NASIONAL

Berbagai Pilihan Vaksin Booster Halal

JAKARTA – Pemerintah akan menambah pasokan vaksin Sinovac jika kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan vaksin booster Covid-19 bersertifikat halal meningkat.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pihaknya akan mengupayakan penambahan ketersediaan vaksin halal lewat skema kerja sama multilateral COVAX dan bilateral. “Kami siapkan supaya masyarakat punya pilihan,” kata dia dilansir Tempo, Rabu (27/4/2022).

Setelah terbitnya putusan Mahkamah Agung yang meminta penyediaan vaksin Covid-19 berlabel halal, pemerintah membolehkan Sinovac dijadikan sebagai vaksin booster. Sebab, Sinovac merupakan vaksin bersertifikat halal yang masuk program pemerintah. Sebelumnya, pemerintah menggunakan vaksin AstraZeneca, Pfizer, dan Moderna untuk vaksinasi ketiga. Sementara itu, Sinovac hanya digunakan untuk vaksin primer dan untuk anak-anak berusia di bawah 18 tahun.

Putusan Mahkamah Agung tentang sertifikat halal itu lahir dari uji materi yang diajukan Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI). Mereka menilai pemerintah wajib menjamin kehalalan vaksin bagi pemeluk Islam seperti yang diatur dalam Undang-Undang Jaminan Produk Halal.

Menurut Nadia, meski tak memiliki sertifikat halal, vaksin-vaksin yang beredar di Indonesia digunakan di banyak negara, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Pakistan, Palestina, dan Malaysia. Terbukti, kasus Covid-19 relatif terkendali di negara-negara muslim tersebut.

Nadia mengatakan 5-7 juta dosis vaksin Sinovac tersedia saat ini. Adapun capaian vaksinasi booster baru 17 persen, yakni 35 juta dari target 208 juta orang. Meski begitu, ditambah dengan jenis vaksin lain, Nadia optimistis target vaksinasi bisa terpenuhi. “Dalam kondisi darurat, vaksin yang terbaik adalah vaksin yang tersedia,” katanya.

Selain menambah stok Sinovac, pemerintah menanti hasil uji klinis vaksin Merah Putih. Vaksin yang dikembangkan Universitas Airlangga, PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo itu sudah memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia. “Bisa menjadi pilihan kalau sudah siap produksi dan selesai uji klinis tahap ketiga,” ujar Nadia.

Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan, menuturkan, hingga saat ini, lembaganya belum mengeluarkan fatwa terbaru terkait dengan penggunaan vaksin-vaksin Covid-19 di Tanah Air. MUI, kata dia, baru menetapkan fatwa halal terhadap vaksin Sinovac dan Zifivax. Zifivax dapat digunakan sebagai vaksin booster dalam program vaksinasi gotong royong—vaksinasi karyawan yang biayanya ditanggung perusahaan.

Amirsyah mengatakan MUI baru menetapkan fatwa haram terhadap vaksin Pfizer dan AstraZeneca. Namun, karena kondisi darurat, dua jenis vaksin itu boleh digunakan. MUI tidak mengeluarkan fatwa baru setelah terbitnya putusan Mahkamah Agung soal vaksin halal. “Kecuali ada pengajuan produk vaksin, akan dilakukan audit lebih dulu, baru fatwa,” katanya. (TMP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.