Babak Baru Kasus Ujaran Rasisme di Manokwari, Ada Aku Fake

MANOKWARI – Pengungkapan kasus ujaran rasisme melalui media sosial, memasuki babak baru. Kepolisian Resor (Polres) Manokwari, menemukan ada akun facebook fake atau palsu pada handphone milik terduga pelaku berinisial AM (19). Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan barang bukti tiga handphone di laboratorium forensik Jayapura.

Kepala Polres Manokwari, AKBP Parasian Herman Gultom, mengatakan, akun palsu itu dibuat oleh terduga pelaku sekitar 25 Februari 2022. Keesokan harinya, terduga pelaku memodifikasi biodata akun palsu itu sesuai dengan biodata akun milik Echy Serme (ES) yang sebelumnya menjadi terduga pelaku.

“Tanggal 26 dini hari, terduga pelaku (AM, red) mengunggah story ujaran kebencian,  lalu screenshot,” ujar Gultom saat menggelar konferensi pers, Senin (14/3/2022) sore.

Kemudian, terduga pelaku memperlihatkan hasil screenshot kepada adiknya berinisial EM. Screenshot konten bernuansa rasisme itu disebarluaskan EM melalui akun instagram miliknya. “Nama akun instagram yang menyebarkan Enjelina 199,” tutur Kapolres.

Kini, penyidik kepolisian sedang melakukan pemeriksaan mendalam terhadap terduga pelaku AM. Untuk peningkatan status penyidikan menjadi penetapan tersangka, akan dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku (Gelar perkara). “Penahanan belum dilakukan, baru kami lakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Kapolres menegaskan, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap handphone milik ES, tidak ditemukan aktivitas login pada akun facebook asli miliknya. Dengan demikian, polisi memastikan ES bukan sebagai pelaku dalam kasus tersebut. “ES atau MLH tidak pernah login di tanggal 26 Februari 2022. Login terakhir di Bulan Januari 2022,” tegas dia. “ES tidak terbukti dan memang bukan dia yang menulis,” kata Kapolres lagi.

Ia menerangkan, antara terduga pelaku AM dan ES saling kenal. Kuat dugaan polisi, motif di balik kasus unggahan konten ujaran rasisme di medsos adalah faktor cemburu. “Perlu dicatat, kasus ini orang per orang bukan antar suku,” tegas Kapolres.

Ia menambahkan, jumlah saksi yang telah diperiksa guna mengungkap kasus ujaran rasisme sebanyak tujuh orang, dan empat orang saksi ahli yang berada di luar Provinsi Papua Barat.

Kepolisian juga sudah memfasilitasi pertemuan antara Suku Arfak sebagai korban ujaran rasisme dan Suku Anjas Yapen Serui. Kedua suku bersepakat untuk menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk melakukan pengungkapan. “Sudah dilakukan pertemuan untuk menjaga keamanan Manokwari,” jelas dia.

Sesuai kebijakan dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia, sambung Gultom, mekanisme penyelesaian perkara dapat ditempuh dengan metode restorasi justice. Upaya ini dapat dilakukan, bilamana kedua belah pihak yang berperkara mau menyelesaikan secara damai. “Mungkin akan menjadi pertimbangan kami ke depannya,” ujar Kapolres Manokwari.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari Yan Christian Warinussy, senantiasa mendukung seluruh rangkaian proses pengungkapan kasus tersebut sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). (PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: