Bertumpu pada Gerakan Mahasiswa

JAKARTA – Masa depan demokrasi Indonesia dianggap terancam karena tidak ada kekuatan oposisi yang kuat terhadap pemerintah. Profesor ilmu politik dari Universitas Oslo, Olle Törnquist, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia saat ini telah membangun kekuatan politik yang besar dengan merangkul elite partai, militer, kelompok bisnis, dan di sisi lainnya memecah belah kelompok sosial yang ada di tengah masyarakat. “Sekarang, dengan tidak adanya oposisi yang seimbang, masa depan politik Indonesia semakin tidak jelas,” kata Olle di diskusi publik Tantangan Gerakan Sosial dan Demokrasi di Indonesia di Tebet, Jakarta Selatan, kemarin.

Lemahnya oposisi di Indonesia, kata dia, terlihat dari adanya ide menentukan nasib Pemilu 2024 mendatang. Sebab, oposisi terlihat tidak kuat membendung ide penundaan pemilu atau wacana perpanjangan masa jabatan presiden yang terus-menerus digulirkan. “Untuk menentukan pemilu saja kelihatan sekali tidak ada oposisi yang kuat.”

Olle mengatakan, pemerintah juga terlihat telah mengambil langkah untuk tidak memfasilitasi ruang partisipasi pergerakan sosial. Langkah itu terlihat pada Pemilu 2014, yang cenderung hanya membangun kompromi politik dengan elite partai, militer, dan kelompok bisnis.

Padahal, untuk menciptakan ruang demokrasi yang sehat, kata Olle, pemerintah sebenarnya bisa membangun komunikasi dengan masyarakat sipil yang membangun gerakan sosial. Sehingga, menurut dia, kebijakan-kebijakannya benar-benar kuat berbasis pro-kerakyatan. “Sayangnya, hal yang diterapkan justru langkah memecah belah untuk menguasai mereka,” ujar Olle. “Mereka belajar dari kolonial.”

Menurut Olle, gerakan sosial yang saat ini masih memiliki harapan untuk memberikan perlawanan politik justru berada di tangan mahasiswa. Namun, dia menegaskan, mahasiswa tidak bisa mengambil peran sendiri untuk membangun gerakan sosial untuk memperjuangkan hak-hak publik. Mereka mesti membangun aliansi yang lebih luas, termasuk dengan masyarakat adat hingga kelas sosial yang berada di tingkat bawah.

Olle mencontohkan gerakan sosial mahasiswa di Cile merupakan salah satu yang berhasil membawa perubahan dan mempunyai kekuatan politik dalam menentukan kebijakan pemerintah. Mereka berhasil mengkombinasikan kekuatan berbagai kelompok massa dengan agenda reformasi konstitusi yang diperjuangkan. “Sekarang mereka menjadi kekuatan yang diperhitungkan dan mendapatkan dukungan publik, sehingga bisa mempengaruhi kebijakan yang mereka perjuangkan.”

Olle mengatakan, gerakan mahasiswa di Cile tidak hanya turun ke jalan, tapi juga ikut merumuskan konsep dan gerakan politik yang terlembaga, sehingga diperhitungkan. Adapun hal yang terjadi di Indonesia dan banyak negara lainnya, kata dia, gerakan mahasiswa telah terfragmentasi. Fragmentasi itu telah terjadi sejak 1965, bahkan hingga sekarang.

Meski begitu, kata Olle, hal yang terpenting saat ini adalah apakah mahasiswa mau mengambil momentum seperti pada 1965. Saat itu fragmentasi sangat tinggi, tapi mahasiswa mampu mengambil momentum untuk mengubah rezim Orde Lama menjadi Orde Baru. “Fragmentasi itu sudah terjadi sejak dulu, tapi yang penting adalah apakah mereka mau mengambil momentumnya?” ujar dia.

Dalam sistem politik, Olle melanjutkan, setiap gerakan sosial seperti yang dilakukan mahasiswa memang selalu memasuki ruang yang sempit dan berhadapan dengan aktor politik yang kompromistis. Selain itu, para elite menciptakan aturan politik yang meminggirkan peran gerakan sosial dan politik dari mahasiswa.

Meski begitu, kata Olle, peran gerakan mahasiswa atau masyarakat sipil masih mempunyai peluang. Salah satunya adalah membawa isu kebijakan kesehatan publik maupun pendidikan. Mereka bisa merangkul kaum buruh untuk membangun aliansi bersama untuk memperjuangkan kesehatan dan pendidikan yang baik.

“Sayangnya, banyak gerakan sosial yang memilih jalan sendiri-sendiri bernegosiasi dengan aktor-aktor politik, dan akhirnya tidak terlalu menjadi besar dan menyatu,” ujar Olle. “Tidak mudah menyatukan, tapi bukan tidak mungkin dilakukan.”

Menurut Olle, oposisi untuk menandingi kekuatan pemerintah saat ini hanya bisa dibangun oleh mahasiswa bersama organisasi masyarakat sipil, serikat buruh, masyarakat adat, dan kelas miskin kota. Kekuatan itu bisa dibangun dengan kebijakan publik yang mereka ingin perjuangkan.

Peneliti Senior Central Initiative, Aisah Putri Budiarti, melihat bahwa dalam sepuluh tahun terakhir memang tidak ada agenda reformasi yang menjadi kesepakatan utuh, baik dari kelompok intelektual maupun masyarakat sipil. Sehingga arah demokrasi di Indonesia tidak mempunyai gambaran bakal dibawa ke mana. “Jadi, tidak ada transformasi reformasi saat ini,” ucapnya.

Menurut Aisah, saat ini seharusnya dilakukan evaluasi terhadap agenda reformasi secara menyeluruh. Namun sayangnya, konsolidasi di antara kelompok masyarakat sipil ini masih kurang maksimal. Bahkan elemen kelompok masyarakat sipil justru terlihat sibuk dengan masing-masing agenda mereka.

Padahal mereka mempunyai tantangan untuk melawan kekuatan oligarki di pemerintahan yang semakin kuat. Hal yang terlihat saat ini justru kekuatan masyarakat semakin lemah karena tidak mempunyai agenda bersama yang terkonsolidasi.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan bahwa keberhasilan gerakan sosial demokrasi di Indonesia baru sebatas mencapai demokratisasi politik dalam bingkai liberalisme lama atau liberalisme individual. Gerakan ini berhasil meminimalkan peran negara demi kebebasan politik dan hak sipil, termasuk atas private property rights.

Namun gerakan sosial demokrasi di Indonesia belum sepenuhnya berhasil mencapai liberalisme baru atau liberalisme sosial yang berorientasi pada perlindungan hak-hak sosial dan kebebasan ekonomi.”Keberhasilannya bukannya tidak ada. Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial adalah salah satu contoh betapa gerakan itu pernah berhasil melahirkan kebijakan pro-kesejahteraan. Tapi masih jauh untuk dikatakan mencapai demokrasi sosial,” ucap Usman. (TMP/KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: