Dugaan Korupsi Septic Tank, Kejati Terima Banyak Laporan Fiktif

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Tim penyidik dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua Barat, Jumat (2/10/2020) pekan lalu, menemukan sejumlah fakta fiktif di lapangan usai melakukan pemeriksaan terhadap enam orang saksi terkait kasus dugaan korupsi pengadaan Septic Tank Individual, tahun anggaran 2018 senilai Rp7,062 miliar di Kabupaten Raja Ampat.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi Papua Barat Syafiruddin melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Billy Wuisan, mengatakan, penelusuran atas laporan pertanggung jawaban fiktif dalam proyek tersebut dilakukan berdasarkan kesaksian para saksi, mereka itu terdiri dari tukang, penerima bantuan, pemilik toko dan oknum pejabat.

“Pemeriksaan terhadap para saksi itu berlangsung sejak pagi hingga sore hari di Polres Raja Ampat. Hasilnya, ternyata benar bahwa ada laporan pertanggung jawaban fiktif yang dilakukan dalam proyek tersebut,” kata Wuisan saat dikonfirmasi Papua Barat News, Minggu (4/10/2020) via phonsel.

Ia menjelaskan, dua orang tukang mengaku dilibatkan dalam proyek tersebut karena mendapat perintah langsung dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).  Padahal, proyek seharusnya dikerjakan oleh masyarakat secara swakelola melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Sementara, dua orang penerima barang yang diperiksa, mengaku tidak pernah menerima bantuan barang berupa Septic Tank Individual dari pemerintah. Meski nama mereka tercantum dalam daftar penerima.

Kemudian, lanjut Wuisan, ada seorang saksi dari Toko Sinar Waigeo di Distrik Waisai Kota yang tak mengakui nota cap stempel dalam progress pekerjaan proyek tersebut. Sebab, saksi ini mengingat sama sekali tidak pernah membelanjakan atau barang di toko bangunannya ada yang dibeli untuk proyek Septic Tank.

Selain itu, ada seorang oknum Lurah dari Distrik Waisai Kota yang mengaku tidak tahu kalau ada warganya yang mendapat bantuan Septic Tank. Sebab, ia tak pernah mengusulkan nama-nama penerima karena tidak pernah dilibatkan.

“Sampai disini penelusuran tim penyidik. Berikutnya masih ada satu orang saksi lagi yang akan diperiksa, yaitu pihak pabrik yang membuat Septic Tank di Surabaya. Kami akan lalukan pemanggilan terhadap yang bersangkutan,” ujar Wuisan.

Sebagai informasi, anggaran dalam proyek pembangunan Septic Tank Individual itu, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBD Raja Ampat tahun anggaran 2018, senilai Rp7,062 miliar.

Pengadaan Tangki Septic Tank sebanyak 223 unit diketahui dibagi ke tiga lokasi wilayah di Raja Ampat. Masing-masing di Kota Waisai 100 unit, Waigeo Selatan 50 unit dan Misool Timur sebanyak 73 unit, dengan total anggaran mencapai Rp7,062 miliar.

Diketahui, pengadaan tersebut telah dicairkan 100 persen dan dibagikan ke masyarakat. Namun pada kenyataanya, sampai saat ini masih banyak yang belum terpasang dan banyak pula yang terpasang tetapi tak dapat digunakan.

Berdasarkan hasil audit investigasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Papua Barat, terbengkalainya proyek tersebut mengakibatkan negara yang dalam hal ini ialah Pemerintah Raja Ampat mengalami kerugian sebanyak Rp4,112 miliar.(PB13)

**Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 5 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: