NASIONAL

Sibuk Mencari Bukti Korupsi Proyek BTS

JAKARTA – Kejaksaan Agung tengah menyidik dugaan korupsi proyek menara base transceiver station (BTS) di Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika. Meski kasus ini sudah masuk tahap penyidikan, kejaksaan belum juga menetapkan tersangkanya. Kejaksaan masih mengumpulkan bukti untuk membuat terang perkara ini.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Ketut Sumedana, mengatakan penyidik mengumpulkan bukti dengan memeriksa saksi. Dia mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan dalam perkara ini. “Kalau sudah ada penetapan tersangka, akan kami sampaikan,” kata Ketut, Minggu (27/11/2022).

Kejaksaan memulai penyidikan kasus dugaan korupsi pembangunan BTS di Kominfo pada awal November ini. Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Kuntadi, mengatakan penyidikan dimulai setelah gelar perkara dan pemeriksaan 60 saksi. “Telah terdapat bukti yang cukup untuk dinaikkan ke penyidikan,” kata dia.

Penyidikan kejaksaan berfokus pada proyek pengadaan BTS yang digarap BAKTI Kominfo pada 2020 hingga 2022. Pemerintah menganggarkan Rp 28 triliun secara tahun jamak untuk membangun 7.904 unit menara BTS di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Pengerjaan proyek ini secara keseluruhan dibagi menjadi dua tahap. Pada tahap pertama, proyek ini menargetkan pendirian BTS di 4.200 titik dan ditargetkan rampung pada 2022. Proyek tahap I senilai Rp 10 triliun ini dikerjakan tiga konsorsium perusahaan.

Namun realisasi proyek tahap I ini molor. Hingga kuartal II 2022, baru terbangun 2.000 unit menara BTS.

Hingga saat ini kejaksaan masih menghitung kerugian negara dalam kasus tersebut. Ketut mengatakan penyidik memperkirakan kerugian negara mencapai Rp 1 triliun. Angka ini bisa berubah karena penyidik menunggu hitungan final dari auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Penyidik juga bakal menggandeng Badan Pemeriksa Keuangan untuk menghitung jumlah kerugian negara proyek tersebut.

Kejaksaan Agung mengendus terjadi dugaan korupsi yang membuat proyek ini berjalan lambat. Sejak awal penyidikan kasus, Kejaksaan Agung telah memeriksa sejumlah saksi, baik dari pihak swasta maupun pejabat BAKTI dan Kementerian Komunikasi. Salah satu saksi yang diperiksa adalah direktur perusahaan yang menggarap proyek tersebut.

Giliran pejabat Kementerian Komunikasi dan BAKTI dipanggil penyidik pada 21 November 2022. Pejabat yang dipanggil di antaranya pelaksana tugas Direktur Pengendalian Pos dan Informatika berinisial SM, Kepala Divisi Lastmile dan Backhaul BAKTI berinisial FM, dan Kepala Divisi Perencanaan Strategis Bakti berinisial YW. “Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memperkuat pembuktian dan melengkapi pemberkasan perkara ini,” kata Ketut.

Dalam proses penyidikan, kejaksaan juga telah menggeledah sejumlah lokasi, seperti kantor PT Fiberhome Technologies Indonesia, PT Aplikanusa Lintasarta, PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera, PT Sansasine Exindo, PT Moratelindo, PT Excelsia Mitraniaga Mandiri, dan PT ZTE Indonesia. Semua perusahaan ini merupakan kontraktor dan sub-kontraktor proyek pengadaan BTS.

Penyidik juga menggeledah kantor Kementerian Komunikasi pada 7 November 2022. Dari penggeledahan itu, penyidik menyita dokumen serta barang bukti elektronik. “Barang bukti tersebut masih kami telaah,” kata Ketut.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Usman Kansong, membenarkan bahwa kantor lembaganya sempat digeledah penyidik Kejaksaan Agung pada 7 November lalu. Ia mengatakan penyidik meminta dan memeriksa dokumen administrasi pengadaan BTS di Kesekretariatan Jenderal Kementerian Komunikasi. “Kominfo kooperatif atas upaya ini dan menyerahkan dokumen-dokumen yang diperlukan agar proses penyidikan dapat berjalan dengan lancar dan segera terselesaikan,” kata Usman. (TEM)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.