NASIONAL

Imbauan di Tengah Ancaman Hepatitis Akut

JAKARTA – Sejumlah daerah tetap menggelar pembelajaran tatap muka secara normal selama dua pekan terakhir semenjak libur Lebaran usai. Dinas Pendidikan meminta masyarakat tetap waspada di tengah laporan ancaman kasus hepatitis akut.

Sekolah-sekolah di Jawa Timur, misalnya, diimbau untuk memitigasi dan mencegah secara mandiri guna menghindari penyebaran hepatitis. “Sudah disampaikan secara lisan dan lewat grup WhatsApp kepada seluruh kepala sekolah agar mengawasi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Wahid Wahyudi, Senin (23/5/2022).

Dari puluhan kasus yang sudah terdeteksi di berbagai daerah, dugaan kasus hepatitis akut misterius ini tercatat terjadi pada anak usia di bawah 16 tahun. Di Jawa Timur, ada tiga kasus dugaan hepatitis akut yang saat ini tengah diteliti.

Wahid mengatakan sekitar 40 ribu sekolah dari tingkat dasar hingga tingkat menengah sudah diberi informasi mengenai cara pencegahan dan pelaporan jika menemukan gejala di sekolah. Sekolah-sekolah juga diminta mengawasi secara ketat kebersihan kantin sekolah dan penjual jajanan di sekitarnya. “Sekolah juga harus berkoordinasi dengan puskesmas terdekat agar tetap waspada,” kata Wahid.

Virus penyakit hepatitis yang tercatat selama ini, dengan tipe A-E, biasanya menular lewat saluran pernapasan dan pencernaan sehingga kerap diasosiasikan dengan kondisi lingkungan dan tempat tinggal yang tak bersih. Virus lalu menyebabkan peradangan pada hati atau lever. Jika sudah parah bisa menyebabkan kematian. Gejalanya, antara lain, demam, mual, muntah, diare, hingga feses berwarna putih pucat. Imunisasi dasar yang dilakukan saat anak berusia di bawah 5 tahun biasanya sudah termasuk untuk pencegahan virus hepatitis—terutama tipe B yang ganas.

Masalahnya, meski gejalanya mirip dengan hepatitis lainnya, hepatitis akut misterius yang mengancam anak-anak di Indonesia ini bukan hepatitis tipe A-E. Indonesia telah menemukan satu kasus hepatitis misterius itu di Jakarta. Sebanyak 13 kasus lainnya adalah kasus positif hepatitis, tapi masih diteliti apakah dari serologi virus A-E atau kelas misterius tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan kenaikan jumlah kasus hepatitis anak secara global sejak awal April lalu. Kenaikan angka kasus hepatitis pertama dilaporkan di Inggris Raya, lalu bertambah menjadi 32 negara pada Mei. Kasus-kasus itu masih diteliti apakah berasal dari virus hepatitis tipe A-E atau dari jenis baru. Kementerian Kesehatan lalu mengeluarkan edaran agar pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, kantor kesehatan pelabuhan, dan tenaga kesehatan meningkatkan kewaspadaan atas kejadian luar biasa hepatitis ini.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Uswatun Khasanah, mengatakan instansinya sudah menggelar sosialisasi dengan berbagai sekolah selama dua pekan terakhir. Sekolah diminta menerapkan protokol kesehatan secara ketat meski pemerintah pusat sudah membolehkan masker dicopot. “Kami mengimbau guru, siswa, dan staf agar tetap memakai masker di sekolah dan melaksanakan protokol kesehatan,” kata dia. Imbauan tersebut juga diteruskan ke orang tua dan wali siswa. Sebab, gaya hidup di rumah dinilai menjadi kunci pencegahan hepatitis akut misterius tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dedi Supandi, mengatakan belum ada rencana untuk menerapkan lagi pembelajaran jarak jauh karena kasus-kasus luar biasa hepatitis. Ia menyebutkan  imbauan menjaga kesehatan dan kebersihan tetap menjadi prioritas. “Kantin diimbau ditutup, tapi itu tergantung  sekolah,” kata dia.

Adapun juru bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril, mengatakan 10 anak yang terjangkit hepatitis yang masih diteliti atau pending classification masih dirawat hingga kemarin. Tiga di antaranya dirawat di RS Cipto Mangunkusumo di Jakarta. Ada pula tiga anak yang dirawat di Bali serta satu anak masing-masing di Jawa Timur, Jambi, Nusa Tenggara Barat, dan Yogyakarta.

Syahril mengatakan gejala rata-rata anak yang dirawat itu adalah mengalami demam, muntah, dan diare. Mereka telah dirawat rata-rata tiga pekan. ”Pengobatan yang dilakukan selayaknya kasus hepatitis yang ada,” kata dia. Syahril menyebutkan, hingga kemarin, belum ada rencana Kementerian Kesehatan merekomendasikan penghentian belajar di sekolah menjadi pembelajaran secara jarak jauh karena temuan kasus hepatitis akut ini. (TMP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.