Ketahanan Keluarga Jadi Benteng Cegah Radikalisme

MANOKWARI, papuabaratnews.co – Ketahanan keluarga menjadi wahana utama yang membentengi generasi muda dari pengaruh radikalisme dan aksi terorisme.

Anggota DPR Papua Barat Adriana Leonora Nalle mengatakan, pembentukan mental dan karakter anak harus dilakukan sedini mungkin dari lingkungan keluarga.

Selain itu, interaksi sosial anak di sekitar lingkungan tempat tinggal pun harus dipantau.

“Penolakan radikalisme ini dimulai dari dalam keluarga dulu. Perlu didikan dari keluarga, bukan penolakan tapi tidak dibimbing,” kata Adriana saat dikonfirmasi awak media, Rabu 14 April 2021.

Menurut dia, bimbingan kerohanian menjadi salah satu langkah positif bagi tumbuh kembang anak di masa mendatang. Upaya itu tentu harus dilakukan secara rutin dan konsisten oleh orang tua ketika anak berada di rumah.

“Kalau tidak ada bimbingan tentu anak-anak mudah jatuh ke hal-hal buruk. Karena, anak-anak punya waktu di luar rumah itu lebih banyak,” jelas Adriana.

Selain bimbingan rohani, sambung Adriana, orang tua juga perlu mengajarkan kepada anak-anak soal tata krama dan sopan santun.

Sehingga, anak-anak mampu mengaplikasikan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekarang ini banyak anak-anak sudah tidak menghargai orang tua, selalu berontak dan tidak mau turuti nasihat orang tua,” tutur Adriana Nalle.

Ia menilai, terkontaminasinya anak-anak dengan minuman keras dan narkoba menggambarkan lemahnya pengawasan orang tua. Sebab, generasi muda sangat rentan dan mudah terpapar ideologi radikal.

“Orang tau harus tahu anaknya keluar ke mana,” tutur dia.

Adriana melanjutkan, antisipasi penyebaran paham radikalisme juga membutuhkan komitmen lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi.

Ketika anak-anak berada di sekolah atau kampus maka tenaga pendidik memiliki peran pengawasan terhadap aktivitas anak-anak.

“Lembaga keagamaan juga miliki peran sangat penting dalam membina mental anak-anak,” tutur dia.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Papua (PGGP) Provinsi Papua Barat Pendeta Sherly Parinussa menegaskan, pihaknya menolak seluruh bentuk ideologi radikalisme dan terorisme. Sebab, paham tersebut menjadi ancaman terhadap harmonisasi kehidupan bangsa Indonesia.

“Kita menyadari radikalisme jadi tantangan Indonesia sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai suku, ras dan agama,” ujar Sherly.

Ia menilai, masuknya ideologi radikalisme ke sebuah daerah dipengaruhi adanya celah kosong. Paham radikalisme dan terorisme itu berasal dari luar Indonesia, tujuannya merusak kemajemukan bangsa.

Untuk itu, aparat keamanan baik TNI maupun Polri harus mampu mendeteksi sedini mungkin masuknya paham tersebut ke Provinsi Papua Barat.”Tindak tegas semua yang terlibat,” ujar dia.

Ia menuturkan, peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Makassar beberapa pekan lalu, menandakan ada warga telah dirasuki oleh paham radikal. Hal ini memberi signal antisipasi oleh seluruh daerah dalam menjaga keutuhan wilayah. Kolaborasi lintas agama, pemerintah daerah dan aparat penegak hukum perlu dioptimalkan. Tujuannya untuk menutup potensi penyebaran paham radikalisme dan terorisme di Provinsi Papua Barat. (PB15)

 

**Artikel ini Telah Diterbitkan di Harian Papua Barat News Edisi Kamis 15 April 2021

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: