Genjot Kualitas Produk, Pengerajin Noken di Manokwari Ikut Pelatihan

  • Gunakan alat pintal

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Bank Indonesia Provinsi Papua Barat berkomitmen untuk terus menggenjot kualitas produk UMKM di provinsi setempat. Salah satunya adalah noken yang telah dinobatkan Unesco sebagai warisan budaya dunia tak benda atau intangible cultural heritage.

Kepala Pengembangan Ekonomi BI Papua Barat Aries Purnomohadi mengatakan, melalui Program Sosial Bank Indonesia (PBSI), sejumlah pengerajin noken di Kabupaten Manokwari dibekali pelatihan untuk menggunakan alat pintal noken yang lebih modern.

Sehingga, produk noken tersebut mampu bersaing di pasar global dengan daya saing yang tinggi, kreatif, tangguh dan berkelanjutan untuk mendorong pembangunan ekonomi berbasis kearifanlokal.

“Dengan menggunakan alat pemintal, produk yang dihasilkan jauh lebih terstandarisasi. Karena selama ini proses anyaman noken masih manual. ” ucap Aries dalam acara pembukaan pelatihan penggunaan alat pintal noken kepada pengerajin noken di Manokwari, Selasa (27/4/2021).

Ia melanjutkan, pelatihan menggunakan alat pintal noken diselenggarakan di Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Papua Barat di Manokwari selama tiga hari (27 sampai 29 April 2021).

Ada empat kelompok pengerajin noken yang mengikuti kegiatan tersebut. Meliput kelompok noken Arfak, genemo, enago dan kelompok kreasi usaha noken Papua. Nantinya, para peserta yang didominasi oleh mama-mama Papua akan dipandu oleh pelatih dari Yayasan Nirudaya Nusantara.

“Yayasan ini sudah pernah bekerjasama dengan Bank Indonesia Provinsi Papua dalam pelatihan yang sama. Cuma, alat pemintal yang sekarang ini sudah lebih canggih,” tutur Aries.

Selain pengerajin noken, Bank Indonesia Papua Barat juga mengikutsertakan beberapa mahasiswa dari Universitas Papua Manokwari yang tergabung dalam kelompok GenBI. Tujuannya, generasi muda dapat berpartisipasi dalam pelestarian warisan dan budaya Papua yakni noken.

“Sehingga kerajinan anyaman noken ini dapat terus dilestarikan hingga masa mendatang,” tutur Aries.

Ia menerangkan, kelompok UMKM yang diberikan pelatihan dan pembinaan akan diikutsertakan dalam berbagai pameran. Beberapa waktu lalu, kelompok anyaman noken pernah diikutkan dalam even IKRA (Industri Kreatif Syariah Indonesia). Namun, belum berhasil meraih penghargaan karena kualitas produk anyaman noken yang dipamerkan belum sesuai standar.

“Waktu itu belum lolos, tapi itu jadi pembelajaran agar bisa tampil dengan kualitas produk sesuai standar,” ucap dia.

Aires berharap, seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan selama tiga hari dengan sungguh-sungguh. Supaya, dapat menghasilkan produk anyaman noken yang berkualitas dan berdaya saing di pasar global.

Setelah selesai mengikuti pelatihan, empat alat pemintal noken akan diserahkan  ke masing-masing kelompok. Selain itu, Bank Indonesia juga telah menyediakan sejumlah bahan baku anyaman noken.

“Kami ada banyak even. Jadi diharapkan, produk noken yang dihasilkan bisa lebih berkualitas,” terang Aries.

Dia menambahkan, Bank Indonesia sejak awal sudah sangat konsen dengan pembinaan dan pelatihan terhadap kelompok-kelompok UMKM. Berbagai langkah konkrit yang telah ditempu adalah membantu proses sertifikasi halal produk UMKM, perizinan industri rumah tangga yang bergerak di bidang olahan makanan, standarisasi kemasan produk, dan pemberian bantuan peralatan sesuai kebutuhan UMKM.

“Seperti galeri sukun di Manokwari dan galeri cokelat di Ransiki,” jelas dia.

Martin, salah satu trainer dari Yayasan Nirudaya Nusantara menjelaskan, alat pintal noken telah dirintis sejak tahun 2017. Pihaknya dipercayakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak untuk menciptakan inovasi dalam mendukung produktivitas noken.

Sebelumnya, pelatihan menggunakan alat pintal noken generasi pertama telah dilakukan di Jayapura, Provinsi Papua. Seiring berjalan dengan waktu, pihaknya terus riset secara langsung agar bisa menghasilan alat pintal noken yang lebih modern.

“Alat pintal noken yang sekarang ini adalah generasi kedua dan pertama kali digunakan di Manokwari,” jelas Martin.

Alat pintal noken generasi kedua ini, kata dia, menggunakan listrik dengan bentuknya yang dinamis. Sehingga, mempermudah pengerajin dalam menggunakannya. Transformasi ala pintal noken yang lebih modern ini diperoleh dari pengamatan terhadap aktivitas pengerajin noken di beberapa daerah seperti Jayapura, Pania dan Timika.

Ia berharap, dengan adanya alat pemintal noken maka nilai ekonomi produk noken dari mama-mama Papua semakin bertambah.

“Dan dapat terus diwariskan oleh generasi muda di Tanah Papua.

Pihaknya, kata dia, senantiasa membuka ruang kerjasama dengan berbagai pihak di Provinsi Papua Barat baik itu pemerintah daerah maupun lembaga swasta yang memiliki konsep mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Dekranasda Papua Barat Lani Lasainggi Lakotani menuturkan, akselerasi kualitas produk UMKM di wilayah setempat membutuhkan sinergitas dengan berbagai elemen termasuk Bank Indonesia. Supaya, sektor ekonomi kreatif terus tumbuh hingga masa mendatang dan dapat menjadi penopang perekonomian daerah.

“Kami mengapresiasi kontribusi nyata Bank Indonesia dalam mendorong pengembangan UMKM di Papua Barat,” ujar Lakotani.

Ia melanjutkan, kerjasama antara Dekranasda dengan Bank Indonesia sudah lama terjalin. Dan, kerjasama itu ditindaklanjuti oleh Dekranasda di masing-masing provinsi di Indonesia. Untuk Provinsi Papua Barat, telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Bank Indonesia Papua Barat dan Dekranasda Papua Barat pada 3 Maret 2021.

“Kerjasama itu ditindaklanjuti dengan penyerahan bantuan dari Bank Indonesia kepada 11 UMKM binaan Dekranasda Papua Barat,” pungkas Lani Lakotani. (PB15)

 

*Berita ini telah diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Rabu 28 April 202

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: