Lintas PapuaPOLITIK & HUKUM

Polisi Diversi Satu Tersangka Ujaran Kebencian via Facebook

MANOKWARI – Kepolisian Resor (Polres) Manokwari akan melakukan diversi terhadap satu tersangka kasus ujaran kebencian melalui akun facebook fake, berinisial EM (16). Sebab, tersangka EM masih di bawah umur. Sedangkan tersangka lainnya yakni AM (19), tetap menjalani proses hukum selanjutnya.

Penyelesaian perkara di luar jalur pidana bagi anak di bawah umur, diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

“Iya, satu tersangka itu anak di bawah umur,” ucap Kepala Polres Manokwari AKBP Parasian Herman Gultom, saat dikonfirmasi usai mengikuti peresmian Elektronik Traffic Law Enforcement (ETLE), Sabtu (26/3/2022).

Sebelum diversi, Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satuan Reserse Kriminal terlebih dahulu mempertemukan keluarga korban dan tersangka di ruangan Restoratif Justice, pada Jumat (25/3/2022) siang, pekan lalu. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat menempuh jalur damai untuk tersangka yang masih di bawah umur.

Tidak menutup kemungkinan, tersangka AM juga bisa lolos dari tuntutan hukum jika korban ataupun keluarga korban mau mencabut laporan atas kasus pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Kalau keluarga ataupun dari korban mau cabut laporan, baru kita bisa ada pertimbangkan,” ujar Gultom.

Terpisah, Advokat Thresje Juliantty Gasperzs selaku kuasa hukum dari korban ES, menerangkan, berita acara diversi sudah ditandatangani setelah kliennya mau memaafkan perbuatan tersangka EM. Upaya mediasi untuk mencapai diversi melibatkan sejumlah pihak selain keluarga korban dan tersangka. Seperti, pihak Badan Pemasyarakatan, Dinas Sosial, dan kuasa hukum para pihak.

“Korban telah menerima untuk berdamai dengan tersangka (EM, red),” jelas Juliantty.

Ia melanjutkan, keluarga korban tetap menempuh jalur hukum bagi tersangka AM yang telah berusia di atas 18 tahun. Proses hukum selanjutnya, merupakan kewenangan kepolisian.

“Keluarga korban mau tetap diteruskan sesuai prosedur yang berlaku,” tegas dia.

Selain diversi, rencananya kedua belah pihak juga akan menyelesaikan secara adat.

“Senin rencananya, para pihak yang diundang juga akan hadir,” pungkas dia.

Perlu diketahui bahwa, korban ES awalnya diduga yang mengunggah postingan bernuansa rasisme dan kebencian terhadap salah satu suku asli di Papua Barat, melalui akun facebook.

Postingan itu dicapture oleh AM dan disebarluaskan EM. Hal itu menimbulkan kemarahan dari suku yang dimaksud dalam postingan tersebut.

Polres Manokwari kemudian bergerak cepat mengamankan ES, yang ketika itu berada di Waropen, Provinsi Papua.

Selanjutnya, polisi melakukan pemeriksaan empat orang saksi ahli dan tiga handphone milik ES, AM dan EM.

Hasil pemeriksaan alat bukti handphone di Laboratorium Forensik Jayapura, ditemukan ada akun facebook palsu pada handphone milik AM.

Berdasarkan keseluruhan hasil pemeriksaan tersebut, polisi akhirnya menetapkan AM dan EM sebagai tersangka baru dalam kasus ujaran kebencian. Terduga ES pun dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari tuduhan awal. (PB15)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.