Absurditas Bantuan Tunai Minyak Goreng

SEKITAR sebulan lebih drama minyak goreng berlangsung dan Menteri Perdagangan berusaha tampil seheroik mungkin sepanjang rentang waktu kebijakan harga eceran tertinggi diberlakukan. Masyarakat tampaknya nyaris percaya bahwa pilihan peristiwa yang akan terjadi di hari esok terkait dengan minyak goreng hanya dua: harga minyak goreng segera stabil dan para mafia minyak goreng secepatnya berurusan dengan pihak yang berwenang.

Tapi tunggu dulu. Faktanya tidaklah demikian. Rentetan peristiwanya ternyata menyerupai drama Korea. Arahnya tak bisa ditebak berdasarkan analisis verbal atas ocehan para menteri ataupun pejabat. Pasalnya, menjelang pengujung cerita, sang menteri, yang sebelumnya sesumbar akan melakukan “ini-itu” dan akan “begini-begitu” untuk menormalkan harga minyak goreng, justru berubah menjadi pesakitan yang mengaku tak bertenaga lagi berhadapan dengan mafia minyak goreng. Mafia minyak goreng? Ya, setidaknya demikian pernyataan sang menteri di hadapan anggota DPR.

Namun, selama belum ada para mafia yang didakwa, selama itu pula publik berhak ragu akan kredibilitas dan kapabilitas sang menteri. Yang jelas, pengakuan soal mafia tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan harga eceran tertinggi minyak goreng atau kebijakan intervensi harga minyak goreng telah gagal total. Upaya pemerintah, dengan segala arogansi dan sesumbar sang Menteri Perdagangan, untuk menstabilkan harga jual minyak goreng dan mengamankan pasokannya berakhir tidak dramatis, yakni dengan menyebutkan kambing hitam.

Isu mafia minyak goreng dilemparkan ke dalam kuali politik yang berisi minyak goreng mendidih, lalu digoreng di ruang publik sejadi-jadinya. Dan hasilnya sampai hari ini masih nihil karena memang bukan itu perkara utamanya. Justru kegagalan pemerintah membenahi ekosistem dan tata kelola minyak goreng nasional adalah penyebab utamanya.

Pemerintah kemudian menyikapi kegagalan intervensi harga minyak goreng dengan intervensi lainnya, yakni bantuan langsung tunai untuk minyak goreng. Kebijakan berjenis conditional cash transfer tersebut digadang-gadang sebagai senjata baru untuk berhadapan dengan harga minyak goreng yang tak kunjung pulih.

Masalahnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa conditional cash transfer atau bantuan langsung tunai tidak berkorelasi dengan peningkatan taraf hidup masyarakat, sering kali kurang tepat sasaran, dan sangat rentan dari aksi garong para koruptor. Masih ingat kan dana bantuan sosial yang disosor Menteri Sosial beberapa waktu lalu?

Selain itu, bantuan langsung tunai justru bertentangan dengan jurus kambing hitam pemerintah tempo hari. Jika memang ada mafia minyak goreng, walaupun faktanya belum ada mafia yang dibawa ke pengadilan, dana bantuan langsung tunai untuk 20 jutaan masyarakat plus 2,5 juta pedagang gorengan malah akan pindah ke saku mafia minyak goreng tersebut melalui mekanisme harga pasar.

Aneh, kan? Pemerintah menyalahkan mafia. Tapi, dengan bantuan langsung tunai, pemerintah malah memanjakan mafia yang telah dituduh memainkan harga selama ini. Namanya saja bantuan langsung tunai minyak goreng. Gunanya pastinya untuk mensubstitusi kelebihan bayar masyarakat atas harga minyak goreng yang mahal.

Dengan kata lain, bantuan langsung tunai merupakan jurus halus pemerintah untuk menyenangkan para mafia minyak goreng yang digadang-gadang Menteri Perdagangan sebagai biang kerok kenaikan harga dan kelangkaan pasokan selama ini. Bukankah kebijakan itu menjadi sangat absurd dan kontradiktif?

Boleh jadi sebagian besar masyarakat penerima bantuan langsung tunai tak menyadari atau merasa bahwa bantuan itu merupakan berkah Ramadan. Faktanya, jauh hari sebelum bantuan langsung tunai minyak goreng ditetapkan, daya beli masyarakat sudah tergerus beberapa ribu perak dari setiap kilogram pembelian minyak goreng.

Artinya, bantuan langsung tunai tidak berarti memulihkan daya beli masyarakat atas minyak goreng. Tiga bulan bantuan langsung tunai minyak goreng tak akan cukup untuk mensubstitusi pengikisan daya beli masyarakat atas minyak goreng yang sudah berlangsung sejak beberapa bulan menjelang akhir 2021. Dan, itu sangat tidak cukup untuk menghadapi potensi pengikisan daya beli lebih lanjut dari kemungkinan situasi normal baru minyak goreng pada bulan-bulan mendatang jika harga tak turun-turun.

Lantas, mengapa pemerintah memilih bantuan langsung tunai? Apakah pemerintah memang ingin menolong rakyat? Boleh jadi narasinya demikian. Tapi, secara teoretis, bantuan langsung tunai minyak goreng (tiga bulan) hanya akan menyelamatkan performa matematis perekonomian nasional kuartal pertama dan kedua tahun ini, yakni mempertahankan data kontribusi konsumsi rumah tangga pada pendapatan domestik bruto nasional agar terdapat keberlanjutan dengan performa ekonomi kuartal keempat (akhir) tahun lalu yang digadang-gadang sudah membaik.

Dengan kata lain, pemerintah hanya ingin menyelamatkan muka, terutama di mata para anggota G20 dan para kreditor plus calon kreditor yang akan melahap surat utang pemerintah. Sementara itu, saya yakin masyarakat hampir bisa dipastikan akan pesimistis atas angka bantuan langsung tunai minyak goreng sebesar Rp 300 ribu tersebut jika bantuan itu dimaksudkan sebagai obat untuk keluar dari kesulitan ekonomi.

Namun masyarakat tentu saja akan sangat terhibur menerimanya, meskipun akan dikembalikan lagi kepada para mafia minyak goreng versi pemerintah tersebut melalui mekanisme harga pasar yang tinggi. Lantas, apakah masalah selesai? Boleh jadi iya karena masyarakat akhirnya terhibur oleh uang tunai Rp 300 ribu, lalu para mafia jadi-jadian versi Menteri Perdagangan tetap mendapat cuan dari harga pasar. Semuanya senang, kan?

Apakah kebijakan itu berhasil mengatasi tingginya harga minyak goreng? Jelas tidak. Kebijakan bantuan langsung tunai minyak goreng justru membuat peta besar kebijakan minyak goreng nasional menjadi semakin absurd dan sulit dikelola. (*)

 

Ronny P. Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: