NASIONAL

Perusahaan Farmasi Disegel karena Obat Tercemar

JAKARTA – Penanganan penyakit gagal ginjal akut pada anak memasuki ranah pidana. Rabu malam lalu, polisi menyegel pabrik obat PT Afi Farma di Kediri, Jawa Timur. Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat yang diproduksi perusahaan itu tercemar etilena glikol (EG) yang melebihi ambang batas aman. Senyawa kimia inilah yang disebut-sebut menjadi salah satu pemicu munculnya penyakit gagal ginjal akut.

Seorang pegawai BPOM yang mengikuti penyegelan itu mengatakan polisi menyita sejumlah barang bukti yang menguatkan temuan BPOM. Ia yakin polisi segera menetapkan tersangka. “Polisi sudah mengantongi dua alat bukti sah,” kata petugas BPOM yang tidak mau identitasnya ditulis tersebut.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Polri, Brigadir Jenderal Pipit Rismanto, membenarkan adanya penyegelan terhadap pabrik di Kediri itu. Namun dia belum bisa menyampaikan hasil pemeriksaan. “Penyidik di lapangan belum melaporkan hasilnya,” kata dia, semalam. “Tapi telah dipasang police line dan pemeriksaan sedang berjalan.”

Sebelumnya, Pipit mengatakan penyidik kepolisian dan BPOM tengah menyelidiki obat sirop yang diproduksi PT Afi Farma untuk mencari bukti materiil dalam kasus penyakit gagal ginjal akut. “Kalau formilnya kan sudah ada, ada undang-undang dan aturan yang dilanggar, tinggal pembuktian materiilnya,” ucap Pipit.

Pembuktian materiil itu dilakukan untuk mengetahui proses produksi obat sirop Paracetamol yang diproduksi PT Afi Farma. Sebab, berdasarkan sampel yang diperiksa BPOM, obat tersebut tercemar senyawa perusak ginjal.

BPOM telah menyelesaikan pengujian terhadap seluruh daftar produk obat sirop yang dilaporkan Kementerian Kesehatan. Dari total 102 produk, ditemukan tiga perusahaan farmasi memproduksi obat yang tercemar EG dan dietilena glikol (DEG). Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan farmasi ini akan mendapat sanksi sesuai dengan tingkat kesalahan masing-masing.

Secara normatif, kata Penny, jika obat yang mereka produksi tidak sampai menimbulkan korban, perusahaan hanya dikenai hukuman percobaan. Namun, jika sebaliknya, tentu hukumannya akan lebih berat. Karena itu, BPOM secara bersungguh-sungguh menelusuri kausalitas antara produk obat dan pasien gagal ginjal akut.

Adapun produk PT Afi Farma yang memiliki kandungan EG melebihi ambang batas aman adalah Paracetamol Drops, Paracetamol Sirup Rasa Peppermint, dan Vipcol Sirup produksi PT Afi Farma. Temuan serupa juga terdapat pada obat produksi PT Yarindo Farmatama dengan merek Flurin DMP sirop. Begitu juga dengan tiga obat sirop PT Universal Pharmaceutical Industries (UPI) yang beredar dengan merek Unibebi Cough Syrup, Unibebi Demam Drops, dan Unibebi Demam Syrup. BPOM telah menjatuhkan sanksi administratif berupa pencabutan izin edar serta produksi obat kepada PT Yarindo dan PT UPI.

Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, berpendapat pemidanaan industri obat tidak akan menyelesaikan masalah dalam penanganan penyakit gagal ginjal akut. Sebab, kasus ini terjadi karena kegagalan kelembagaan dalam pengawasan obat. “Yang urgen dilakukan adalah reformasi kelembagaan pengawasan obat,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, Andreas Bayu Aji, mengatakan industri farmasi siap menjalankan apa pun regulasi yang ditetapkan untuk produk obat, termasuk pengujian cemaran EG dan DEG pada produk jadi. “Kan selama ini belum ada ketentuan, jadi tidak menjadi keharusan,” kata Andreas.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menggencarkan edukasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat sirop anak. Sebab, meski pemerintah telah mempublikasikan produk-produk obat dengan kandungan senyawa berbahaya, masih ada saja masyarakat yang belum mengetahuinya.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ngabila Salama, mengatakan parasetamol Afi Farma banyak digunakan di puskesmas di Jakarta. Karena itu, setelah obat itu dinyatakan berbahaya, seluruh parasetamol cair tersebut diganti dengan parasetamol tablet atau puyer.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan, 90 persen anak yang terkena gagal ginjal akut memang sebelumnya meminum obat dalam bentuk sirop. Sedangkan sisanya mengkonsumsi obat non-sirop. “Sehingga kita tidak menyampingkan (ada faktor lain),” ujar Nadia. Kementerian saat ini masih menelusuri penyebab utama penyakit gagal ginjal akut pada anak. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.