Ekonomi Papua Barat 2020 Terkontraksi

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat tahun 2020 mengalami tekanan yang luar biasa, akibat pandemi virus korona.

Bank Indonesia (BI) mencatat, ekonomi Papua Barat tahun 2020 terkontraksi -0,77 persen (year on year/yoy), jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tumbuh positif 2,66 persen.

Tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi ini dipicu oleh sejumlah faktor. Dari sisi lapangan usaha, hanya ada 7 yang tumbuh positif. Sisanya 10 lapangan usaha mengalami kontraksi.

Kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha transportasi & pergudangan 15,92 persen (yoy), jasa konstruksi 6,92 persen (yoy), pertanian 2,19 persen (yoy), serta lapangan usaha pertambangan & penggalian 0,21 persen (yoy).

Kepala Unit Pengembangan Ekonomi BI Papua Barat Aries Puromohadi mengatakan, kinerja industri pengolahan dan pertambangan terkontraksi karena terjadi penurunan produksi LNG di Kabupaten Teluk Bintuni.

Selain itu harga komoditas ekspor utama dari Papua Barat yaitu LNG juga tertekan, sebab permintaan menurun.

“Pengaruh terkuat dari situasi pandemi,” kata Aries saat dikonfirmasi lewat telephone selularnya, Kamis malam 15 April 2021.

Ia melanjutkan, pandemi juga berdampak pada realisasi belanja modal terbatas seiring dengan kebijakan refocusing anggaran untuk penangan Covid-19 yang berdampak pada kinerja sektor konstruksi.

Untuk lapangan usaha yang tumbuh positif adalah industri pengolahan 1,86 persen (yoy), pengadaan listrik air gas dan produksi es 8,35 persen (yoy), pengadaan air pengelolaan sampah limbah dan daur ulang 2,56 persen (yoy), perdagangan besar dan reparasi 1,00 persen (yoy), informasi dan komunikasi 9,60 persen (yoy), jasa keuangan dan asuransi 7,38 persen, serta lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial 6,08 persen (yoy).

Sebelumnya, Bank Indonesia memprediksi Produk Domestik Bruto Regional (PDRB) Papua Barat tahun 2020 berada pada level -1% sampai 1% (yoy).

Inflasi terjaga

Bank Indonesia mencatat inflasi Papua Barat tahun 2020 terjaga pada level 0,71 persen (yoy).

Inflasi administrasi mengalami penurunan yang disumbang oleh turunnya tarif angkutan udara. Turunnya tarif angkutan udara sebagai respon atas kebijakan pemerintah terkait pembatasan aktivitas sosial masyarakat untuk mencegah penularan virus korona. (PB15)

**Artikel ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Jumat 16 April 2021

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: