Company–di gudang CV Samudra Chemical. Drum itu pesanan salah satu industri farmasi. Polisi menduga CV Samudra Chemical menggunakan drum PT Dow Chemical Company palsu untuk meracik atau mengoplos zat cemaran etilena glikol.

Hasil uji laboratorium sampel bahan kimia milik CV Samudra Chemical menunjukkan sebanyak 10 sampel propilena glikol mengandung etilena glikol sebesar 4,69 sampai 99,09 persen. Lalu, hasil tes lab terhadap dua sampel bahan baku pelarut sorbitol yang mengandung etilena glikol dan dietilena glikol sebesar 0,03 persen sampai 1,34 persen.

Selain Bareskrim, Tim Pencari Fakta (TPF) kasus gagal ginjal akut yang dibentuk Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) juga berencana memeriksa pejabat BPOM dan Kementerian Kesehatan. Ketua Tim Pencari Fakta, Mufti M. Mubarok, mengatakan tim akan mengoptimalkan pemeriksaan kedua lembaga selama satu pekan ini. “Minggu depan, kami akan sampaikan rekomendasi ke presiden dan ke DPR,” kata Mufti.

Ia menjelaskan, sesuai dengan temuan tim pencari fakta, penyebab gagal ginjal akut pada anak ini hampir dapat dipastikan adalah obat sirop yang mengandung etilena glikol dan dietilena glikol melebihi ambang batas. Tim menyebut zat pelarut melebih batas aman itu sebagai racun. “Ketika obat ini ditarik, ada penurunan kasus. Ini sudah jelas akibat itu,” katanya. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.