NASIONAL

Desakan Pengusutan Tragedi Kanjuruhan Terus Berlanjut

MALANG – Tim Bantuan Hukum Aremania Menggugat mendesak pemerintah mengusut tuntas Tragedi Kanjuruhan. Hal yang sama juga disuarakan sesepuh Aremania. Mereka meminta keadilan benar-benar tegak dan penetapan tersangka menjadi langkah awal saja.

Djoko Tritjahjana, Ketua Tim Bantuan Hukum Aremania, Senin (10/10/2022) di Rumah Keadilan, Kota Malang, Jawa Timur, mengatakan, mereka telah melayangkan somasi terhadap penyelenggara sepak bola, PSSI, dan pemerintah terkait tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Somasi itu telah dikirim pada 4 Oktober.

Setelah berjalan enam hari, atau tenggat sehari dari batas waktu somasi, menurut mereka, pemerintah sudah merespons dengan, antara lain, menetapkan enam tersangka dalam Tragedi Kanjuruhan, hal ini sedikit membantu meredam kekecewaan korban dan keluarga korban tragedi tersebut.

”Penetapan status tersangka itu menjadi awal yang baik. Namun kami tegaskan ini sebagai awal dari pengusutan kasus secara tuntas. Tentunya harapan kami proses ini terus berjalan sehingga pihak-pihak lain yang terkait secara kelembagaan dan nonkelembagaan bisa dimintai pertanggungjawaban secara hukum,” kata Djoko.

Pengunjuk rasa dari berbagai lembaga bantuan hukum menggelar aksi di Monumen Juang 45, Malang, Jawa Timur, 3 Oktober 2022. ANTARA/Zabur Karuru

Demi mengusut kasus Tragedi Kanjuruhan secara tuntas, pihaknya, tambah Djoko, siap bekerja sama dengan berbagai pihak. Saat ini 31 korban dan tim keluarga korban telah memberi kuasa tim bantuan hukum untuk mengawal kasus itu.

Mengenai penanganan kasus, mereka yakin Kepala Polri dan jajarannya mampu mengungkap siapa saja yang terlibat secara langsung dan tak langsung, serta menangani kasus ini dengan profesional dan mampu memberikan rasa keadilan yang menyeluruh. ”Apa yang kami lakukan ini juga tanpa muatan politis karena sebagai pengacara kami bagian dari penegak hukum,” kata Djoko.

Tim juga berharap agar berbagai pihak tak mengintimidasi, mendiskriminasi, bahkan mengkriminalisasi saksi atau korban Tragedi Kanjuruhan. Dalam hal ini tim mendapatkan informasi bahwa ada tindakan-tindakan yang mengarah pada hal-hal tersebut, tetapi, menurut Djoko, timnya masih harus memperdalam informasi itu.

Djoko belum mau mengungkap aduan para korban dan keluarga korban karena harus ada verifikasi terlebih dulu. ”Kami berpegang pada fakta-fakta dan bukti. Kami belum bisa menentukan apakah tindakan itu termasuk intimidasi, diskriminasi, atau kriminalisasi, kata Djoko.

Djoko hanya mengatakan bahwa timnya telah bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk melindungi korban dan keluarga korban dari berbagai ancaman dan tekanan. Sebelumnya, LPSK telah menerima 10 permintaan perlindungan dari saksi dan korban Tragedi Kanjuruhan.

Adapun perwakilan Aremania, Anto Baret, meminta suporter Aremania sabar dan tetap berlaku damai. ”Ini waktunya kita satu komando, tak pikir itu luwih apik (saya pikir itu lebih baik),” kata Anto Baret.

Ia juga menyerukan agar Aremania dan warga Malang turut mengawal kasus ini agar tuntas dan benar-benar adil. Jika hukum ditegakkan seadil-adilnya, Anto berharap bisa menyirami luka yang ada. ”Kita fokus mengawal sebagai warga Malang. Jika ini tak ada keadilan di dalamnya, setelah sidang, setelah putusan berarti luka kian menganga,” kata Anto.

Anto berharap Presiden Joko Widodo dan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mendengar suara mereka dan hukum bisa ditegakkan sesuai fakta di lapangan. (KOM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.