Dugaan Korupsi Huntara Susweni Dipastikan akan ke Pengadilan

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Manokwari memastikan, bahwa kasus dugaan korupsi dalam proyek pembangunan Hunian Sementara (Huntara) di Susweni Distrik Manokwari Timur Kabupaten Manokwari, tahun 2016 senilai Rp5 miliar, bakal sampai ke meja hijau Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Papua Barat.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Manokwari I Made Pasek Budiawan mengatakan, kasus dugaan korupsi tersebut tak akan tenggelam, dan pasti sampai ke persidangan. Apalagi sejauh ini, pihaknya telah memeriksa 20 orang saksi. Faktanya, kini penyidik masih fokus pada perhitungan kerugian negara.

“Kasus Huntara Susweni pasti dituntaskan. Tunggu saja, perhitungan kerugian negara masih dalam pendalaman, dan jika sudah selesai, maka tak perlu menunggu lama, tersangkanya pasti langsung kita ekspose,” kata Pasek saat ditemui Papua Barat News diruang kerjanya, belum lama ini.

Dijelaskannya, diantara sejumlah saksi yang telah diperiksa, ialah seorang pengusaha jasa konstruksi berinisial YF. Walau dalam praktiknya pembangunan Huntara dikerjakan lebih dari satu kontraktor, namun dalam kasus ini YF memiliki peran ganda. Selain menandatangani dokumen kontrak, YF juga berperan sebagai penyedia jasa sekaligus kontraktor pelaksana.

“Dalam pekerjaan proyek itu sebenarnya banyak melibatkan kontraktor, namun YF secara tunggal bertindak sebagai orang yang menandatangani dokumen kontrak. Status YF sampai saat ini masih sebagai saksi,” kata Pasek.

Berdasarkan penyelidikan dan penyidikan Kejaksaan, sesuai DPA – APBD Tahun Anggaran 2016 pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manokwari, pembangunan Huntara harusnya dikerjakan oleh satu pihak saja. Namun dalam praktiknya, pembangunan Huntara melibatkan 11 kontraktor dengan klasifikasi pekerjaan yang berbeda-beda.

Pemerintah Daerah melalui BPBD Manokwari berinisiatif mendirikan Huntara dikarenakan pemukiman warga di Kompleks Borobudur Distrik Manokwari Barat, rusak berantakan akibat kebakaran dahsyat pada 16 Juni 2016 silam.

Kebakaran tersebut mengakibatkan puluhan kepala keluarga serta ratusan remaja dan anak-anak harus kehilangan tempat tinggal. Meski tak ada korban jiwa, namun kerugian materil ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Alhasil, pemerintah pun mengambil kebijakan membangun Huntara bagi para korban. Ironisnya, Huntara yang bangunannya terdiri dari 20 ruang, satu unit dapur umum dan satu unit tempat penyimpanan Bahan Makanan (Bama), hingga kini masih terbengkalai. (PB13)

**Berita ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News edisi Senin 11 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: