Wacana

Afirmasi Pendidikan Mendorong Inovasi

UBAH cara pandang dan struktur organisasi. Itu salah satu kunci perbaikan mutu pendidikan menurut Mitchel Resnick. Profesor LEGO Papert bidang riset pembelajaran di Media Lab MIT (Massachussetts Institute of Technology), Amerika Serikat, itu mengemukakan keprihatinannya pada situasi pendidikan sesudah pandemi Covid-19 menerpa sejak awal 2020.

Pendidikan terancam mengalami kemandekan dan kehilangan kepercayaan publik yang serius. Dua kendala yang menurut dia akan dihadapi setiap ikhtiar untuk memajukan pendidikan, yaitu pergeseran pikiran orang dan pergeseran struktur organisasi.

Dalam sebuah diskusi daring pada 21 April lalu—di tengah suasana Idul Fitri di Tanah Air—dengan tema ”Playing with ideas: Cultivating student creativity, innovation and learning in schools” yang diselenggarakan oleh OECD di Paris, Perancis, Mitchel menyatakan, dua kendala tersebut akan berubah dari waktu ke waktu, kita harus siap mencari solusi secara terus-menerus. Ibarat legenda Sysiphus, manusia harus mendorong batu ke puncak bukit yang kelak akan menggelinding ke lembah lagi, lalu kembali mendorongnya ke puncak. Never ending efforts.

Bagaimana cara mengatasi dua kendala besar tersebut di tengah kemajuan teknologi informasi saat ini?

Ki Hadjar Dewantara pernah menjalankan ikhtiarnya mengatasi persoalan cara pandang (mindset) dan struktur organisasi itu. Dia menerobos kemandekan institusi persekolahan dengan menciptakan Taman Siswa dan sekaligus menciptakan metode belajar yang menggambarkan proses pembelajaran adalah seperti berjalan di taman, menyenangkan dan membebaskan. Ini seperti menggabungkan pemikiran Jalalludin Rumi, Paulo Freire, dan Jean Jacques Rousseau.

Ki Hadjar menjadi figur nasional bangsa kita yang penting di sektor pendidikan karena keberaniannya mengusulkan konsep baru dalam mendidik anak-anak bangsa. Di tengah pengaruh konsep pendidikan ala Belanda yang cenderung merendahkan kaum pribumi yang miskin dan terjajah, beliau tergerak untuk memunculkan ide alternatif: menjadikan anak didik sebagai pusat dalam proses pembelajaran yang menggembirakan.

Ancaman baru

Belanda sudah lama hengkang dari Indonesia. Kini, kita sudah menjadi tuan di negeri sendiri dalam mengelola pendidikan. Kenapa kita tidak juga melihat ukuran kinerja yang membanggakan? Peringkat Indonesia di PISA dan berbagai tes tingkat internasional tidak juga beranjak naik.

Kita bahkan melihat negeri tetangga seperti Vietnam dan Thailand merangkak naik menyalip Indonesia, sementara Singapura kokoh bertengger di puncak klasemen. Untung tidak ada sistem liga sehingga kita tidak terancam terdegradasi ke liga di bawahnya.

Pendidikan bukan kompetisi sepak bola, tentu saja. Skor dan peringkat sebenarnya memberikan acuan buat mereka yang berpandangan empiris positivis dalam mengukur baik-buruk atau berhasil-gagal dalam mengukur berbagai sistem pendidikan yang ada di dunia ini. Mereka yang berpandangan rasional dan non-positivis tentu ingin menonjolkan keunikan setiap sistem pendidikan yang perlu dilihat secara keseluruhan dan lintas sejarahnya.

Belanda memang bukan ancaman lagi, tetapi ada ancaman lain yang tak kalah berat, yaitu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Betapa mengenaskan kalau kita melihat anak-anak didik kita masih terbata-bata dalam memahami buku bacaan, bingung dalam berhitung, dan tidak bernas dalam mengekspresikan pikirannya dalam lisan dan tulisan.

Belum lagi soal rendahnya literasi keuangan sehingga banyak anak muda milenial dan generasi Z yang terjebak pinjaman daring (pinjol), investasi bodong, dan dukun penggandaan uang. Belum selesai masalah itu, ke depan kita akan menghadapi serbuan sistem kecerdasan buatan yang akan menjungkirbalikkan cara kita belajar dan mengajar selama ini.

Seperti yang disampaikan Mitchel di atas, tidak cukup kita hanya mengutak-atik kurikulum, rencana pembelajaran, dan sarana-prasarana sekolah. Yang perlu diubah itu cara pandang semua pihak, mulai dari politisi, birokrat, rektor, kepala sekolah, guru, dan dosen dalam memandang masalah saat ini dan solusinya. Yang perlu diubah juga adalah struktur organisasi yang melingkupi kelembagaan pemerintah di pusat dan daerah, sampai ke kampus dan sekolah agar perubahan cara pandang tadi dapat terjadi dan berkelanjutan.

Apa cara pandang yang perlu diubah? Pertama, pengabaian terhadap pendidikan keluarga. Kedua, pengembangan profesi pendidik yang tidak berkelanjutan. Ketiga, anggapan iptek sebagai pengganggu proses pembelajaran. Keempat, mutu ditentukan oleh anggaran yang tersedia. Kelima, minimnya kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan.

Apa struktur organisasi yang perlu diubah? Pertama, tersebarnya anggaran dan urusan pendidikan di berbagai kementerian/lembaga. Kedua, sistem administrasi dan birokrasi yang tidak cerdas dan terpadu. Misalnya, pendidik yang terus-menerus diminta dokumen yang sama setiap tahun. Ketiga, lembaga pengembangan profesi pendidik yang stagnan. Keempat, naiknya kuantitas lembaga pendidikan yang mengorbankan kualitas. Kelima, lembaga pendidikan dan pelatihan calon pendidik yang tidak progresif. Sistem pendidikan memerlukan perbaikan yang berkelanjutan.

Pergeseran cara pandang dan struktur organisasi pertama yang perlu diubah adalah pengabaian terhadap pendidikan keluarga. Dalam riset terbaru (Februari 2023), ada temuan menarik, antara lain pendidikan keluarga (parental education) mengurangi kesenjangan dalam kemampuan melakukan inovasi antara anak didik dari keluarga miskin dan keluarga kaya.

Studi yang membandingkan sistem pendidikan Finlandia dan Amerika Serikat itu mengamati 1,45 juta anak didik dan orangtuanya dengan membandingkan data ekonomi tahun 1930 dan 1980. Latar belakang pendidikan orangtua, misalnya lulusan S-2, menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam membuat anak didik siap melakukan inovasi (Philippe Aghion, Ufuk Akcigit, Ari Hyytinen, and Otto Toivanen, 2023). Studi ini juga menyarankan program-program afirmasi untuk mencegah hilangnya bakat terpendam yang mungkin datang dari kalangan anak-anak keluarga miskin sehingga mengklaim: ”kurangi hilangnya calon Einstein dan Marry Curie”.

Di era kecerdasan buatan saat ini, kemampuan inovasi menjadi sangat penting dan strategis buat bangsa Indonesia. Kita harus mengerahkan semua sumber daya dan manusia dari semua kalangan sosial ekonomi untuk bersaing secara global.

Pendidikan keluarga ternyata mendorong kesetaraan kemampuan inovasi antara anak didik dari keluarga miskin dan kaya, sedangkan sejak 2019, Kemendikbudristek justru ”melebur” pendidikan keluarga ke dalam Ditjen Pendidikan Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Dari kasus ini, kita dapat melihat rekomendasi Mitchel Resnick dalam kaitan perubahan cara pandang dan perubahan struktur organisasi yang penting dipikirkan lagi dalam mengelola pendidikan kita agar tetap berderap maju di tengah perubahan besar saat ini. (*)

 

Totok Amin Soefijanto, Pendidik dan Peneliti Kebijakan Publik di Universitas Paramadina, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.