NASIONAL

Pilot Susi Air Makin Kurus, Takut Ditembak

JAYAPURA — Sudah hampir lima bulan pilot pesawat Susi Air berkewarganegaraan Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens, dalam penyanderaan kelompok separatis Papua. Ia bukan lagi pria gagah yang tampil dalam video lansiran Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM) pada Februari 2023 lalu.

Wajahnya lebih tirus kini. Badannya tampak lebih kurus. Ia berbicara dengan lemah dalam video terbaru yang dilansir TPNPB pada akhir pekan lalu. Ada keputusasaan soal proses pembebasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

Seperti Dilansir dari Republika, Kali ini, ia menyampaikan tenggat yang ditetapkan kelompok separatis. Kapten Philip menyebutkan bahwa kelompok separatis akan menembak dirinya jika tidak ada negosiasi dalam dua bulan ke depan.

Hal itu dia sampaikan dalam video yang beredar pada Jumat (26/5/2023). “Jika itu (negosiasi) tidak terjadi dalam waktu dua bulan, mereka mengatakan akan menembak saya,” kata Philip dalam video tersebut.

Ini pertama kalinya ancaman pembunuhan terhadap Kapten Philip menguar sejak kelompok separatis Papua yang melakukan serangan dan pembakaran di Lapangan Udara Paro, di Nduga, pada Selasa (7/2/2023) lalu. Dalam serangan tersebut, kelompok separatisme yang dipimpin Egianus Kogeya melakukan penyanderaan terhadap Kapten Philip.

TNI maupun Polri dalam misi penyelamatan tersebut sudah mengerahkan seribu prajurit dari satuan-satuan elite tempur masing-masing. Operasi Paro juga mengandalkan tokoh-tokoh adat lokal dan agamawan di Papua untuk membujuk Egianus Kogeya mengembalikan Kapten Philip.

Namun, prajurit TNI dan Polri yang sudah berguguran dan pendekatan-pendekatan keadatan dan keagamaan yang diandalkan masih belum berhasil membawa pulang Kapten Philips dan menghabisi kelompok separatisme di Nduga.

Sementara itu, TPNPB-OPM pernah mengumumkan penyanderaan Kapten Philip adalah untuk barter politik. Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom, Selasa (7/2/2023), mengatakan sayap militernya tak akan membebaskan Kapten Philips sebelum Indonesia mengakui kemerdekaan bumi Papua.

Pada Maret TPNPB-OPM, melalui Sebby Sambom juga menegaskan kepada TNI-Polri menghentikan operasi militer pembebasan Kapten Philip di Nduga. Akan tetapi, tawaran negosiasi damai itu tak pernah digubris TNI maupun Polri.

Sebby menyampaikan, pada 23 Maret 2023, pasukan TNI-Polri melakukan serangan di Nduga untuk membebaskan Kapten Philip. Dua anggota TPNPB-OPM, kata Sebby, tewas saat serangan tersebut. Karena itu, kata Sebby Sambom, sayap militer TPNPB-OPM yang dipimpin Perek Jelas Kogeya melakukan serangan balasan terhadap TNI di Pos Mugi-Mam, pada Sabtu (15/4/2023).

Sejauh ini, enam personel TNI yang gugur dibunuh kelompok separatis di Papua selama operasi pembebasan. Setidaknya empat prajurit gugur dalam penyerangan di Pos Mugi-Mam di Nduga, dua personel lainnya gugur dalam kontak senjata di wilayah lain pada saat awal-awal operasi pencarian dilakukan.

Komnas HAM mengecam ancaman pembunuhan terhadap Kapten Philip. “Komnas HAM mengecam penyanderaan maupun ancaman TPNPB-OPM untuk membunuh sandera,” kata Ketua Komnas HAM Atnike Nova Sigiro dalam keterangan persnya di Jakarta, Ahad (28/5/2023).

“Penyanderaan yang dilakukan TPNPB-OPM terhadap Philip Mehrtens adalah tindakan kejahatan, yang telah memperkeruh situasi di Papua, menimbulkan korban jiwa, dan menimbulkan keresahan di dalam masyarakat,” ujar dia menjelaskan.

Komnas HAM menilai, ancaman KKB untuk menembak Philip Mehrtens dalam tempo dua bulan jika tidak diadakan sebuah dialog adalah sebuah provokasi yang dapat menjadi legitimasi untuk memperbesar pendekatan keamanan di Papua. Ancaman ini juga disebut hanya akan merugikan masyarakat di Papua, memperburuk kondisi HAM, dan memperpanjang siklus kekerasan di Papua.

“Penyanderaan dan ancaman untuk membunuh sandera dapat menghilangkan simpati masyarakat, termasuk masyarakat internasional, terhadap persoalan-persoalan HAM di Papua,” ujar Atnike.

Menurut dia, kekerasan yang dilakukan TPNPB-OPM, termasuk ancaman untuk membunuh sandera, kontradiktif dengan desakan dialog yang diserukan. Sebab, Atnike menjelaskan, penyanderaan Philip Mehrtens dan ancaman terhadap jiwanya bukanlah jalan untuk membuka dialog.

“Dialog hanya mungkin terwujud dengan memperlihatkan niat baik dan membangun kepercayaan di antara berbagai pihak,” kata dia menegaskan.

Oleh sebab itu, Atnike melanjutkan, Komnas HAM mengajak berbagai pihak, baik kelompok masyarakat sipil, gereja, adat, dan pemerintahan daerah di Papua untuk bersama-sama melakukan upaya persuasif kepada Egianus Kogoya beserta pasukannya, agar segera menghentikan cara-cara kekerasan.

Dia menambahkan, pihaknya juga meminta pemerintah, termasuk TNI dan Polri, untuk menggunakan pendekatan keamanan secara proporsional dan terukur dalam upaya-upaya pembebasan Philip Mehrtens dan penanganan situasi di Papua.

“Komnas HAM sekali lagi meminta kepada Egianus Kogoya untuk segera membebaskan Philip Mehrtens, tanpa syarat,” ujar Atnike.

“Selain itu, Komnas HAM juga meminta pemerintah segera menginisiasi upaya damai yang autentik, yang dapat dimulai dari pemerintah daerah dengan kelompok-kelompok masyarakat di Papua,” kata dia menegaskan.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin sebelumnya memastikan pemerintah terus mengupayakan penyelamatan terhadap pilot Susi Air. “Operasi (penyelamatan) yang dilakukan tentu kita harus memperhitungkan jangan sampai terjadi (jatuh) korban. Jadi, tidak sistem bumi hangus, mungkin kalau seperti itu mudah saja, tapi bagaimana operasi itu dilakukan, (sandera) selamat, tetapi tidak menimbulkan banyak korban,” ujar Kiai Ma’ruf kepada wartawan seusai menghadiri acara Anugerah Adinata Syariah 2023 di Kantor Pusat BSI, Gedung The Tower, Jakarta Selatan, Jumat (26/5/2023).

Namun, kata Kiai Ma’ruf, upaya penyelamatan ini membutuhkan waktu cukup lebih lama. Hal itu karena pemerintah masih terus berhati-hati dan melakukan langkah-langkah negosiasi dan komunikasi, terutama dengan tokoh-tokoh setempat.

“Tokoh-tokoh di Papua, kita sudah komunikasi, terutama dengan pihak gereja, tokoh adat, local champion. Kita libatkan dalam operasi di Papua. Seperti yang kemarin sudah ada yang diselamatkan, itu juga sudah melibatkan tokoh-tokoh gereja di sana,” ujarnya.

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius Fakhiri juga berdalih saat ini pihaknya lebih memaksimalkan negosiasi agar KKB membebaskan sandera berkebangsaan Selandia Baru. Fakhiri menekankan, berbagai upaya dilakukan TNI-Polri untuk menyelamatkan pilot Susi Air Philip Mark Mehterns yang disandera KKB pimpinan Egianus Kogoya.

“Saya sudah berbicara dengan berbagai pihak tentang proses negosiasi ini, termasuk dengan pihak gereja yang di dalamnya ada Dewan Gereja dan Uskup agar semaksimal mungkin melakukan negosiasi dengan kelompok Egianus Kogoya sehingga pilot dibebaskan,” kata Fakhiri di Jayapura, Kamis pekan lalu.

Kapolda Papua mengakui, walaupun negosiasi terus dilakukan namun Satgas Damai Cartenz saat ini sedang menyiapkan langkah-langkah penegakan hukum yang tepat, tegas, dan terukur. Dia menegaskan negosiasi dapat dilakukan dengan siapa saja, karena dari awal sudah dilakukan dengan Pemda Nduga yang bekerja sama dengan kapolres serta ada Komnas HAM yang menawarkan diri untuk membantu.

Pihaknya juga sudah mengirim tim khusus yang berupaya melakukan negosiasi serta memfasilitasi semua pihak yang ingin membantu dalam pembebasan pilot yang disandera KKB pimpinan Egianus Kogoya.

“Saya berharap negosiasi tersebut membawa hasil yang baik karena kita memberikan kesempatan kepada kelompok Egianus agar mengembalikan pilot melalui jalur negosiasi secara baik, termasuk bantuan dari Gereja Kingmi yang nantinya akan mengutus orang kepercayaannya untuk melakukan negosiasi,” kata Fakhiri. (REP)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.