Hakim Periksa Tiga Saksi Kasus Pembunuhan Brimob

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Majelis hakim Pengadilan Negeri Manokwari memeriksa tiga orang saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan pembunuhan anggota Brimobda Papua Barat, Briptu Anumerta Mesak Viktor Pulung, Jumat (18/9/2020). Kasus ini menyeret Frans Aisnak dan Pontius Wakom, sebagai terdakwa.

Dalam sidang lanjutan yang diketuai oleh Ketua Majelis Hakim Sonny A.B Laoemoery itu, Jaksa Penuntut umum Kejaksaan Negeri Bintuni Pieter Louw menghadirkan dua karyawan PT. Wana Galang Utama (WGU), yakni Alfian Luihala dan Gerson Lesilolo, serta salah satu anggota Brimob Teluk Bintuni bernama Frengky Lumban Toruan.

Pada keterangannya, saksi Frengky Lumban Toruan menegaskan, bahwa pengamanan dilakukan atas permintaan pihak PT. WGU sendiri, meski situasi disekitar perusahaan tersebut selalu kondusif. Namun atas permintaan itu, Brimob Teluk Bintuni menugaskan dua personel, yakni Briptu Anumerta Mesak Viktor Pulung dan Briptu Anumerta Mochtar Sangaji.

Menurut saksi Frengky Lumban Toruan, dikarenakan situasi yang selalu kondusif menyebabkan korban Briptu Anumerta Mesak Viktor Pulung dibekali senjata jenis AK – 101 dengan nomor seri 01118-3745 beserta peluru yang terdiri dari tiga megasen.

“Tiga megasen itu terdiri dari satu megasen dalam bentuk Prosedur Tetap (Protap) berisi 17 butir peluru karet dan tiga peluru hampa. Sedangkan dua megasen lainnya berisi 60 butir peluru tajam,” kata saksi Toruan dalam keterangannya dihadapan majelis hakim.

Sementara, saksi Alfian Luihala pada keterangannya, hanya mengetahui tentang kabar meninggalnya anggota Brimob tersebut karena diberitahu oleh rekannya sesama karyawan PT. WGU bernama Ir. Freddy Serang, pada tengah malam tanggal 15 April 2020 sekitar Pukul 02:00 WIT.

Saat itu, Saksi Alfian langsung mendatangi tempat kejadian perkara, yakni kamar korban dan melihat korban sedang dalam posisi tengkurap dengan banyak darah. Namun, saksi ini tidak mengetahui siapa yang melakukan pembunuhan itu. Pada saat kejadian pun ia tidak melihat terdakwa Frans Aisnak dan terdakwa Pontius Wakom di sekitar lokasi kejadian.

Kesaksian berbeda diberikan oleh Gerson Lesilolo, pada keterangannya, saksi mengaku kaget dan tak percaya saat mendengar kabar Frans Aisnak ditangkap karena terlibat dalam pembunuhan tersebut. Sebab, menurutnya, Frans Asinak adalah orang yang baik, positif dan berkekurangan.

Ia mengenal terdakwa Frans Aisnak sebagai pemilik hak ulayat yang menjadi konsesi dan lokasi basecamp PT. WGU beroperasi. Setiap harinya, terdakwa Frans Aisnak berlatih mengendarai kendaraan alat berat. Dan karena dia adalah pemilik hak ulayat, maka oleh perusahaan diberikan sebuah kamar di basecamp.

Kendati demikian, saksi Gerson mengaku saat kejadian pembunuhan tersebut beredar, ia sedang berada di kota besar Bintuni, jarak antara PT. WGU dan Bintuni sejauh empat jam perjalanan jika menggunakan loang boat dan enam jam jika melewati jalur darat.

Saksi Gerson pun menerangkan, bahwa PT. WGU sebagai perusahaan yang bergerak di sektor penebangan kayu telah beroperasi di Moskona Barat sejak tahun 2006 hingga 2012. Ijin operasi kemudian diperpanjang dari tahun 2018 hingga sekarang.

Baik saksi Lumban Toruan maupun saksi Gerson Sama sekali tidak mengetahui siapa pelaku pembunuhan terhadap korban. Saksi Gerson menambahkan bahwa dia sama sekali tidak mengenal terdakwa Pontius Wakom dan tidak pernah melihat terdakwa datang ke lokasi basecamp PT. WGU.

Ketua majelis hakim kemudian menunda persidangan, dan akan dilanjutkan kembali pada  Kamis mendatang. Masih dengan agenda yang sama, yakni mendengar keterangan saksi lainnya dari Jaksa Penuntut umum Kejaksaan Negeri Bintuni. (PB13)

***Artikel ini Telah Terbit di Harian Papua Barat News Edisi Senin 21 September 2020

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: