NASIONAL

Setelah Persoalan Gender Muncul di Kampus

MAKASSAR – Kasus perundungan dan diskriminasi terhadap seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) dianggap telah selesai. Korban MNA, mahasiswa Fakultas Hukum, telah memaafkan perbuatan para pelaku.

“Tapi kami tetap memberikan pendampingan untuk memastikan hak-hak korban terpenuhi,” kata Alita Karen, pendamping MNA, dari Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP) Sulawesi Selatan, Sabtu (27/8/2022).

Perlakuan tidak menyenangkan terhadap MNA terjadi pada 18 Agustus 2022. Saat itu ia datang ke gedung Baruga Baharuddin Lopa untuk mengikuti kegiatan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB). Seorang dosen, yang menjabat Wakil Dekan Fakultas Hukum, memanggil MNA untuk naik ke panggung. Kemudian terjadilah tanya-jawab.

Dosen itu menanyakan jenis kelamin MNA. Tanpa ragu MNA menjawab dirinya nonbiner. Jawaban itu membuat dosen tersebut marah dan meminta panitia acara membawa MNA keluar dari ruangan. Insiden inilah yang belakangan memicu polemik.

Dalam Peraturan Senat Akademik Universitas Hasanuddin Nomor 469124/Un.4/It.03 tahun 2016 tentang Kode Etik Dosen, Pasal 11, dinyatakan setiap dosen berkewajiban menjunjung tinggi kesetaraan serta tidak melakukan diskriminasi berdasarkan kriteria, seperti ras, kelompok etnis, agama, golongan, gender, status perkawinan, usia, disabilitas, dan orientasi seksual.

Namun Dekan Fakultas Hukum Unhas Hamzah Halim mengatakan kampus tidak memberikan sanksi kepada dosen yang diduga merundung MNA. Sebab, kedua pihak telah bertemu dan saling memaafkan. Hamzah menjamin kasus serupa tidak akan terulang di masa depan. “Saya jamin tidak akan pernah terjadi hal itu lagi,” ucap Hamzah.

Rektor Unhas Jamaluddin Jompa juga menegaskan bahwa kampusnya merupakan lembaga pendidikan tinggi yang inklusif. Karena itu, Unhas terbuka bagi semua orang.

Aktivis dan konsultan gender, Tunggal Pawestri, menyayangkan perundungan terhadap mahasiswa yang terjadi di Unhas. Sebagai pendidik, dia menilai reaksi pelaku tidak bijaksana. “Saya rasa teman-teman pendidik belum meng-update pengetahuan tentang keragaman gender dan seksualitas,” kata Tunggal, kemarin.

Perilaku diskriminatif tersebut, kata Tunggal, terjadi karena minimnya pengetahuan. Padahal gender netral atau nonbiner memang ada. Seseorang bisa mengidentifikasi dirinya sebagai gender nonbiner karena memiliki perasan ataupun pengalaman gender secara mendalam dan bersifat individual. “Gender itu kan konstruksi sosial dan orang ini (gender nonbiner) tidak mengelompokkan dirinya dalam identitas gender mana pun,” ucap Tunggal. “Dia juga tidak termasuk transgender.”

Menurut Tunggal, orang mengidentifikasi dirinya sebagai gender nonbiner karena merasa tidak ada yang dominan di antara gender laki-laki atau perempuan dalam dirinya. Pada anak muda bisa juga terjadi karena dia tengah mengenali dirinya dan memahami perbedaan antara seks dan gender.

“Jadi, netral karena bisa jadi dia tidak masuk dalam identitas gender. Bisa juga karena dalam proses masih mencari,” kata Tunggal. Karena itu, identifikasi gender ini belum tentu bersifat permanen. “Cair dan butuh waktu.”

Namun, kata Tunggal, hal ini masih tabu bagi banyak orang karena masyarakat di Indonesia hanya mengetahui dua jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Padahal ada juga intersex, yaitu seseorang yang terlahir dengan dua jenis kelamin. “Dari 2.000 kelahiran, ada satu bayi yang punya penis dan vagina. Itu yang disebut intersex,” ujar Tunggal. “Yang begini apa harus kita paksakan menjadi laki-laki atau perempuan karena kita menganut sistem biner?”

Tunggal mengatakan konstruksi sosial yang menganut sistem biner memang membuat minoritas sering tidak diakomodasi. Kelompok minoritas ini dipaksa memilih menjadi laki-laki atau perempuan, meski identitas gender sejatinya berurusan dengan perasaan. “Makanya, sebagai mayoritas, kita juga perlu membuka mata bahwa ada hal-hal yang dialami minoritas,” ujar Tunggal. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.