Berbagai Jurus Penanganan Stunting

JAKARTA – Persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Pada 2021, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4 persen. Angka ini lebih tinggi ketimbang batas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 20 persen.

Kasus stunting tertinggi di berada di Nusa Tenggara Timur dengan prevalensi 37,8 persen. Kemudian disusul Sulawesi Barat sebesar 33,8 persen, Aceh sebesar 33,2 persen, Nusa Tenggara Timur sebesar 31,4 persen, dan Sulawesi Tenggara sebesar 30,2 persen. Sementara itu, di Pulau Jawa dengan jumlah penduduk terpadat, Jawa Barat dan Banten, memegang prevalensi kasus tertinggi, yakni 24,5 persen.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden sekaligus aktivis cegah stunting, Brian Sriprahastuti, mengatakan pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun ke angka 14,4 persen pada 2024. Untuk merealisasinya, pemerintah membentuk tim pendamping keluarga (TPK) di setiap desa. Tim ini terdiri atas bidan, kader pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK), dan penyuluh Keluarga Berencana (KB). Jumlahnya sekitar 600 ribu orang.

Brian mengatakan penyebab stunting di Indonesia masih konsisten pada tiga hal. Pertama adalah masalah pola asuh. “Terutama soal menyusui karena stunting terkait dengan 1.000 hari pertama kehidupan,” kata Brian dilansir Tempo, kemarin. Selain itu, soal pemantauan pertumbuhan dan imunisasi anak.

Kedua, masalah pangan dan asupan gizi. Brian mengatakan satu dari dua ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia yang mempengaruhi pertumbuhan janin. Begitu pula dengan tingkat konsumsi protein hewani serta buah dan sayur yang masih rendah. Masalah ini juga berlaku pada asupan makanan pendamping ASI untuk bayi berusia di atas 6 bulan. “Ada juga yang setelah anaknya berusia 6 bulan tidak melanjutkan pemberian ASI eksklusif,” ujarnya.

Masalah stunting ketiga berkaitan dengan sanitasi. Misalnya, kebiasaan ibu mencuci tangan sebelum menyusui atau menyuapi anak. Kemudian soal kebiasaan buang air besar. Hal ini dipicu kondisi keluarga yang belum memiliki akses air bersih dan jamban. “Tapi masalah terbesar, baik di kampung maupun kota, memang masalah pengasuhan,” katanya. “Termasuk soal menyusui dan memberikan makanan pendamping ASI untuk anak berusia di bawah 2 tahun.”

Ahli gizi dari Universitas Indonesia, Wahyu Kurnia, memberikan pendapat senada. Penyebab utama stunting adalah masalah asupan gizi. Hal ini umum terjadi pada periode 1.000 hari pertama bayi. “Kalau tidak tertangani, berujung stunting,” ujarnya.

Untuk itu, Wahyu menyarankan agar orang tua mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran bayi. Paling tidak orang tua memiliki cukup bekal pengetahuan agar bisa memberikan asupan dan pola asuh anak yang baik. Sebab, sepertiga kasus stunting terjadi karena ibu dalam kondisi tidak optimal ketika memasuki masa kehamilan. “Anemia dan kurus sebelum hamil bisa berkontribusi pada stunting karena mengejar untuk normal selama sembilan bulan itu cukup berat,” kata dia.

Wahyu menekankan bahwa tidak ada korelasi antara asupan gizi seimbang dan makanan mahal. Asupan gizi seimbang adalah asupan gizi yang proporsional dan sesuai dengan kebutuhan. “Kita butuh zat gizi setiap hari. Tidak dicicil sehingga setiap makan harus ada semua,” katanya.

Namun asupan protein hewani harus dimaksimalkan karena lebih mampu mencegah stunting. Pilihannya pun tidak harus daging yang harganya relatif mahal. “Bisa pilih ayam, telur, ikan. Protein hewani ada banyak. Kreasikan yang mudah dicari dan sesuai dengan bujet,” ujar Wahyu.

Kalaupun telanjur stunting, anak-anak tetap harus diberi asupan gizi optimal. Selain itu, perlu distimulasi secara kognitif. Sebab, ketika anak stunting, ada risiko aspek kognitif yang rendah karena pembentukan sel otak yang rendah pula. “Stunting memang tidak hanya soal tubuh yang pendek,” kata Wahyu.

Wahyu menilai program pemerintah dalam penanganan stunting selama ini sudah baik. Namun perlu peningkatan pengawasan dan evaluasi serta harmonisasi antar-instansi atau lembaga. Selain itu, program penanganan stunting perlu dibuat konvergen. “Misalnya, PU (Kementerian Pekerjaan Umum) dengan program sanitasi karena itu juga ada kontribusi dalam pencegahan stunting,” ujarnya. “Jadi, tidak semua menggarap masalah asupan. Ada yang menyasar infrastruktur, pengetahuan, dan sebagainya.” (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: