POLITIK & HUKUM

Jurnalis Manokwari Tuntut Remisi Pembunuh Wartawan Dicabut

[Berita ini juga terbit di harian Papua Barat News edisi Kamis 31 Januari 2018]

MANOKWARI, PB News – Pemberian remisi untuk terpidana hukuman penjara seumur hidup, I Nyoman Susrama, yang menjadi otak intelektual pembunuhan jurnalis Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, dinilai sebagai langkah mundur kemerdekaan pers di Indonesia.

Dengan demikian, aksi unjuk rasa dari Solidaritas Jurnalis Manokwari yang diselenggarakan di halaman Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Provinsi Papua Barat, Rabu (30/1/2019), bertujuan untuk menuntut Presiden Republik Indonesia Joko Widodo segera membatalkan pemberian remisi yang dikeluarkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 29 Tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup menjadi Pidana Sementara pada 7 Desember 2018.

Koordinator Lapangan (Korlap) Solidaritas Jurnalis Manokwari, Adlu Raharusun, mengatakan, remisi yang diberikan kepada I Nyoman Susrama menggambarkan pemerintah telah mengabaikan amanat dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Negara semestinya memberikan perlindungan hukum terhadap seluruh aktivitas jurnalistik dalam mendorong roda pemerintahan yang bersih dari tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun, dengan adanya remisi negara telah mengkerdilkan kemerdekaan pers.

“Remisi yang dikeluarkan bapak Presiden Jokowi sudah melukai hati insan pers di seluruh Indonesia. Ini langkah mundur kebebasan pers di Indonesia, karena pembunuh jurnalis dihukum 20 tahun setelah dapat remisi itu,” ujarnya.

Dia melanjutkan, ada sejumlah kasus intimidasi terhadap wartawan terkait pemberitaan tidak diselesaikan dengan maksimal. Pemberian remisi yang tidak melibatkan Dewan Pers, menjadi ancaman atas keselamatan nyawa wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya di lapangan.

“Banyak kasus yang menimpa rekan-rekan seprofesi tidak tuntas dalam penangan hukumnya,” terang Adlu.

Kontributor Radio Elshinta, Razid Fatahudin, menuturkan, jika pemerintah terus mengabaikan persoalan kekerasan terhadap kerja jurnalistik maka seluruh insan pers tidak akan pernah diam, karena upaya mendorong kebebasan pers terus digelorakan di seluruh Indonesia sekalipun harus melewati proses panjang yang melelahkan. Pemberian remisi kepada otak pembunuh jurnalis Radar Bali menjadi bentuk nyata negara telah melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Kemerdekaan pers ini sangat penting, karena pers berada di urutan keempat pilar demokrasi,” ujar dia.

Sementara itu, Kontributor Sorong Raya di Manokwari, Kris Tanjung, menegaskan, dalam iklim kebebasan pers semestinya jurnalis mendapat perlindungan hukum yang maksimal karena pemberitaan jurnalistik mampu mendorong perubahan. Dan, kebebasan pers menjadi tolak ukur kualitas demokrasi di sebuah negara.

Aksi yang dilakukan merupakan bentuk solidaritas atas apa yang telah menimpa wartawan Radar Bali.

 

Menteri Yasona Takut Temui Wartawan

Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly yang sedang melakukan kunjungan kerja di Manokwari disambut aksi unjuk rasa dari insan pers.

Aksi yang digelar hampir sekitar dua jam itu, menuntut Menteri Yasona dapat menemui dan beraudiens dengan wartawan terkait adanya pemberian remisi tersebut.

“Kami minta pak menteris datang temui kami dan berikan alasan meloloskan remisi kepada pembunuh rekan jurnalis kami,” seru Aris Balubun wartawan koran Papua Barat Pos.

Pihak Kanwil Kemenkumah Papua Barat sempat melakukan negosiasi agar para wartawan menghentikan aksinya karena akan diberikan waktu usai agenda Menteri Yasona di Kantor Gubernur Papua Barat, akan tetapi Solidaritas Jurnalis Manokwari menolak dan terus melanjutkan aksi mereka di halaman kantor Kanwil Kemenkumham Papua Barat.

Sayangnya, Menteri Yasona memilih kabur dari aksi wartawan melalui pintu belakang Kanwil Kemenkumham yang selanjutnya menuju tumpangan ke arah kantor gubernur.

“Teman-teman pak menteri keluar lewat pintu belakang langsung masuk ke dalam mobil,” ujar Aris.

Sebagai informasi, kasus pembunuhan terhadap jurnalis Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa terjadi pada 2009, setelah membongkar kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan. Mayat Prabangsa ditemukan di laut Padangbai, Klungkung, pada 16 Februari 2009 dalam kondisi mengenaskan. Dan,  I Nyoman Susrama sebagai otak pembunuhan berencana kepada Jurnalis Radar Bali.(PB15/PB8/PB9/PB14)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.